Frensia.Id – Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima. Ungkapan ini merupakan kutipan Seneca dalam karyanya Letter From A Stoic.
Ungkapan tersebut nampaknya pas untuk mengungkapkan Sa’i, salah satu dari rukun haji. Seperti diungkap pada tulisan-tulisan sebelumnya, rukun haji harus diselami lebih dalam, tidak sekedar dimaknai hal yang wajib dilakukan saat menjalankan haji.
Seperti ungkapan Seneca diatas, Sa’i juga menggambarkan demikian. Usaha manusia sebagai keharusan menjalani hidup dan pada sisi yang bersamaan harus pasrah dengan hasil dari usaha tersebut, karena hal itu adalah diluar kendali manusia.
Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mengurai sa’i secara harfiah dimaknai usaha. Shafa berarti suci dan marwah berarti kepuasan hati. Secara kontekstual dimaknai sebuah usaha yang sungguh-sungguh mencari sumber kehidupan dengan memulainya dari yang suci dan berakhir dengan kepuasan hati.
Ali Syariati dalam Makna Haji menyebutkan sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup. Sebagaimana yang dilakukan oleh Siti Hajar ketika mencari iar. Proses pencarian air oleh istri Nabi Ibrahim as ini melambangkan pencarian kehidupan yang penuh teka-teki.
Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar beserta putranya Ismail berada di suatu tempat yang tandus. Mengetahui bahwa rencana itu adalah perintah Allah, Siti Hajar yakin bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan mereka berdua.
Meskipun ia istri Nabi dan itu jelas perintah Allah, Siti Hajar tidak diam, berpangku tangan dan pasif menunggu pertolongan Allah. Sebaliknya, ia bangkit, bergerak, berjuang mencari air dengan berlari-lari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya.
Pada akhirnya, air yang dicari Siti Hajar tidak ditemukan oleh usaha, kegigihan dan jerih parahnya, melainkan air itu akhirnya didapatkan karena kasih sayang Allah.
Melalui hentakan kaki Ismail ke bumi yang pada akhirnya memancarkan air. Hingga saat ini air tersebut terus mengalir tiada henti, air itu adalah air zam-zam.
Tawakal, itulah yang hendak diperlihatkan kepada umat manusia oleh Siti Hajar. Tawakal berbeda dengan pasrah, pasrah sifatnya pasif sementara tawakal bersifat aktif. Memasrahkan sepenuhnya pada Allah atas gerak dan perjuangan hidup.
Pada takaran filosofisnya sa’i memberikan makna yang amat dalam manusia yang statusnya mahluk harus berikhtiar, berusaha dan berjuang. Persoalan hasil dari ikhtiar tersebut murni hak absolut dan prerogratif Allah.
Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, ia hanya bisa berusaha dan memaksimalkan apa yang dia terima. Sa’i sebagai rukun haji memberikan makna bahwa, ada hal-hal dibawah kendali manusia dan ada hal-hal diluar kendali manusia.
Ketika usaha manusia tak berbanding lurus dengan hasil, percayalah kendali atau pilihan Tuhan jauh lebih baik dari pilihan Manusia itu sendiri.
Gerak, tawakal, ikhlas adalah pesan teladan Siti Hajar bahwa pilihan Tuhanlah yang pada akhirnya menjadi pilihan terbaik. (*)
*Moh. Wasik (Penggiat Filsafat Dar al-Falasifah, Filsafat Hukum dan LKBHI UIN KHAS Jember)