Frensia.Id- Fakta baru terungkap dalam kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa belasan siswa TK dan PAUD di Kaliwates, Jember. Dua anak (total 18 anak yang keracunan), berasal dari PAUD Asrar 29 yang menjadi korban.
Guru PAUD Asrar 29, Nila, menceritakan bahwa dari seluruh muridnya, hanya dua anak yang mengalami gejala keracunan parah hingga harus dilarikan ke fasilitas kesehatan. Kedua murid tersebut diketahui bernama Marwah dan Nisa.
“Cuma dua ini (yang kena). Dan kebetulan dua anak ini yang makannya habis. Yang lainnya ada sisa,” katanya saat memberikan keterangan, Kamis (21/5/2026).
Nila menjelaskan, kedua muridnya menunjukkan respons tubuh yang berbeda setelah mengonsumsi makanan tersebut. Salah satu korban langsung dilarikan ke puskesmas tak lama setelah mengeluh sakit.
Sementara satu korban lainnya sempat mendapatkan penanganan mandiri di rumah karena sang ibu kebetulan berprofesi sebagai tenaga medis.
“Kalau yang satunya ini kebetulan ibunya juga perawat. Jadi sempat diantisipasi dulu di rumah, dikasih obat. Cuman karena keseringan muntah, mungkin lemas anaknya, akhirnya malam baru dibawa ke rumah sakit untuk penanganan,” ujarnya.
Nila menjelaskan, bahwa menu makanan program MBG yang disajikan pada Rabu (20/5) tersebut adalah ayam suwir dan tahu crispy. Makanan tiba di sekolah sebelum pukul 09.00 WIB.
“Saat makanan dibuka pada jam istirahat sekolah, pihak guru sebenarnya sempat mencium adanya aroma yang tidak biasa dari hidangan tersebut,” jelasnya.
“Begitu anak-anak istirahat jam 09.00 WIB langsung dibuka, itu memang keluar ada aroma yang bukan aroma enggak enak ya, kayak ada yang berubah gitu masakannya,” tambahnya.
Sebelumnya, Nila mengira muridnya hanya sedang mengalami penurunan imun tubuh. Namun saat melihat fakta di ruangan rumah sakit tersebut, Nila melihat ada sekitar tiga hingga empat anak dari lembaga pendidikan lain di daerah Patung, Kaliwates, yang mengalami gejala serupa.
“Saya tadi malam samperin ke (RSUD) Kaliwates, ternyata dari lembaga lain ada. Loh, berarti ini bukan cuman anakku (muridku),” paparnya.
Nila menegaskan bahwa insiden seperti ini baru pertama kali terjadi sejak sekolahnya menerima program Makan Bergizi Gratis.
“Sebelumnya alhamdulillah enggak ada (kejadian). Baru kemarin,” tandasnya.





