Frensia.id – Warga Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Jember, tengah mengalami krisis air bersih saat datangnya musim kemarau setiap tahun.
Kurang lebih ratusan Kepala Keluarga (KK) yang berada di RT 003 RW 013, kini harus menunggu bantuan air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, karena sumur warga telah kehabisan air.
Menurut pengakuan warga setempat, Tiyo Riski Setiawan, Adik Ketua RT Dusun Bunder, mengatakan bahwa ketika tiba musim kemarau, warga selalu kebingungan air bersih untuk memasak, mandi dan cuci baju.
“Kalau musim kemarau itu mesti tiap tahun kekeringan dari dulu di sini. Emang susah air di Dusun Bunder,” kata Tiyo, saat ditemui, pada Rabu (1/7/2026).
Menurut Tiyo, kekeringan ini hanya dialami oleh warga Dusun Bunder di wilayah Desa Sumber Pinang.
Sedangkan wilayah dusun lainnya, masih dalam kondisi aman untuk persediaan air bersih, meskipun di musim kemarau.
Tiyo mengaku sepanjang mengalami kirisis air bersih saat musim kemarau, warga desa hanya mendapat bantuan berupa tandon air dari pihak BPBD Jember.
Selain itu, bantuan tandon air juga didapat dari mahasiswa KKN.
Dia bercerita, bahwa dulu sebelum adanya bantuan tandon air, warga setempat harus mengantre air bersih yang dikirim oleh BPBD seminggu sekali.
“Jadi kayak warga-warga sini tuh ngumpulin ember gitu. Jadi diisi semua embernya, baru nanti jalan lagi ke sebelah gitu bantuannya,” tuturnya.
Menurut Tiyo, kondisi kekeringan ini sudah terjadi sudah dialaminya sekitar 3 bulan, saat momen pergantian musim.
Dalam memenuhi keperluan keseharian seperti memasak, mandi dan cuci baju, kini warga setempat harus terpaksa menumpang di kamar mandi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.
“Untuk mandi, terus juga ngambil air buat ngisi gentong buat minum gitu, nyuci di situ juga,” kata dia.
Sedangkan untuk kebutuhan air minum, warga setempat memakai air galon isi ulang.
DIJANJIKAN ADA SUMUR BOR
Berbeda cerita dengan Tiyo, Istri Ketua RW Dusun Bunder, Kusyati, mengatakan bahwa warga setempat pernah dijanjikan dibuatkan sumur bor oleh pihak pemerintah desa, ketika momen kampanye Pilkades.
“Kalau dari desa dulu akan dikasih sumur bor, tapi sampai sekarang nggak ada ini,” kata dia.
Menurut Kusyati, kondisi krisis air sudah dialaminya sejak tahun 1996 saat masih mempunyai anak pertama.
Dia juga bercerita pernah suatu waktu pengairan di sawah yang semula lancar, harus dibuat bergilir ketika memasuki musim kemarau.
“Kalau pertanian dibagi, kayak Sabtu mana, Minggu mana, dalam seminggu 2 kali,” tuturnya.






