David Robie, Periset Yang Pernah Utarakan Standar Kebebasan Pers di Indonesia Bermasalah

Monday, 9 February 2026 - 20:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar David Robie, Periset Yang Pernah Utarakan Standar Kebebasan Pers di Indonesia Bermasalah (Sumber: Grafis Frensia)

Gambar David Robie, Periset Yang Pernah Utarakan Standar Kebebasan Pers di Indonesia Bermasalah (Sumber: Grafis Frensia)

FRENSIA.ID – Sosok David Robie bukanlah nama asing dalam diskursus jurnalisme di kawasan Pasifik. Sebagai seorang Profesor di Sekolah Studi Komunikasi Universitas Teknologi Auckland, Selandia Baru, sekaligus Direktur Pusat Media Pasifik, Robie memiliki rekam jejak panjang dalam mengawal isu-isu kebebasan pers.

Pada tahun 2017, ia hadir di Jakarta sebagai pembicara dalam sebuah simposium mengenai kebebasan pers di Papua Barat yang dihelat beriringan dengan perayaan World Press Freedom Day (WPFD). Kehadirannya saat itu tidak hanya sekadar partisipasi seremonial, melainkan membawa kritik tajam yang kemudian dituangkannya dalam jurnal Media Asia.

Dalam tulisannya, Robie menyoroti sebuah ironi besar: perayaan demokrasi di Jakarta yang justru diwarnai oleh kebungkaman total terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan pers yang terjadi di Papua.

Robie secara tegas menyebutkan bahwa perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Jakarta memang merupakan tonggak kemajuan demokrasi Indonesia, namun momen tersebut juga ditandai dengan keheningan yang mencolok seputar pelanggaran berat di provinsi-provinsi Papua. Menurutnya, situasi ini mencerminkan “standar ganda” yang diterapkan oleh Indonesia.

Baca Juga :  "Rayuan Perempuan Gila", Karya Nadin Disebut Kritik Konstruksi Budaya Tentang Perempuan

Di satu sisi, Indonesia ingin menampilkan citra positif kepada dunia internasional dengan menjadi tuan rumah yang ramah bagi 1.500 jurnalis dan akademisi global. Namun, di sisi lain, pemerintah Indonesia seolah menutup mata dan telinga terhadap realitas brutal yang dialami jurnalis di Papua, yang ia sebut sebagai “noda hitam” global bagi reputasi Indonesia.

Kritik Robie didasarkan pada fakta-fakta yang mengganggu yang terjadi tepat saat dunia internasional berkumpul di Jakarta. Salah satu bukti paling nyata yang diangkat dalam risetnya adalah insiden pemukulan terhadap Yance Wenda, seorang fotografer Tabloid Jubi. Wenda ditangkap dan dipukuli oleh polisi saat meliput demonstrasi damai di Sentani, hanya dua hari sebelum pembukaan acara WPFD.

Insiden ini menjadi contoh nyata dari brutalitas yang dihadapi pekerja media di Papua, yang justru terjadi ketika elit pers dunia sedang merayakan kebebasan di ibu kota negara yang sama. Robie menyayangkan bahwa meskipun organisasi global seperti Reporters Sans Frontières (RSF) mengecam kejadian tersebut, isu ini nyaris tidak terdengar dalam agenda utama konferensi di Jakarta.

Baca Juga :  Diteliti, Lagu Speak Up Ternyata berisi Pesan Ekokrtisisme

Lebih jauh, Robie menguraikan bagaimana janji Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 untuk membuka akses bagi jurnalis asing ke Papua ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Riset dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dikutip Robie menunjukkan bahwa akses tersebut masih sangat dibatasi, di mana hanya segelintir jurnalis yang diizinkan masuk dari banyaknya permohonan, sementara intimidasi dan pengawasan ketat tetap berlanjut.

Bagi Robie, pembatasan ini, ditambah dengan pemblokiran situs-situs berita yang menyuarakan hak asasi manusia dengan label “separatis”, menegaskan bahwa kebebasan pers di Indonesia masih bermasalah secara fundamental karena tidak berlaku merata di seluruh wilayah kedaulatannya.

Tulisan Robie ini menjadi pengingat abadi bahwa pujian internasional tidak boleh menutupi realitas pembungkaman yang terjadi di halaman belakang negara itu sendiri.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Jalur Beasiswa STAI Ahmad Sibawayhie Dibuka! Siap Cetak Lulusan Terbaik Pendidikan Bahasan Arab
Menarik! Jejak Riset Prof. Hepni tentang Kedamaian Tarekat Wahidiyah
UIN KHAS Jember Umumkan Pemenang Lomba Film Pendek dan Karya Ilmiah Bertema Moderasi Beragama
Hubungan NU dengan Kekuasaan, KH Zainil Ghulam: Mengontrol Penguasa
Kiai-Kiai Besar Jember Antar Kepergian Prof Hepni, Sosok Rektor Yang Upayakan UIN KHAS Jadi Pusat Studi Pesantren
UIN KHAS Berduka, Prof Hepni Wafat
Kadispendik Jember Tegaskan Tutup Celah Kecurangan SPMB 2026
Tim Sekretariat UIN KHAS Jember Tingkatkan Kompetensi melalui Penguatan Profesionalitas

Baca Lainnya

Wednesday, 24 June 2026 - 22:28 WIB

Jalur Beasiswa STAI Ahmad Sibawayhie Dibuka! Siap Cetak Lulusan Terbaik Pendidikan Bahasan Arab

Wednesday, 24 June 2026 - 21:54 WIB

Menarik! Jejak Riset Prof. Hepni tentang Kedamaian Tarekat Wahidiyah

Tuesday, 23 June 2026 - 17:50 WIB

UIN KHAS Jember Umumkan Pemenang Lomba Film Pendek dan Karya Ilmiah Bertema Moderasi Beragama

Saturday, 20 June 2026 - 13:25 WIB

Hubungan NU dengan Kekuasaan, KH Zainil Ghulam: Mengontrol Penguasa

Friday, 19 June 2026 - 10:16 WIB

Kiai-Kiai Besar Jember Antar Kepergian Prof Hepni, Sosok Rektor Yang Upayakan UIN KHAS Jadi Pusat Studi Pesantren

TERBARU

Suasana balai Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember, saat diprotes warga terkait oknum PPPK yang lolos seleksi BPD (Foto: Istimewa).

News

Warga Jember Protes Oknum PPPK Lolos Seleksi BPD Wirowongso

Wednesday, 1 Jul 2026 - 20:21 WIB

Gambar Ratusan Anggota Polresta Banyuwangi Terima Kenaikan Pangkat (Sumber: Istimewa)

Regionalia

Ratusan Anggota Polresta Banyuwangi Terima Kenaikan Pangkat

Wednesday, 1 Jul 2026 - 08:30 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading