FRENSIA.ID – Bursa pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember periode 2026–2030 semakin menghangat. Setelah melalui tahapan pertimbangan kualitatif, Senat UIN KHAS Jember memastikan delapan nama calon rektor telah diusulkan kepada Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia. Menariknya, dari kedelapan figur tersebut, satu nama mencuat kuat sebagai primadona di kalangan mahasiswa demi menjamin mutu kampus. Ia adalah Prof. Dr. Moch. Chotib.
Dukungan arus bawah ini bukan tanpa alasan. Belakangan, beredar luas sebuah surat kajian dari kalangan mahasiswa yang menyoroti rekam jejak para kandidat. Hasilnya, surat tersebut secara gamblang merekomendasikan Prof. Chotib sebagai figur yang paling layak memimpin UIN KHAS Jember ke depan.
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN KHAS Jember, Bahrul Ulum, menegaskan bahwa mahasiswa meyakini kapabilitas sang profesor dalam mendongkrak kualitas akademik kampus. Pengalaman birokrasi dan rentetan prestasinya menjadi tolak ukur utama.
“Ia pernah memimpin Pascasarjana dan mantan Warek II. Historis jabatan dan pengalaman, tentu tak diragukan,” ungkapnya.
Melihat portofolio mentereng dari Guru Besar Ilmu Ekonomi asli Jember tersebut, tak heran jika gelombang dukungan terus mengalir. Kesepakatan tidak hanya muncul dari organisasi intra kampus, tetapi juga merambah hingga ke organisasi ekstra kampus.
Semua bersepakat merapatkan barisan untuk merekomendasikan Prof. Chotib.
“Setidaknya ada 5 surat yang telah disiapkan dan telah dikirim. Surat dari RM, SEMA, DEMA dan dua surat dari organisasi ekstra kampus”, beber Bahrul.
Langkah proaktif pengiriman surat dari seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) ini murni ditujukan sebagai masukan konstruktif. Mahasiswa ingin membantu Menteri Agama agar dapat membaca dan menyeleksi figur calon rektor secara komprehensif dan objektif.
Mereka sangat berharap proses suksesi ini berjalan mulus dan membawa dampak positif bagi almamater.
“Kami ingin bantu pak menteri, agar terhindar dari kajian yang buruk sebagaimana tempo hari terjadi di UINSA”, tambah presiden BEM UIN KHAS ini.
Sebagai informasi, posisi Prof. Dr. Moch. Chotib saat ini memang digadang-gadang masuk dalam bursa kandidat terkuat. Pria yang akrab disapa Cak Boy ini adalah sosok veteran dalam manajemen pendidikan tinggi.
Ia tercatat pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Wakil Rektor II, hingga Direktur Pascasarjana.
Dalam pencalonannya kali ini, Prof. Chotib membawa gagasan visioner melalui grand design strategis bertajuk “Sapta Laksya PASTI”. Konsep ini dirancang sebagai arah pengembangan UIN KHAS Jember menuju sentrum keunggulan akademik dan keilmuan Islam di kancah internasional. Adapun tagline “PASTI” merupakan akronim dari Progresif, Aspiratif, Solutif, Transparan, dan Inspiratif.
Melalui visi besar tersebut, Cak Boy bertekad mewujudkan UIN KHAS Jember sebagai Center of Excellence dalam transformasi pendidikan. Ia ingin memadukan keilmuan Islam yang adaptif tanpa meninggalkan pijakan kearifan sosial dan lokal.
Menurut Prof. Chotib, formulasi ini sangat krusial mengingat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) saat ini tengah menghadapi tantangan multidimensional di era globalisasi. Tantangan tersebut membentang dari urgensi menghapus dikotomi antara ilmu agama dengan pengetahuan modern, hingga tuntutan mutlak untuk meningkatkan reputasi akademik kampus di mata dunia.
Kini, dengan rekam jejak matang dan dukungan penuh mahasiswa, langkah Prof. Chotib menuju kursi rektorat kian diperhitungkan.






