Frensia.id– Bagaimanapun kebijakan yang telah ditetapkan oleh pusat berkaitan dengan anggaran yang dialokasikan untuk desa, seorang calon kepala desa harus tetap berjuang dengan sungguh-sungguh apabila menginginkan posisi sebagai orang dengan jabatan paling prestisius di desanya. Tetapi apabila modal untuk memenangkan rakyat terlampau banyak jika dibandingkan dengan anggaran yang bisa digunakan untuk melaksanakan kebijakan kelak, maka bisa geser nyaleg saja nanti pada Pemilu mendatang.
Mengingat pada tahun 2026 ini, anggaaran Dana Desa seperti turun gunung di titik paling dasar, setinggi pohon kelapa. Setelah sebelumnya pada era Presiden Jokowi, hampir setinggi gunung Semeru, 3.676 mdpl.
Calon kepala desa yang punya dan bisa melakukan perhitungan seperti itu, berarti ia memang benar-benar membaca secara seksama bagaimana kondisi tata buku masa depan. Orang seperti itu tidak lebih adalah seorang penjudi bukan pejuang di kursi kekuasaan.
Antara penjudi dan pejuang sama-sama harus selalu siap dengan apa yang namanya pengorbanan. Cuma bedanya kalau penjudi itu apabila rungkad maka bisa kehilangan segala yang dimiliki termasuk ditinggalkan istri dan kehilangan pikiran. Sedangkan pejuang apabila kalah, memang kehilangan banyak hal, tetapi ia akan mulai mendengar alunan nafasnya ketika berefleksi dan mencermati kekalahannya sebagai sebuah pembelajaran dalam hidup dan tidak putus asa. Kontestasi mendatang nyalon lagi, lagi dan lagi.
Pengorbanan itu penting, digunakan agar seseorang tidak main-main dan setengah hati dalam meraih Impian. Beranjak dari kesadaran seorang calon Kades ‘saya sudah kehilangan sawah setengah Hektar untuk modal kampanye Pilkades, masih ada setengah Hketar lagi sedangkan masa kampanye hingga hari pemilihan kurang satu bulan, maka apakah sebaiknya saya jual juga sekalian untuk modal kampanye yang belum selesai ini ataukah cukup sampai disini?.’ Atas dasar dilema seorang calon Kades, maka ada baiknya ia merelakan tanah yang tersisa untuk dijual secara proposional. Artinya tidak gegabah dijual semua kemudian dihabiskan seketika tetapi juga memperhitungkan pendekatan memenangkan titik-titik yang kurang maksimal. Oleh karena itu bisa jadi jual semua atau sebagian saja. intinya dimaksimalkan secara moderat apa yang namanya pengorbanan itu.
Tidak harus jual semua dan untuk kampanye semua. Sebab yang namanya politik tentang hasrat kekuasaan sejak pertama kali Iblis menaruh dengki ke Adam hingga hari ini tetap sama saja. yang namanya harta di ranah politik tidak akan ada banyaknya.
Bicara pengorbanan dalam sebuah upaya merengkuh jabatan kades semisal, mengingat proses demokrasi (baca: prosedur berkuasa) paling dekat adalah Pilkades, para calon Kades setidaknya mengetahui betapa pentingnya pengorbanan. Tidak hanya sebagai sebuah cara untuk memperoleh sesuatu, melainkan juga sebagai upaya untuk membangun kesadaran diri setinggi apa Impian yang dimiliki maka harus merelakan korban yang tidak sedikit.
Sebagaimana menurut Paulo Coelho, Novelis asal Brazil dalam masterpiecenya ‘Sang Alkemis’ memberikan paparan lewat karakternya seorang penggembala bernama Santiago. bahwa sang gembala semestinya untuk merelakan dalam arti mengorbankan domba-dombanya saat ia memiliki sebuah impian untuk menemukan harta karun. Argumentasi yang diberikan tidak lain adalah karena apabila seseorang enggan untuk berkorban sesuatu maka dapat dipastikan jiwanya tidak terguncang dan semangatnya tidak terpantik untuk berjuang secara totalitas. Adapun korban yang diberikan merupakan ejawantah dari tekad yang kuat. Tetapi di lain sisi juga merupakan ‘sandera diri’ yang akan terus terngiang, jika ia telah kehilangan sesuatu yang berharga maka apabila tidak meraih tujuan yang dikehendaki artinya ia telah kehilangan segalanya. Sudah kehilangan sawah setengah hektar apabila tidak menang dalam kontestasi kades, maka sawahnya akan benar-benar hilang.
Konteks yang sama juga diberikan oleh Ichiro Oda dalam anime populernya, One Piece. Diceritakan bahwa Akagami No Shanks mesti mengorbankan tangan kirinya dimakan Belut laut raksasa demi menyelamatkan Mugiwara No Luffy kecil. Sebagai pengguna pedang hal tersebut jelas merupakan celah dan cacat, akan tetapi tindakannya tersebut justru menumbuhkan tekad, semangat dan sikap pantang menyerah. Luffy mencatat bahwa tekadnya sebagai Raja Bajak Laut harus terlaksana mengingat ada seseorang yang telah kehilangan tangannya demi menyelamatkan dirinya dan hidup hingga hari ini. Percuma jika tangan sudah cacat sebagai bentuk pengorbanan dari seseorang tetapi justru gagal menjadi Raja Bajak Laut sebagaimana yang ia sendiri impikan dan Shanks juga menantikan pertumbuhan Luffy sebagai seorang Bajak Laut luar biasa.
Tidak ada anjuran dari Kemendagri sebagai syarat khusus seorang kades mempunyai tekad yang kuat dengan pengorbanan yang luar biasa. Akan tetapi apabila syarat menang kontestasi harus dengan memiliki ruh revolusioner yang berkobar, maka seorang calon kades setidaknya mengerti dirinya sendiri apa alasan yang nantinya akan menjadikannya bertempur secara luar biasa. Jika memang perlu harus mengerti arti sejati pengorbanan, maka mulai sekarang bisa beli buku Alkemis karya Paulo Coelho untuk dibaca dan direnungkan secara cermat. Apabila kecenderungan politisi di Indonesia, dari tingkat bawah hingga atas, mempunyai minat baca yang rendah maka bisa maraton One Piece dari sekarang, dimana episodenya sudah tembus seribu.
Intinya dari itu semua adalah seorang calon kades tidak hanya sekedar memahami modal politik dalam arti bisnis. Melainkan juga mengerti modal politik sebagai bentuk pengorbanan yang mampu menggores lembutnya jiwa yang terdalam. Sehingga apa yang dikorbankan itu layaknya busur yang menarik anak panah, dimana mata panah itu tidak lain adalah dirinya sendiri yang siap melesat jauh.
Pertarungan politik di tingkat manapun sama saja, kalau kalah yang hancur beneran kalau menang masih berpeluang kelak akan hancur tetapi setidaknya masih bisa memungut puing kebesaran. Setidaknya cukup mengingat pesan dari Coelho dalm Alkemis, sebagaimana percakapan berikut.
“Aku tidak takut gagal, aku hanya tahu cara mengubah diriku menjadi angin.”
“kalau begitu kau mesti belajar, nyawamu taruhannya.”
“bagaimana kalau aku gagal?”
“berarti kau akan mati di tengah usahamu mencoba mewujudkan takdirmu. Itu jauh lebih baik daripada mati seperti jutaan orang lainnya yang bahkan tidak pernah tahu takdir mereka.”
“Tapi tak usah khawatir.” Sang Alkemis melanjutkan. “biasanya justru karena takut matilah orang jadi sadar akan hidup mereka.”
Oleh karena itu, bisa disimpulkan dengan premis dari Alkemis. Jika menang ya jadi kades. Jika kalah ada dua kemungkinan, pertama jadi orang bijak. Kedua, jika tidak kuat menahan ego jadi stres.






