Membumikan Pendidikan Anak Ramah Disabilitas Sejak Dini

Tuesday, 16 July 2024 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Bencana terburuk adalah kebodohan, itulah ungkapan pendiri sekaligus Rais Akbar NU pertama, Hadratus Syekh KH. Hasyim As’ari. Dawuh ini menegaskan pentingnya pendidikan, ilmu dan pengetahuan untuk menegasikan kebodohan yang dapat mengantarkan seseorang pada kerugian yang amat besar.

Oleh sebab itu, mendiang Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa ilmu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjaga manusia. Ungkapan ini pernah disampaikan Nyai Sholichah Wahid Hasyim (Ibunda Gus Dur atau menantu KH. Hasyim As’ari) di Kwitang.

Dalam acara silaturahmi Lebaran (Halalbihalal) dan pembukaan Pengajian Khusus Wanita di Majelis Taklim Habib Ali al-Habsyi, Islamic Center Indonesia di Jakarta Pusat, tahun 1984.

Ungkapan “ilmu menjaga mu” yang dikaitkan dengan Sayyidina Ali, menilik pentingnya Ilmu pengetahuan untuk melindungi seseorang dari kesalahan dan kebodohan yang bisa menyebabkan kerugian dan penderitaan.

Secara tidak langsung, hal ini menyoroti pentingnya pendidikan bagi aspek kehidupan. Itu sebabnya, mengapa investasi dalam pendidikan dianggap sebagai penanaman modal terbaik untuk masa depan bangsa.

Oleh karena itu, dalam UUD 45 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan yang dirancang dan diselenggarakan oleh negara harus menyentuh pada semua lapisan tanpa ada diskriminasi.

Sebagaimana amanah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Bahkan di ayat 5 hak tersebut harus diperoleh sepanjang hayat.

Baca Juga :  Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Banyuwangi Gelar Banteng Musik Jalanan

Diksi “setiap warga negara” menunjukkan tidak ada pengecualian bagi siapa pun memperoleh pendidikan, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini selaras dengan UU NO. 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, Pasal 5 ayat (1) diatur penyandang disabilitas memiliki hak pendidikan.

Secara rinci, hak penyandang disabilitas telah ada pada pasal 10. Aturan demikian menegaskan bahwa mereka juga berhak atas layanan pendidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang. Tentunya, secara inklusif dan khusus.

Sejak usia dini, sistem pendidikan harus ramah disabilitas. Baik yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal seperti taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Salah satu institusi formal yang menyelenggarakan pendidikan ramah disabilitas, pada jenjang usia dini adalah RA. Nurul Mubarok. Lembaga yang berlokasi di Dusun Curahdami Desa Sukorambi Kec. Sukorambi Kab. Jember ini sedang menyelenggarakan pendidikan ramah disabilitas.

Aditia Fajar adalah siswa RA. Nurul Mubarok penyandang disabilitas yang sedang mengeyam pendidikan tersebut. Ibu Syifaul Jannah, salah satu guru di lembaga yang berdiri tahun 2006 ini kepada frensia.id, menuturkan bahwa Fajar panggilan akrabnya meskipun menyandang disabilitas, ia giat dan semangat belajar.

Mulyadi, S.Sos, salah satu penasehat di lembaga tersebut menyebutkan Fajar anak yang pintar. Dalam acara haflah ia bisa menjawab dengan lancar seperti lomba cerdas cermat. Hanya saja, Ia lemas dan kekuatan fisiknya kurang.

Baca Juga :  Ratusan Anggota Polresta Banyuwangi Terima Kenaikan Pangkat

Umarul Faruk ketua yayasan di lembaga tersebut mengatakan dalam proses pembelajaran, ustadzah atau tenaga pendidik di RA. Nurul Mubarok tidak membedakan siswa  difabel ataupun yang tidak. Menurutnya, mereka semua juga ingin belajar dan mengenyam pendidikan, khususnya pengetahuan agama.

Membumikan pendidikan anak ramah disabilitas sejak dini harus menjadi semangat dan visi bersama. Karena sejatinya, tidak ada perbedaan antara siswa yang difabel maupun yang tidak, semuanya memiliki mimpi sukses yang sama.

Perbedaannya adalah hanya keterbatasan pada tubuh maupun pikiran. Selebihnya, semangat dan cita-citanya tidak bisa dibedakan. Semuanya berhak untuk berprestasi dan meraih kesuksesan. 

Miftahurrahman dalam Disertasinya Konstruksi Pendidikan ideal bagi penyandang disabilitas dalam perspektif Al-Qur’an (2022), menyebutkan Al-Qur’an tidak membedakan manusia secara fisik, dalam hal pendidikan, sosial bahkan ibadah. Al-Qur’an tidak bersikap diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Kesempatan untuk menjadi manusia termulia sebagai orang yang bertaqwa diberikan kepada semua manusia, termasuk para penyandang disabilitas.

Membumikan pendidikan anak sejak usia dini yang ramah disabilitas ini menjadi gerbang awal dan pondasi bagi generasi emas Indonesia. Pasalnya pendidikan semacam ini, diyakni mampu membantu meletakkan dasar kepribadian, pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan dan berguna bagi anak. (*)

*Moh. Wasik (Anggota LKBHI UIN Khas Jember, Penggiat Filsafat Hukum dan Anggota Dar al-Falasifah)  

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Petani di Songgon Ditemukan Meninggal di Gubuk Kandang Sapi
Terduga Pelaku Pencabulan Anak di Muncar Nyaris Diamuk Massa
Rawat Sejarah! DPC PDI Perjuangan Banyuwangi Gelar Refleksi 30 Tahun Kudatuli
BPBD Salurkan Bantuan Darurat untuk Korban Puting Beliung di Purwoharjo
Dua Sepeda Motor Adu Banteng, Satu Pengendara Tewas
Bikin Geger dan Panik, Diduga Anak Buaya Muncul di Irigasi Sawah Banyuwangi
KM Genius Tenggelam di Perairan Utara Bali Usai Mati Mesin, 6 ABK Dievakuasi Tim SAR
Berbeda! Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Sedangkan Trump Hormati Profesi Mereka

Baca Lainnya

Tuesday, 28 July 2026 - 17:07 WIB

Petani di Songgon Ditemukan Meninggal di Gubuk Kandang Sapi

Tuesday, 28 July 2026 - 17:04 WIB

Terduga Pelaku Pencabulan Anak di Muncar Nyaris Diamuk Massa

Tuesday, 28 July 2026 - 10:38 WIB

Rawat Sejarah! DPC PDI Perjuangan Banyuwangi Gelar Refleksi 30 Tahun Kudatuli

Monday, 27 July 2026 - 18:56 WIB

BPBD Salurkan Bantuan Darurat untuk Korban Puting Beliung di Purwoharjo

Sunday, 26 July 2026 - 16:36 WIB

Dua Sepeda Motor Adu Banteng, Satu Pengendara Tewas

TERBARU

Kedua terduga pelaku berinisial A dan P yang nekat mencuri kopi di Gunung Pasang, Kecamatan Panti, Jember (Foto: Istimewa).

Criminalia

Nekat Curi Kopi di Perkebunan Gunung Pasang Jember, 2 Pria Dibekuk

Wednesday, 29 Jul 2026 - 18:51 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading