Konsesi Tambang NU, Akademisi Muhammadiyah: Jangan Tergesa-gesa!

Saturday, 29 November 2025 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Konsesi Tambang NU, Akademisi Muhammadiyah: Jangan Tergesa-gesa! (Ilustrasi Frensia.Id)

Gambar Konsesi Tambang NU, Akademisi Muhammadiyah: Jangan Tergesa-gesa! (Ilustrasi Frensia.Id)

FRENSIA.ID – Nahdlatul Ulama (NU) sejak beberapa bulan lalu telah resmi menerima konsesi tambang dari pemerintah, sebuah langkah yang memicu beragam spekulasi publik. Banyak pihak menduga bahwa konsesi ini menjadi salah satu akar masalah dari konflik internal yang tengah memanas di tubuh ormas Islam terbesar tersebut. Polemik mengenai keterlibatan ormas keagamaan dalam industri ekstraktif ini ternyata sudah diprediksi dan dikhawatirkan sejak awal oleh kalangan akademisi, termasuk dua peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Tammam Sholahudin dan Muh. Nur Rochim Maksum.

Hasil riset mendalam kedua akademisi tersebut, yang telah diterbitkan dalam Arus Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol 4 Nomor 2, memberikan peringatan keras terkait langkah ini. Mereka menyimpulkan bahwa pemberian konsesi tambang kepada NU memunculkan isu yang sangat kompleks, mencakup aspek ekonomi, lingkungan, hingga budaya. Di satu sisi, kegiatan pertambangan memang menjanjikan nilai ekonomi dan lapangan kerja, namun di sisi lain, aktivitas ini berpotensi besar merusak lingkungan dan justru bertentangan dengan nilai-nilai agama yang mewajibkan manusia untuk menjaga kelestarian bumi.

Analisis para peneliti ini menyoroti pergeseran posisi sosial NU jika benar-benar terjun ke bisnis tambang. Menggunakan kacamata teori kelas Karl Marx, pemberian konsesi ini dinilai akan menempatkan Nahdlatul Ulama pada posisi kelas atas sebagai pemilik modal atau pemilik tambang. Situasi ini menciptakan jurang pemisah dengan para pekerja tambang yang berada di posisi kelas bawah dan rentan terhadap eksploitasi. Konflik kelas dan kesadaran kelas berpotensi muncul ketika pekerja mengalami ketimpangan ekonomi, sementara kesadaran kritis mereka bisa saja diredam oleh “kesadaran palsu” yang membonceng narasi agama untuk membenarkan praktik-praktik yang sebenarnya merusak alam.

Baca Juga :  Gandeng ITB dan PT DI, Imigrasi Inisiasi 'Pagar Digital' Pakai Drone untuk Jaga Perbatasan

Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat dengan tinjauan teori hegemoni kultural Antonio Gramsci. Para peneliti mengingatkan bahwa konsesi tambang bukan sekadar transaksi ekonomi semata, melainkan juga melibatkan dominasi budaya yang dapat mengubah persepsi dan keyakinan masyarakat. Ada risiko bahwa legitimasi agama digunakan untuk menormalisasi kerusakan ekologis, sehingga masyarakat kehilangan daya kritisnya terhadap dampak buruk pertambangan.

Melihat besarnya potensi risiko tersebut, kedua akademisi Muhammadiyah ini menyarankan agar Nahdlatul Ulama tidak terburu-buru dalam mengeksekusi pembukaan tambang. Sebaliknya, NU didorong untuk melakukan kajian mendalam secara komprehensif terlebih dahulu yang meliputi aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan budaya secara menyeluruh. Sangat penting bagi NU untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat sekitar dan memastikan bahwa seluruh praktik operasionalnya nanti benar-benar selaras dengan nilai-nilai agama yang dianut, bukan justru mencederainya.

Baca Juga :  Dispenduk Jember Dekatkan Layanan melalui Aktivasi IKD Keliling

Langkah kehati-hatian ini idealnya diwujudkan dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses pengambilan keputusan. NU disarankan membuka ruang dialog dengan ahli lingkungan, masyarakat setempat yang terdampak langsung, serta organisasi non-pemerintah. Dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan, NU dapat memperoleh wawasan yang lebih luas dan objektif, sehingga keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan umat, bukan keputusan sepihak yang didasari kepentingan pragmatis.

Peringatan untuk tidak tergesa-gesa ini sejalan dengan sifat dasar manusia yang rentan terhadap kesalahan akibat ketidaktahuan. Tanpa upaya mencari ilmu dan pertimbangan matang, manusia cenderung jatuh dalam kebodohan yang meningkatkan risiko perilaku tidak adil, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun terhadap Tuhan. Ketergesaan seringkali menjebak manusia yang ingin mencapai tujuan secara instan tanpa mau bersusah payah melalui proses yang benar, yang pada akhirnya justru bermuara pada kesalahan fatal yang tidak diinginkan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Tanggapan Kadinsos Soal Warga Miskin di Pusat Kota Jember Tak Dapat Bansos
Pemkab Jember Jalin Kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan untuk Dukung Perhutanan Sosial
Gus Fawait Pastikan Pembangunan Sekolah Rakyat di Jember Selesai Akhir Juli
Ingat Pesan Prabowo, Anggota DPRD Jatim Ini Santuni Puluhan Yatim dan Dhuafa di Jember
Eks Wakil Ketua DPRD Jember Dituntut 6,5 Tahun Bui Kasus Korupsi Mamin
Gandeng ITB dan PT DI, Imigrasi Inisiasi ‘Pagar Digital’ Pakai Drone untuk Jaga Perbatasan
Gus Fawait Pastikan Layanan Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Indonesia Gratis untuk Warga Jember
Gus Fawait Ingatkan Pelajar Jember untuk Tidak Menikah Dulu Sebelum Lulus Kuliah

Baca Lainnya

Saturday, 11 July 2026 - 14:50 WIB

Tanggapan Kadinsos Soal Warga Miskin di Pusat Kota Jember Tak Dapat Bansos

Thursday, 9 July 2026 - 22:33 WIB

Pemkab Jember Jalin Kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan untuk Dukung Perhutanan Sosial

Thursday, 9 July 2026 - 21:05 WIB

Gus Fawait Pastikan Pembangunan Sekolah Rakyat di Jember Selesai Akhir Juli

Monday, 6 July 2026 - 18:16 WIB

Ingat Pesan Prabowo, Anggota DPRD Jatim Ini Santuni Puluhan Yatim dan Dhuafa di Jember

Friday, 3 July 2026 - 17:57 WIB

Eks Wakil Ketua DPRD Jember Dituntut 6,5 Tahun Bui Kasus Korupsi Mamin

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading