Frensia.Id- Kolaborasi mahasiswa Indonesia dan Korea Selatan mewarnai pelaksanaan World Friends Korea ICT Volunteers (WFK-ICT) 2026 di Politeknik Negeri Jember (Polije).
Tak sekadar mengenal budaya, para mahasiswa diajak mengembangkan proyek teknologi berbasis masalah nyata di Kabupaten Jember.
Wadir 3 Bidang Kemahasiswaan dan Sistem Informasi POLIJE mengungkapkan bahwa gelaran WFK-ICT tahun ini mengusung konsep yang berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
“Yang membedakan di tahun 2026, kami mengundang perwakilan sembilan politeknik seluruh Indonesia untuk berpartisipasi,” katanya, Jum’at (14/8/2026).
Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa program WFK-ICT sendiri merupakan buah kerja sama Polije dengan Kyungpook National University (KNU) Korea Selatan. Serta didukung oleh National Information Society Agency.
“Kemitraan strategis ini tercatat telah konsisten berjalan selama tujuh tahun sejak digulirkan pertama kali pada 2019,” ujarnya.
Gaet 9 Politeknik se-Indonesia
Wahyu menjelaskan, tahun ini, total ada 80 mahasiswa yang terlibat. Komposisinya terdiri dari 40 mahasiswa KNU, 20 mahasiswa Polije, dan 20 mahasiswa yang membawahi perwakilan sembilan politeknik di Indonesia.
“Adapun sembilan kampus yang turut berpartisipasi di antaranya Politeknik Ketenagakerjaan Jakarta, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Madiun, Politeknik Negeri Banyuwangi, hingga Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Selain itu, hadir pula perwakilan dari Politeknik Negeri Sambas dan Samarinda,” paparnya.
Bukan Cuma Proyek Teknologi, Ada Pertukaran Budaya
Wahyu menambahkan, selama program berlangsung para peserta tak hanya berkutat dengan proyek akademik. Mereka juga mencicipi kebersamaan lewat agenda olahraga, memasak bersama, hingga pertukaran budaya.
“Ini bukan sekadar pertukaran ilmu atau kolaborasi proyek, tetapi juga kesempatan membangun hubungan melalui pertukaran budaya,” jelasnya.
Hasil karya para peserta kemudian dipresentasikan dalam closing ceremony WFK-ICT 2026. Seluruh ide berhasil direalisasikan menjadi prototipe fungsional yang menjawab kebutuhan masyarakat Jember.
“Bagi kami, ajang ini menjadi wadah penting mahasiswa untuk mengasah skill teknologi, soft skill kerja tim, kreativitas, hingga memperluas jejaring internasional,” imbuhnya.
Education Kit Pertanian Sabet Juara Pertama
Keseruan ajang ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta dari tim gabungan Indonesia-Korea, Moch. Lucky Ramadhan seorang mahasiswa Polije yang berhasil menyabet juara pertama. Timnya menciptakan education kit interaktif berbentuk gim untuk mengenalkan dunia pertanian kepada anak-anak.
“Kami membuat education kit yang dikemas menjadi game untuk menarik minat anak-anak belajar pertanian,” ungkapnya .
Proyek tersebut dirancang khusus untuk mengikis stigma negatif generasi muda yang kerap menganggap sektor pertanian sebagai pekerjaan kasar dan kurang menarik.
Sementara itu, mahasiswa KNU Korea Selatan, Yun Seong menjelaskan, dalam proses pengerjaannya, mahasiswa Indonesia dan Korea saling membagi tugas sesuai keahlian masing-masing. Dia mengaku, meski sempat terkendala dan harus kerja ekstra hingga larut malam, kolaborasi antarnegara tersebut tetap berjalan solid.
“Jadi meski kamisempat terkendala dan harus kerja ekstra hingga larut malam, kolaborasi antarnegara tersebut tetap berjalan solid,” tandasnya.






