Sejumlah Akademisi UNEJ Kaji Kualitas Air Pada Sistem Pertanian Candipuro Lumajang, Perlu Upaya Stabilisasi

Tuesday, 19 November 2024 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Sejumlah Akademisi UNEJ Kaji Kualitas Air Pada Sistem Pertanian Candipuro Lumajang, Perlu Upaya Stabilisasi (Sumber: Frensia/Grafis)

Gambar Sejumlah Akademisi UNEJ Kaji Kualitas Air Pada Sistem Pertanian Candipuro Lumajang, Perlu Upaya Stabilisasi (Sumber: Frensia/Grafis)

Frensia.id- Sejumlah akademisi dari Universitas Negeri Jember (UNEJ), Evita Soliha Hani, baru-baru ini merampungkan penelitian mendalam tentang kualitas air di sistem pertanian Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

Pada 2024, penelitian cukup memberikan pemahaman pada pentingnya air sebagai elemen vital dalam keberlanjutan pertanian dan lingkungan.

Candipuro dikenal dengan sistem irigasi sawahnya yang terbentang luas, yang dibagi menjadi dua jenis: sawah tadah hujan dan sawah dengan irigasi semi-teknis. Irigasi sawah tadah hujan mencakup 92,5% atau 6.304 hektar lahan, sementara sawah semi-teknis melingkupi 7,5% atau 512 hektar.

Tentu yang merupakan tantangan besar bagi sektor pertanian saat ini adalah memastikan keamanan lingkungan, dan air menjadi indikator utama keberlanjutan ekosistem pertanian. Kualitas air di Candipuro dikaji untuk menilai dampak kegiatan pertanian, baik organik maupun non-organik, terhadap ekosistem perairan.

Identifikasi ini penting, karena sistem pertanian diatur sesuai standar nasional, SNI 6729;2016, yang mendorong praktik ramah lingkungan. Penelitian ini mengambil sampel air dari tiga titik strategis: hulu, tengah (irigasi), dan hilir (sungai), dengan pengambilan sampel dilakukan tiga kali di setiap titik untuk mendapatkan data yang representatif.

Baca Juga :  Luhut Berharap Adanya Kesadaran Kolektif Seluruh Elemen Bangsa

Untuk mengukur kualitas fisik air, mereka menggunakan alat Combo Quality Meter, sementara analisis kimia dan biologi dilakukan di Laboratorium Lingkungan, Perum Jasa Tirta 1. Penilaian mengacu pada baku mutu air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.

Hasilnya menunjukkan bahwa di bagian hulu, indikator pencemaran seperti biological oxygen demand (BOD) mencapai rata-rata 15,03 mg/L untuk sistem organik dan konvensional, sementara fosfat rata-rata berada pada 1,96 mg/L. Di bagian tengah, indikator BOD, fosfat, dan total Coliform untuk sistem organik masing-masing mencapai 6,76 mg/L, 7,37 mg/L untuk non-organik, dan 1.290 CFU/mL.

Di bagian hilir, pencemaran diukur melalui total padatan tersuspensi (TSS), BOD, chemical oxygen demand (COD), dan total Coliform.

Menurut penelitian ini, kualitas air menjadi tolok ukur penting dalam pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian organik, misalnya, diharuskan bebas dari kontaminan tanah dan air agar sesuai dengan aturan lembaga sertifikasi organik.

Baca Juga :  Merasa Terpanggil, Jajaran Satkoryon Banser Umbulsari Turun ke Lokasi Banjir di Desa Curah Malang

Penggunaan bahan alami dalam budidaya menjadi langkah utama dalam menjaga kelestarian ekosistem perairan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti BOD, COD, TSS, total fosfat, dan total Coliform, masih melebihi ambang batas mutu air yang ditentukan. Untuk itu, diperlukan langkah pengendalian agar air dapat memenuhi standar baku mutu, baik untuk sistem organik maupun non-organik.

Tim peneliti menyoroti pentingnya pengendalian antropogenik, yaitu mengurangi limbah domestik dan pertanian yang mengalir ke jaringan irigasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem budidaya organik, semi-organik, dan non-organik, yang bertujuan menjaga kestabilan ekosistem pertanian dan menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan.

Evaluasi ini diharapkan membantu menciptakan model pertanian yang ramah lingkungan, stabil secara ekosistem, dan mampu menjawab tantangan era modernisasi pertanian.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kebakaran Hebat Mangli-Jember, Motor NMax Gosong, Kerugian Ratusan Juta
Heboh Kasus Amsal Sitepu, Hotman Paris: Membahayakan Dunia Pengacara
Perkuat Pengawasan WNA, Timpora Bondowoso Gelar Rakor Sinergi Antar Instansi
Luhut Berharap Adanya Kesadaran Kolektif Seluruh Elemen Bangsa
Bahas Kerja Sama Diplomatik dengan Swiss, AHY Menerima Kunjungan Dubes
DPP PKB Mengutuk Keras Pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei
Permintaan Telur Puyuh Melonjak Drastis, Harga Masih Stagnan
Kesaksian Warga Gumelar atas Kronologi Banjir
Tag :

Baca Lainnya

Monday, 6 April 2026 - 08:57 WIB

Kebakaran Hebat Mangli-Jember, Motor NMax Gosong, Kerugian Ratusan Juta

Wednesday, 1 April 2026 - 16:49 WIB

Heboh Kasus Amsal Sitepu, Hotman Paris: Membahayakan Dunia Pengacara

Tuesday, 31 March 2026 - 16:06 WIB

Perkuat Pengawasan WNA, Timpora Bondowoso Gelar Rakor Sinergi Antar Instansi

Thursday, 5 March 2026 - 22:34 WIB

Luhut Berharap Adanya Kesadaran Kolektif Seluruh Elemen Bangsa

Thursday, 5 March 2026 - 18:33 WIB

Bahas Kerja Sama Diplomatik dengan Swiss, AHY Menerima Kunjungan Dubes

TERBARU

Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait (Foto: Istimewa).

Politia

Terobosan Baru Gus Fawait, Gelar Forum Uji Publik Secara Live

Saturday, 11 Apr 2026 - 16:22 WIB

Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait (Foto: Istimewa).

Politia

Gus Fawait Sulap Jalan Kartini Jadi Food Street Ikon Baru Jember

Saturday, 11 Apr 2026 - 16:17 WIB