Menarik! Wadek III FTIK UIN KHAS Ternyata Pernah Aktif Meneliti Kehidupan Seksual Pesantren

Tuesday, 12 May 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Menarik! Wadek III FTIK UIN KHAS Ternyata Pernah Aktif Meneliti Kehidupan Seksual Pesantren (Sumber: Grafis Frensia)

Gambar Menarik! Wadek III FTIK UIN KHAS Ternyata Pernah Aktif Meneliti Kehidupan Seksual Pesantren (Sumber: Grafis Frensia)

FRENSIA.ID– Sungguh menarik, ternyata Wakil Dekan III FTIK UIN KHAS Jember, Rif’an Humaidi , pernah terlibat aktif meneliti kehidupan seksualitas pesantren. Tak tanggung-tanggung hasil penelitiannya telah dipublikasi di jurnal internasional, dalam Proceedings of the 2nd Annual Conference of Islamic Education 2023 (ACIE 2023) di Atlantis Press.

Tidak sendirian, dalam meneliti hal tersebut ia juga dibersama akademisi lain seperti Mashur Imam , Irwan Fathurrochman , Mohtazul Farid dan Dr. Abd. Muhith.

Kajian akademik ini berfokus pada fenomena penyimpangan seksual dan diskriminasi di lingkungan pesantren yang belakangan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Penelitian tersebut dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan pisau analisis teori strukturasi yang digagas oleh Anthony Giddens, yang secara khusus menyoroti hubungan kompleks antara struktur budaya dengan agen atau pelaku budaya di dalam pesantren.

Objek penelitian ini berpusat pada beberapa pesantren besar yang memiliki ribuan santri dan berada di kawasan Tapal Kuda, Provinsi Jawa Timur , di antaranya adalah Pondok Pesantren di daerah Probolinggo, Situbondo, dan Jember.

Baca Juga :  Jalur Beasiswa STAI Ahmad Sibawayhie Dibuka! Siap Cetak Lulusan Terbaik Pendidikan Bahasan Arab

Dalam temuannya, Rif’an Humaidi beserta tim peneliti mengungkapkan bahwa struktur budaya pesantren sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran agama melalui pengkajian kitab-kitab fikih klasik, seperti Safinat al-Najah, Matan Ghayah wa al Taqrib, Sharh Uqud al-Lujjayn, dan Sharh Qurrat al-Uyun. Aturan-aturan ini sangat ketat dalam membatasi interaksi antara santri laki-laki dan perempuan demi menekan imajinasi eksotisme lawan jenis.

Akan tetapi, kelemahan struktur pesantren mulai terlihat ketika berhadapan dengan kebebasan ruang interaksi sesama jenis dan sanksi etis yang kurang tegas terhadap tindakan homoseksual. Hasrat seksualitas mikro para santri yang sudah terbentuk secara alamiah sebelum masuk pesantren seringkali berbenturan dengan sistem yang ada, terlebih di ruang-ruang interaksi sesama jenis yang longgar, seperti kebiasaan mandi bersama yang memicu kedekatan intim.

Kondisi struktural ini pada akhirnya memberikan ruang bagi munculnya tradisi penyimpangan perilaku seksual sesama jenis yang dilekatkan dengan berbagai istilah lokal di masing-masing pesantren, seperti julukan “dalaq” di sebuah pesantren Probolinggo maupun “bheje” di daerah pesantren Situbindo.

Baca Juga :  UIN KHAS Jember Siapkan Keamanan Berlapis saat Pelaksanaan UM-PTKIN

Untuk mengatasi tantangan budaya seksualitas tersebut, riset ini merekomendasikan sebuah model strukturasi kultural yang lebih ideal bagi institusi pesantren. Para peneliti menegaskan bahwa pembatasan fisik dan geografis antara laki-laki dan perempuan saja tidaklah cukup untuk membendung dorongan hasrat para santri.

Pesantren disarankan untuk proaktif mengelola transformasi hasrat seksual mikro santri menjadi erotisme makro, yakni dengan cara mempersempit ruang refleksi eksotisme mikro dan mengalihkannya secara penuh ke dalam penguatan kegiatan sosial serta rutinitas spiritual keagamaan.

Selain itu, diperlukan juga penguatan regulasi komprehensif yang tidak hanya mengatur larangan interaksi lawan jenis, tetapi juga menindak tegas praktik diskriminasi dan homoseksualitas, sehingga aturan etika tersebut dapat mengikat seluruh lapisan masyarakat pesantren tanpa memandang status kelas sosialnya.

Penulis : Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

KKN Posko 61 Lakukan Penyuluhan Pencegahan Pernikahan Dini di Kupang Curahdami Bondowoso
Tim URC Satreskrim Polresta Banyuwangi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster senilai ratusan juta
Siswi SLB Negeri Jember Raih Juara Nasional, Ortu Berharap Pemkab Beri Apresiasi
Luapan Sungai Gerus Plengsengan di Sempu Banyuwangi, Nyaris Hantam Bangunan Warga
Puting Beliung Terjang Purwoharjo Banyuwangi, 12 Rumah Rusak dan Pohon Tumbang Timpa Bangunan
Keren Mahasiswa S3 di Jember Kembangkan AI Pendeteksi Kematangan Durian
Diminati Masyarakat Internasional, Fakultas Dakwah UIN KHAS Sambut Kedatangan Mahasiswa dari 5 Negara
Puluhan Anak dan Wali Murid di Jember Diare Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Baca Lainnya

Thursday, 30 July 2026 - 17:19 WIB

KKN Posko 61 Lakukan Penyuluhan Pencegahan Pernikahan Dini di Kupang Curahdami Bondowoso

Thursday, 30 July 2026 - 14:28 WIB

Tim URC Satreskrim Polresta Banyuwangi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster senilai ratusan juta

Tuesday, 28 July 2026 - 18:15 WIB

Siswi SLB Negeri Jember Raih Juara Nasional, Ortu Berharap Pemkab Beri Apresiasi

Tuesday, 28 July 2026 - 10:40 WIB

Luapan Sungai Gerus Plengsengan di Sempu Banyuwangi, Nyaris Hantam Bangunan Warga

Monday, 27 July 2026 - 10:50 WIB

Puting Beliung Terjang Purwoharjo Banyuwangi, 12 Rumah Rusak dan Pohon Tumbang Timpa Bangunan

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading