Frensia.id – Perekonomian di Indonesia kini sedang menuju fase krisis dan mengkhawatirkan.
Hal itu disebabkan dengan adanya kondisi di mana lemahnya nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat, yang kini hampir menyentuh angka Rp 18 ribu per dolar.
Selain itu, penyebab lainnya yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah anjlok.
Menanggapi kabar tersebut, Dekan FEBI UIN KHAS Jember, Prof. Ubaidillah, memberi tahu risiko yang akan berdampak pada ekonomi di Indonesia, sehingga perlu mendapat perhatian secara serius.
Menurutnya, kondisi yang demikian, dapat mengakibatkan rasa kepercayaan investor menjadi berkurang terhadap mata uang Indonesia.
“Menurut saya, kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Indikator berupa pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG sudah mewakili,” kata Prof. Ubaid, pada Selasa (9/6/2026).
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa adanya gejolak pasar ditandai dengan arus keluar modal.
Kata dia, investor ketika melihat kondisi tersebut, maka secara perlahan akan memilih menarik dananya dari keuangan dalam negeri.
“Masalahnya jelas, investor lari tarik uangnya,” ujarnya.
Menurut Prof. Ubaid, untuk mengembalikan kondisi tersebut agar stabil dalam pemulihan ekonomi, maka bisa diawali dengan membangun kembali kepercayaan publik dan pelaku pasar dengan arah kebijakan baru dari pemerintah Indonesia.
“Investor dan pelaku pasar membutuhkan kepastian serta sentimen positif agar bersedia menanamkan modalnya kembali,” tuturnya.
Selain itu, dia juga memberi pesan agar pemerintah untuk segera melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap program-program yang membebani pengeluaran anggaran negara.
“Salah satu caranya ya hentikan program-program yang amat sangat menguras anggaran negara, dan menurunkan kepercayaan publik seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat,” tegasnya.






