FRENSIA.ID – Ahli hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, memilih membuka rubrik baru di kanal media sosialnya bukan dengan bedah pasal atau kritik kebijakan, melainkan dengan ajakan membaca buku.
Hal ini disampaikannya lewat video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @zainalarifinmochtar, pada Rabu (2/9). Program itu ia beri nama “Minggu Buku”, bagian dari kanal Uchange Indonesia. Dalam videonya, nama kanal itu juga bisa dilafalkan seperti namanya, ‘Uceng’. Atau dilafalkan asal kalimatnya “You Change”
Video yang sama diunggah di kanal YouTube Uchange Indonesia dengan judul “Program Baru, “Minggu Buku!””, berdurasi 2 menit 56 detik, sebagai kolaborasi kanal baru yang dibuatnya.
“Sekali seminggu, setiap hari minggu, saya upayakan berbagi ‘Minggu Buku’,” tulisnya dalam keterangan unggahan.
Ia menjelaskan setiap edisi akan berisi cerita tentang satu atau dua buku, lengkap dengan analisisnya, dan dikaitkan dengan keadaan yang sedang berlangsung.
Dalam videonya, Uceng menempatkan buku sebagai bahan baku perubahan. Ia menyebut buku sebagai wujud pengetahuan dan informasi.
“Kalau kita bicara soal perubahan, bahan bakarnya yang penting itu adalah buku,” ujarnya. Ia lalu menambahkan, “Iya, Anda tidak salah dengar.”
Untuk menopang argumennya, Uceng menyusuri sejarah peradaban dan menemukan satu pola berulang, yakni penerjemahan buku.
Ia memulai dari Yunani dan Romawi kuno, yang menurutnya membangun peradaban lewat perenungan filosofis yang kemudian dibukukan. Karya-karya itu, katanya, berpengaruh pada jalannya peradaban, kehidupan manusia, dan kesadaran.
Mata rantai berikutnya adalah dunia Islam. Uceng mengingatkan masa keemasan Islam, yang ia perkirakan berlangsung sekitar abad ke-8 hingga ke-12, bermula ketika buku-buku Yunani dan Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia.
Terjemahan itu berubah menjadi pengetahuan dan informasi, lalu mendorong perubahan besar yang menjadikan dunia Islam pusat ilmu pengetahuan pada zamannya.
Rantai ketiga berbalik arah. Menurut Uceng, Eropa keluar dari masa kegelapan dan memasuki Renaisans justru karena buku-buku dari tradisi Arab dan Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, dan bahasa-bahasa Eropa lain.
Ia menyebut nama-nama yang berpindah bersama terjemahan itu. Ibnu Rusyd dikenal di Eropa sebagai Averroes, sedangkan Ibnu Sina menjadi Avicenna, bersama sarjana Muslim, Arab, dan Persia lainnya.
Dari rangkaian sejarah itu, Uceng menawarkan cara pandang bahwa membaca bukan kegiatan pasif, melainkan pintu masuk perubahan.
Ia mengajak pengikutnya menjadikan pengetahuan dan informasi sebagai kebiasaan yang dibangun, bukan sekadar konsumsi sesaat.
Satu penekanan lain muncul di keterangan unggahannya, dan terasa disengaja untuk membalik anggapan umum tentang bacaan bermutu.
“Dan ingat, tidak harus buku yang ditulis orang Barat!” pungkasnya.
Sebagai informasi, Uchange Indonesia tergolong kanal baru. Laman informasinya menyebut kanal itu bergabung di YouTube pada 11 Agustus 2026, atau baru sekitar tiga pekan sebelum “Minggu Buku” diumumkan.
Deskripsinya hanya satu kalimat, yakni “Perubahan dimulai dari Kamu.”







