Frensia.Id- Di usia yang harusnya dipenuhi aktivitas belajar dan bermain, Merisa (16) justru harus berjuang melawan gagal ginjal.
Siswi kelas X SMK Muhammadiyah 4 Jember ini wajib menjalani kontrol dan cuci darah dua kali sepekan di rumah sakit.
Perjuangan Merisa untuk sembuh tidak mudah. Keterbatasan ekonomi membuat keluarganya tak selalu bisa menyewa kendaraan atau menggunakan ambulans.
Gadis asal Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, Jember ini kerap terpaksa diantar menggunakan becak motor (bentor) tua milik ayahnya, Slamet.
Bentor tersebut merupakan becak tua yang dimodifikasi dengan sepeda motor lawas. Meski serbaterbatas, kendaraan itulah yang menjadi tumpuan Slamet untuk mengantar sang putri berobat.
“Yang penting bagaimana saya bisa mengantar Merisa ke rumah sakit. Saya hanya berharap kepada Allah, semoga anak saya bisa sembuh,” katanya, Rabu (26/8/2026).
Slamet yang bekerja sebagai tukang becak mengaku penghasilannya sangat tak menentu. Dalam sehari, ia kadang hanya membawa pulang uang Rp 20 ribu. Untuk sekadar makan sehari-hari saja, ia tak jarang harus berutang.
“Penghasilan saya sekitar Rp 20 ribu kalau ada penumpang. Untuk makan saja kadang harus pinjam. Tapi kalau anak sakit, bagaimanapun caranya harus tetap saya antar,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, jadwal cuci darah Merisa dua kali sepekan tak boleh terputus. Meski begitu, hingga kini belum ada petugas medis dari program pemerintah yang memantau langsung kondisi anaknya ke rumah.
“Pak Kepala Desa sudah tahu kondisi anak saya. Tapi sampai sekarang belum ada petugas medis yang datang ke rumah. Kami tetap berusaha sendiri kalau harus kontrol,” paparnya.
Slamet menceritakan, bantuan ambulans dari relawan lokal sempat datang dan mengantar putrinya sebanyak empat kali. Namun setelah itu, dia harus kembali memutar otak agar Merisa tetap bisa berobat.
Dia juga mengaku tak paham mengenai program Home Care dari Pemkab Jember karena keterbatasan informasi dan ponsel yang ia miliki hanya sebatas untuk menerima telepon penumpang.
Kini, Slamet hanya berharap ada ulur tangan pemerintah atau dermawan, minimal untuk membantu operasional transportasi berobat sang anak.
“Kalau tidak bisa antar-jemput, kami bisa dibantu ongkos bensin. Itu saja harapan saya kepada Gus Fawait. Yang penting anak saya bisa tetap kontrol dan sembuh,” pungkasnya.







