FRENSIA.ID – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Jember sukses menggelar forum diskusi bertajuk Malam Taswirul Afkar pada Senin (04/11). Bertempat di Aula Universitas Islam Jember (UIJ), acara yang mengangkat tema “Revolusi Demokrasi” ini memantik diskusi yang cukup memanas.
Forum tersebut turut dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari pengurus Fatayat NU hingga para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan menghadirkan tokoh nasional, Savic Ali.
Salah satu momen paling menonjol dan penuh ketegasan dalam diskusi tersebut datang dari Ketua PC Fatayat NU Jember, Nurul Hidayah. Di hadapan Savic Ali dan para peserta yang hadir, Nurul menyuarakan keresahannya terhadap kondisi sosial politik saat ini.
Ia menekankan bahwa pemuda dan kader NU harus kembali berpihak pada kepentingan rakyat bawah.
“Kita harus kembali ke rakyat”, katanya.
Keresahan Nurul memuncak melihat realitas di mana suara rakyat seolah mulai diabaikan dan apatisme merajalela.
“Tidak ada yang peduli”, ujarnya.
Sebagai wujud nyata dari kegelisahan tersebut, Nurul menyatakan hasratnya untuk melakukan aksi demonstrasi turun ke jalan, meski ia menyadari adanya keterbatasan massa secara praktis.
“Saya mau aksi, tapi sepertinya kurang pasukan”, ujarnya.
Meski demikian, tekad bulat PC Fatayat Jember ini pantang surut oleh ancaman apapun ke depannya.
“Kita siap dengan resikonya”, tandasnya.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan tidak gentar jika sikap kritis organisasinya berdampak pada terhambatnya akses bantuan atau fasilitas dari pihak luar.
“Gak papa Fatayat tidak dapat program. Gak punya dana untuk program”, tambahnya.
Sikap ini diambil demi menjaga independensi dan idealisme organisasi.
“Kita terus berdiri di atas kebenaran, bukan di atas kepentingan”, ujarnya.
Di lain sisi, menanggapi dinamika politik dan semangat perlawanan tersebut, Savic Ali memaparkan pandangannya bahwa gerakan sipil dan organisasi memang membutuhkan evaluasi.
Jika pihak-pihak yang didukung terbukti tidak bisa memperjuangkan harapan-harapan demokrasi, maka opsi tegas harus diambil.
“Memang harus ada refleksi di tingkat internal”, tegas Savic.
Ia mendorong agar masyarakat sipil memiliki posisi tawar yang kuat dan berani mengambil jarak.
“kita harus katakan bahwa kalau kamu tidak mau, ya harus tarik dukungan”, tandasnya.
Menurut Savic, tantangan untuk merawat demokrasi dan mengajak masyarakat luas bergerak bersama memang sangat besar. Hal ini diperparah oleh kecenderungan masyarakat yang seringkali terbiasa bersikap kompromistis dan berpikir terlalu realistis terhadap keadaan.
Menepis pandangan yang serba pragmatis itu, Savic mengambil teladan dari langkah perjuangan seorang nabi.
“Padahal rosul tidak realistis. Perjuangannya juga tidak realitis”, ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan besar justru sering kali lahir dari tekad yang mendobrak realitas matematis.
Sebagai penutup, Savic menitipkan pesan perlawanan bagi para peserta.
“Siapapun yang menyerah pada realitas, dia tidak akan melakukan perubahan”, ungkapnya.






