Frensia.id – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, kembali memperkuat ekosistem akademik mahasiswa, saat Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) di Hotel Kalibaru Cottage, pada tanggal 28 hingga 30 April 2026.
Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama FTIK UIN KHAS Jember, Rif’an Humaidi, mengatakan bahwa dalam menunjang belajar mahasiswa, perlu dibangun lingkungan yang produktif, nyaman dan berdaya saing tinggi.
“Melalui pembinaan bakat dan minat yang terstruktur, membangun ruang-ruang diskusi, komunitas studi, penguatan jurnal mahasiswa, serta membentuk wadah layanan perlindungan mahasiswa dari kekerasan,” kata Rif’an.
Rif’an menyampaikan penguatan ekosistem dapat dimulai dengan pengembangan bakat dan minat dari mahasiswa.
Sebab, kata dia, bakat dan minat mahasiswa merupakan bagian dari pembentukan karakter dan peningkatan prestasi di fakultas.
“Dengan program yang terarah, mahasiswa memiliki ruang untuk mengembangkan potensi non-akademik sesuai minat masing-masing,” tuturnya.
Menurut Rifa’an, adanya program tersebut juga membentuk mahasiswa bersikap adaptif, kreatif, dan siap berkontribusi untuk kampus dan masyarakat.
Adapun langkah selanjutnya, kata dia, yang tidak kalah penting adalah dibentuknya wadah komunitas studi di lingkungan fakultas.
“Fungsinya sebagai ruang kolaborasi akademik lintas disiplin. Komunitas ini menjadi tempat bertumbuhnya diskusi ilmiah, pendalaman keilmuan, dan penguatan budaya akademik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rif’an menuturkan bahwa ekosistem yang baik perlu didukung dengan revitalisasi pengelolaan jurnal dari mahasiswa.
Langkah ini, kata dia, bisa menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan tradisi menulis ilmiah, publikasi, dan penyebarluasan gagasan akademik.
“Membuka ruang bagi lahirnya karya-karya ilmiah yang kompetitif,” tuturnya.
Meskipun demikian, Rif’an juga mendorong bahwa penguatan akademik perlu ditingkatkan dengan adanya fasilitas ruang aman, sehingga mahasiswa merasakan dapat perlindungan dari kekerasan.
“Memastikan mahasiswa mendapatkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari tindakan kekerasan,” ujarnya.
Dia berharap ada Standard Operating Procedure (SOP) yang menjadi acuan dalam pencegahan, penanganan, dan pendampingan bagi mahasiswa yang mengalami kekerasan di lingkungan kampus.
Rif’an menegaskan penguatan ekosistem akademik di Fakultas FTIK akan lebih menarik, jika didukung dengan kerja sama, pada aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Hal itu kata dia, bertujuan untuk memperluas jejaring akademik.
“Meningkatkan kualitas riset, menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dan dosen bagi masyarakat,” tegasnya.






