Frensia.id- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintahan Presiden Prabowo membawa berkah bagi peternak Puyuh. Semenjak didirikan SPPG di berbagai tempak sepanjang tahun 2025, permintaan melonjak secara drastis dibandingkan sebelum ada kebijakan ini. Akan tetapi disayangkan harganya masih stagnan.
Salah satu peternak puyuh yang merasakan kondisi ini adalah Bapak Alfin Wahid. Pria yang kesehariannya mewakafkan hidupnya di dunia pendidikan menyatakan bahwa semenjak ada MBG, permintaan telur Puyuhnya sangat meningkat. Sebagaimana yang ia sampaikan pada hari Senin (16/02/26).
“Alhamdulillah melonjak, tiap SPPG kami biasa setor sekitar 160 – 200 kg atau kurang lebih dari keseluruhan SPPG yang menerima setoran telur puyuh ada 1000 kg.” Ungkapnya.
Menurut Alfin, stok persediaan telur Puyuh yang ia miliki sampai hari ini terbilang cukup untuk memasok di SPPG yang menjadi langganannya.
Laki-laki yang berdomisili di desa Pondok Joyo Kecamatan Semboro ini telah memasok dan menjadi suplier di lima SPPG yang berlokasi di berbagai kecamatan diantaranya Sumberbaru, Umbulsari, Tanggul dan kecamatannya sendiri, Semboro.
Meskipun demikian, Alfin cukup menyayangkan terkait harga. Dengan permintaan yang cukup besar, semestinya memiliki peluang harga telur Puyuh naik. Karena tuntutan pasar yang tinggi dalam waktu yang begitu cepat akan memberi kemungkinan stok persediaan menjadi sedikit.
“meskipun kebutuhan pasar tinggi, seharusnya harga telur bisa meningkat juga, tetapi kenyataannya tetap-tetap saja, tidak begitu melonjak. Kisaran menetap pada angka 26.000 hingga 33.000,” jelasnya.
Harapannya dengan adanya program baru dari pemerintah yang bersentuhan langsung dengan komoditas pasar, mampu menggerakkan sirkulasi ekonomi secara lebih cepat dan meningkatkan nilai dari kapital.
“mengingat pengalaman dulu sebelum ada MBG, yang namanya pakan Puyuh itu berangsur-angsur meningkat sedangkan nilai jual telur tidak cukup signifikan, maka harapan kami dengan adanya sistem baru di dunia ekonomi juga mampu meningkatkan nilai jual telur.” Ujarnya.
Lebih lanjut menurut Alfin, karena jika nilai jual telur masih tetap begitu saja dengan adanya program MBG, maka sebenarnya kebijakan ini tidak memberi kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi.







