Frensia.Id- Berbeda pilihan tentu boleh, yang dilarang adalah konfliknya. Dalam iklim politik yang semakin memanas, hati-hati provokasi politik identitas. Utmanya masyarakat Jember, yang memiliki rekam jejak konflik identitas agama. Konflik sudah banyak memakan korban. Jika ditela’ah lebih lanjut, konflik masyarakat di Jember, hampir terjadi pada setiap periode pemerintahan.
Pada laporan penelitian Erfan Efendi menjelaskan bahwa ada banyak konflik agama terjadi di Jember. Misalanya, pada tahun 2008, pernah terjadi konflik antar masyarakat dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Desa Tanggul Wetan Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember, yaitu terjadi Pembakaran sebuah Musholla milik Jama’ah LDII.
Sebagian warga LDII terasa terusik ketika musholla yang didirikan secara gotong royong bersama anggota, dan dijadikan tempat ibadah keagamaan, seperti sholat berjama’ah, pengajian keagamaan tiba-tiba dihancurkan, dirobohkan pada malam kelima bulan romadlon oleh sekelompok warga yang merasa tidak senang dengan keberadaan musholla tersebut. Musholla yang dibakar berada di Wisma Handayani, sekitar 1 kilometer ke arah selatan dari pasar Tanggul. Wisma Handayani adalah satu kompleks perumahan yang dihuni sekitar sembilan kepala keluarga. Dan secara kebetulan musholla yang dirobohkan oleh massa posisinya berada di tengah-tengah perumahan tersebut.
Tahun selanjutnya, 2012, ada konflik pembakaran yayasan pendidikan pesantren. Tepatnya, tanggal 20 April 2012, ratusan warga beramai-ramai menyerbu pesantren Terbuka “Ma’had Al-Rabbany” di Dusun Krajan, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
Penyerbuan itu dilakukan karena pesantren tersebut dinilai mengajarkan aliran sesat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Penyerangan itu dilakukan karena merespon atas tuduhan dan tudingan yang dilakukan oleh pihak pesantren yang menganggap kafir tradisi atau keyakinan umat Islam lain seperti pengkafiran terhadap tahlil dan ziarah kubur yang menjadi tradisi warga muslim di sekitar pesantren.
Peristiwa yang hampir serupa, terjadi lagi pada tanggal 3 Agustus 2018. Seluruh media lokal Jember memberitakan tentang ratusan warga yang menamakan dirinya dengan Topi Bangsa (Tolak Penjajahan Ideologi Bangsa) melakukan demonstrasi untuk menolak keberadaan Sekolah Tinggi Dirosah Islamiyah (STDI) Jember.
Alasan penolakan itu karena STDI adalah sebuah lembaga Islam yang membuat resah kelompok Islam yang lain. Salah satu koordinator Aksi Gus Baiquni menyatakan bahwa STDI harus dibekukan karena tokoh STDI dalam salah satu ceramahnya menuding kalau Kyai itu sama dengan dukun, dan STDI adalah organisasi yang gampang sekali membidahkan dan mengkafirkan kelompok lain.
Sebenarnya kasus ini adalah kasus lama, yang telah mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah dan MUI. Setidaknya terdapat banyak kasus serius lain yang terus mewarnai konflik keagamaan di Jember. Ada lima kasus konflik keagamaan yang cukup menonjol yakni, konflik aliran Qodriyatul Qosmiya, Pesantren Rabbani, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Sekolah Tinggi Dirosah Islamiyah (STDI) Imam Syafi’i dan Konflik Syiah.
Kasus di atas, dapat terjadi lagi di beberapa waktu ke depan. Faktor utamanya tentu adalah lemahnya kecerdasan politik masyarakat. Masyarakat gampang diprovokasi untuk dipecah-belah. Utamanya, generasi muda milenial dan tokoh agama. Hal demikian ini telah diteliti oleh beberapa pakar seperti Hafidz Hasyim (Peneliti Teras Pintar Jember), Erfan Efendy (Dosen UIN Khas dan Penelitian Komunitas Keris Kencong), dan beberapa kalangan akademisi lainnya.
Pada intinya, temuan penelitian mereka dapat menjelaskan bahwa konflik terjadi karena faktor politik. Beberapa peneliti menyarankan agar pihak berwenang bisa serius melakukan analisis faktor konflik secara lebih mendalam. Hasil dapat dijadikan dasar untuk lebih hati-hati dalam berpolitik.