Frensia.Id– Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember segera berkoordinasi dengan Kepala Bulog Cabang Jember. Langkah ini mendesak dilakukan guna mengantisipasi anjloknya harga gabah di tingkat petani akibat cuaca ekstrem.
Kendala Kadar Air dan Kualitas Panen
Tingginya curah hujan di wilayah Jember saat ini berdampak buruk pada kualitas gabah. Kadar air yang tinggi menyebabkan butiran gabah berubah warna menjadi kekuningan dan mudah pecah saat digiling.
Kondisi ini membuat Bulog kesulitan menyerap seluruh hasil panen raya karena tidak memenuhi kriteria standar.
“Ketentuannya, kadar air pada gabah tidak boleh lebih dari 30%. Namun karena hujan terus-menerus, kadar air melampaui batas tersebut. Jika dipaksakan masuk mesin maklon, selain merusak alat, kualitas beras yang dihasilkan juga menurun sehingga harganya jatuh,” kata Candra, Selasa (3/3/2026).
Intervensi Pemerintah Sangat Dibutuhkan
Candra menambahkan bahwa tanpa campur tangan pemerintah daerah, gabah petani terancam ditolak oleh Bulog. Hal ini berdampak pada tidak tercapainya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500/kg.
“Sekda harus cepat bergerak agar petani dan Bulog sama-sama tidak dirugikan. Sosialisasi mengenai standar gabah yang dapat diterima Bulog juga perlu segera diperluas,” imbuhnya.
Keluhan Petani di Lapangan
Di sisi lain, Hendrik Wibowo, seorang petani asal Kecamatan Kalisat, mengapresiasi upaya DPRD dalam memfasilitasi komunikasi dengan pihak terkait. Menurutnya, kondisi di lapangan cukup berat karena banjir di wilayah Jember timur dan utara membuat lahan padi tergenang.
“Hujan tidak bisa dibendung. Satu-satunya harapan kami adalah bantuan dan kebijakan dari pemerintah agar gabah kami tetap terserap,” ungkap Hendrik.
Capaian Bulog Jember
Sebagai informasi, Bulog Cabang Jember mencatat prestasi gemilang pada tahun 2025 dengan realisasi penyerapan gabah mencapai 118 ribu ton. Angka tersebut melampaui target dan menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Namun, untuk tahun 2026, Bulog belum merilis angka penyerapan karena terkendala faktor cuaca dan kualitas panen yang fluktuatif.







