Pekalongan, Frensia.id – Pelaksanaan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam rangkaian event Porsi Jawara II Tahun 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan menuai sorotan dari sejumlah penanggung jawab lomba.
Sorotan tersebut dikarenakan terdapat kejanggalan saat proses pengumuman pemenang lomba LKTI.
Salah satu penanggung jawab Lomba Karya Tulis Ilmiah dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Erfan Efendi, meminta agar lomba LKTI tersebut diulang kembali.
Menurut Erfan, terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal dalam pengumuman hasil LKTI, terutama terkait identitas visual dan perolehan nilai para peserta.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penggunaan logo dalam materi pengumuman juara pertama.
Erfan menyebut, logo yang tercantum justru menggunakan logo UIN KHAS Jember, sementara peserta yang dinyatakan sebagai juara pertama berasal dari perguruan tinggi di UIN Banten.
“Menurut saya ada sesuatu yang perlu diklarifikasi. Pada pengumuman juara satu, logo yang digunakan justru logo UIN KHAS Jember, padahal pemenangnya berasal dari perguruan tinggi di Banten,” ujar Erfan, pada Sabtu (12/9/2026).
Selain persoalan logo, Erfan juga mempertanyakan konsistensi nilai yang ditampilkan dalam pengumuman. Ia menyebut nilai peserta yang meraih juara pertama dari perguruan tinggi di Banten tercatat sama dengan nilai peserta dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kejanggalan lain, menurut Erfan, terlihat pada perolehan nilai juara kedua yang justru lebih tinggi dibandingkan nilai yang tercantum untuk juara pertama.
“Yang juga menjadi pertanyaan, nilai juara dua justru lebih tinggi daripada nilai juara satu. Ini tentu perlu dijelaskan secara terbuka oleh panitia agar tidak menimbulkan pertanyaan di kalangan peserta,” kata dia.
Erfan mengaku sangat kecewa terhadap pelaksanaan lomba karya tulis ilmiah tersebut. Terlebih, berdasarkan informasi yang diterimanya, proses penilaian melibatkan para guru besar.
Menurutnya, keterlibatan guru besar seharusnya menjadi jaminan bahwa proses penilaian berlangsung secara profesional, objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Yang menilai adalah para guru besar. Karena itu, persoalan seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Marwah sekaligus integritas guru besar hari ini dipertaruhkan,” tegas Erfan.
Ia menambahkan, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai siapa yang menjadi juara. Lebih jauh, transparansi proses penilaian menjadi penting untuk menjaga kepercayaan peserta terhadap penyelenggaraan kompetisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.
Erfan berharap panitia Porsi Jawara II 2026 ini, segera memberikan klarifikasi terkait sejumlah kejanggalan tersebut, termasuk mengenai penggunaan logo, kesesuaian nilai dengan peringkat juara, serta mekanisme penilaian yang digunakan.
“Kami meminta panitia bertanggung jawab atas kelalaian yang terjadi. Kalau memang ada kesalahan administratif atau teknis dalam pengumuman, sebaiknya dijelaskan secara terbuka dan segera diperbaiki,” tegasnya.
Hingga berita ini disusun, pihak panitia penyelenggara Lomba Karya Tulis Ilmiah Porsi Jawara belum memberikan klarifikasi terkait sejumlah persoalan yang disampaikan tersebut.
Klarifikasi dari panitia diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus menjaga kredibilitas pelaksanaan Porsi Jawara dan lomba karya tulis ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.






