Di Harlah Nurul Jadid, KH. Ghofur Maimoen: Imam Syafi’i Jadi Mazhab Besar, Karna Memahami Santri-santrinya

Monday, 19 January 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Di Harlah Nurul Jadid, KH. Ghofur Maimoen: Imam Syafi'i Jadi Mazhab Besar, Karna Memahami Santri-santrinya (Sumber: Istimewa)

Gambar Di Harlah Nurul Jadid, KH. Ghofur Maimoen: Imam Syafi'i Jadi Mazhab Besar, Karna Memahami Santri-santrinya (Sumber: Istimewa)

Frensia.id KH. Abdul Ghofur Maimoen menyampaikan ceramah mendalam pada acara Haul dan Harlah Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, kemarin (18/01). Dalam kesempatan tersebut, ulama yang akrab disapa Gus Ghofur ini menekankan bahwa kebesaran seorang ulama tidak hanya diukur dari kedalaman ilmunya semata, melainkan juga dari kemampuannya memahami karakter murid-muridnya. Ia mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i berhasil membangun mazhab besar karena kepekaannya dalam mengenali potensi dan takdir santri-santrinya.

Dalam pidatonya, Gus Ghofur mengisahkan riwayat Imam Syafi’i menjelang wafatnya. Saat itu, murid-murid utamanya berkumpul, di antaranya Al-Buwaiti, Al-Muzani, Muhammad bin Al-Hakam, dan Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Imam Syafi’i kemudian memberikan prediksi yang sangat spesifik mengenai masa depan mereka, yang di kemudian hari terbukti menjadi kenyataan. Gus Ghofur mengutip perkataan Imam Syafi’i kepada Al-Buwaiti,

“Buwaiti, nanti kamu akan mati fil hadid, katanya. Kamu nanti akan mati dalam keadaan diborgol,” ucapnya.

Prediksi tersebut bukan sekadar ramalan kosong. Gus Ghofur menjelaskan bahwa Al-Buwaiti adalah santri yang paling siap menggantikan Imam Syafi’i secara keilmuan. Namun, ia memiliki keteguhan prinsip yang luar biasa. Ketika terjadi fitnah Khalqul Quran di masa pemerintahan Baghdad yang bermazhab Muktazilah, Al-Buwaiti menolak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Akibatnya, ia ditarik dari Mesir ke Baghdad dan dipenjara hingga wafat. Gus Ghofur menceritakan keteguhan Al-Buwaiti yang tetap mandi dan berpakaian rapi setiap hari Jumat untuk meminta izin shalat Jumat kepada sipir penjara, meski ia tahu izin itu tidak akan diberikan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban ikhtiar di hadapan Allah.

Baca Juga :  UMPTKIN 2026 Resmi Dimulai, UIN KHAS Jember akan Terima 1.761 Camaba

Selanjutnya, Gus Ghofur menceritakan tentang Al-Muzani. Kepada muridnya ini, Imam Syafi’i berkata, “Kamu akan hidup cukup panjang, kamu akan mengalami perubahan-perubahan secara sosial dan nanti yang bisa mengembangkan ilmu saya itu kamu. Orang paling pintar kias itu kamu.”

Gus Ghofur menjelaskan bahwa Al-Muzani memiliki kecerdasan di atas rata-rata, sehingga ia mampu mengembangkan fikih Syafi’i (Ashab al-Wujuh) dan beradaptasi dengan persoalan zaman.

Namun, kisah yang paling menarik perhatian jamaah adalah mengenai Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Menurut kitab Thabaqatul Syafi’iyah karya Imam As-Subki, Ar-Rabi’ digambarkan sebagai santri yang lambat dalam memahami pelajaran (dedel). Gus Ghofur menuturkan,

“Jadi diajarin 40 kali itu enggak paham-paham.” Saking sulitnya Ar-Rabi’ memahami pelajaran, Imam Syafi’i sampai berkata, “Kalau saya mampu inistattu an utimaka ilman laattuk. Kalau bahasa jawanya itu nek aku iso dulang. Kalau saya bisa nyuapin kamu ilmu, saya suapin,” jelas Pengasuh Pesantren Al Anwar ini.

Meski demikian, Imam Syafi’i justru menunjuk Ar-Rabi’ sebagai periwayat utama mazhabnya. “Kamu itu bagian meriwayatkan ilmu saya,” kutip Gus Ghofur menirukan Imam Syafi’i.

Gus Ghofur menjelaskan logika di balik keputusan ini. Santri yang cerdas seperti Al-Muzani cenderung memiliki logika sendiri yang bisa jadi menambahkan atau menafsirkan ulang perkataan guru. Sebaliknya, santri seperti Ar-Rabi’ akan menyampaikan apa adanya tanpa menambah atau mengurangi.

Baca Juga :  Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok

“Kenapa? Karena orang kalau enggak cerdas-cerdas amat itu biasanya enggak nambah-nambahi. Tapi kalau santri cerdas itu kalau cerita tentang kiainya itu biasanya agak ditambah-tambahi,” ujar Gus Ghofur yang disambut tawa para hadirin.

Oleh karena itu, jika terjadi perbedaan riwayat antara Al-Muzani dan Ar-Rabi’, para ulama sepakat memenangkan riwayat Ar-Rabi’.

Terakhir, Gus Ghofur menyebutkan santri bernama Muhammad bin Al-Hakam yang diprediksi akan kembali ke mazhab lamanya, Maliki. Dan hal itu pun terbukti benar setelah sang Imam wafat.

Gus Ghofur menegaskan bahwa kemampuan membaca masa depan ini sering disebut sebagai firasat atau karamah, namun sejatinya hal itu lahir dari kedekatan emosional dan pendidikan yang sungguh-sungguh. Imam Syafi’i tidak ingin ilmunya hilang seperti Imam Laits bin Sa’ad yang mazhabnya punah karena murid-muridnya tidak mengembangkannya.

Selama tiga tahun di Mesir, Imam Syafi’i berjihad mendidik santri sesuai karakternya masing-masing. Gus Ghofur menutup ceramahnya dengan merefleksikan bahwa keberhasilan Pesantren Nurul Jadid dan pesantren besar lainnya juga berkat para Kiai seperti Kiai Zaini Mun’im yang mengenal betul karakter santri-santrinya, ada yang model Ar-Rabi’ dan ada yang model Al-Muzani, lalu mendidik mereka hingga menjadi tokoh yang bermanfaat bagi umat.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Keren Mahasiswa S3 di Jember Kembangkan AI Pendeteksi Kematangan Durian
Diminati Masyarakat Internasional, Fakultas Dakwah UIN KHAS Sambut Kedatangan Mahasiswa dari 5 Negara
Puluhan Anak dan Wali Murid di Jember Diare Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis
Bukan Cuma Seremonial, Intip Uniknya MPLS Humanis di SDN Banjarsengon 02 Jember
Tim Robotik Indonesia Rebutkan Tiket Robocon Internasional di KRAI 2026
IMMH UI Sampaikan Catatan Kritis dalam RDPU Bersama Komisi X DPR RI Soal RUU Sisdiknas
Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Sampaikan Pentingnya Etika saat Yudisium ke XXXI 2026
Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Luluskan 86 Mahasiswa pada Yudisium ke-XXXI Juli 2026

Baca Lainnya

Wednesday, 22 July 2026 - 13:49 WIB

Keren Mahasiswa S3 di Jember Kembangkan AI Pendeteksi Kematangan Durian

Tuesday, 21 July 2026 - 14:31 WIB

Diminati Masyarakat Internasional, Fakultas Dakwah UIN KHAS Sambut Kedatangan Mahasiswa dari 5 Negara

Friday, 17 July 2026 - 12:48 WIB

Puluhan Anak dan Wali Murid di Jember Diare Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Tuesday, 14 July 2026 - 10:56 WIB

Bukan Cuma Seremonial, Intip Uniknya MPLS Humanis di SDN Banjarsengon 02 Jember

Saturday, 11 July 2026 - 22:02 WIB

Tim Robotik Indonesia Rebutkan Tiket Robocon Internasional di KRAI 2026

TERBARU

Bupati Jember, Muhammad Fawait saat mengecek kesiapan armada homecare di Kantor Dinas Kesehatan (Foto: Fadli/Frensia).

Politia

Pemkab Jember Gelar Apel Armada Sebelum Peresmian Homecare

Thursday, 23 Jul 2026 - 20:15 WIB

Salah satu tersangka yang akan dibawa ke rumah tahanan (rutan) Kabupaten Jember (Foto: Sigit/Frensia).

Criminalia

Kejari Jember Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Bank Pelat Merah Rp 3 M

Wednesday, 22 Jul 2026 - 19:06 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading