FRENSIA.ID – Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita. Merujuk data BMKG, pusat gempa berada sekitar 36 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer, dan sempat memicu peringatan dini tsunami untuk Sikka serta Labuan Bajo.
Lebih lanjut dari laporan BMKG, guncangan terkuat berskala VII MMI dirasakan di Aesesa (Nagekeo), Riung (Ngada), dan Kota Mbay skala di mana orang berhamburan keluar rumah dan bangunan berkonstruksi baik pun mulai retak.
Dilansir dari Kompas.com, hingga Minggu (16/8/2026) sore BNPB mencatat 53 orang meninggal dunia dan 137 orang luka-luka. Sebanyak 5.488 jiwa bertahan di posko pengungsian dan 171 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri.
Khusus Nagekeo, sebagaimana dikutip Pos Kupang dari data BPBD NTT per 16 Agustus, tercatat 1 orang meninggal, 10 luka-luka, 2.056 warga mengungsi, serta 116 rumah rusak berat, 6 rusak sedang, dan 42 rusak ringan.
Namun tiga hari berlalu, warga Desa Degalea, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, masih tidur di bawah terpal yang mereka dirikan sendiri. Tak ada posko. Tak ada tenda pemerintah. Hanya halaman rumah yang disulap jadi tempat berlindung, karena rumahnya sendiri tak lagi aman dimasuki.
Keluhan itu sampai ke publik lewat jalur yang tak biasa: siaran radio. Tena, guru yang bertugas di desa tersebut, menuturkan kondisi kampungnya kepada penyiar Radio Suara Surabaya 100.0 FM, Senin (17/8/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.
“Bangunan yang batu itu rusak berat. Ada juga rumah warga yang berdekatan dengan tebing, jurang, terus jadi langsung longsor semuanya,” katanya.
Gempa susulan yang tak kunjung reda membuat warga tak berani kembali masuk rumah. “Semua masyarakatnya tidak bisa beraktivitas di dalam rumah,” ujar Tena.
Yang berdiri kemudian bukan pengungsian resmi, melainkan tenda-tenda darurat di pekarangan masing-masing.
“Tidak ada pengungsian. Hanya benar-benar di tenda-tenda yang dibangun atas inisiatif masyarakat,” katanya.
Ditanya soal bantuan, jawaban Tena singkat dan diulang tiga kali: belum ada.
“Dari pemerintah belum ada. Hanya kemarin sempat diambil-ambil gambar, ambil video, tapi untuk penanganan secara langsungnya belum ada,” tuturnya.
Yang mengambil gambar, menurut dia, justru perangkat desa sendiri.
Warga kini bertahan hidup hanya dengan menyisir sisa stok dan mencari makanan hingga ke Dusun Pangalian. Tena memperkirakan cadangan itu hanya cukup satu sampai dua hari ke depan.
“Kalau tidak ada perhatian, mungkin bisa terjadi hal yang lain, mungkin bisa kelaparan,” pungkasnya.







