Frensia.id-September tahun ini benar-benar kelam bagi perempuan. Tercatat, telah 3 orang yang jadi merenggang nyawa. Mereka jadi korban Femisida.
Femisida sendiri, merujuk pada pembunuhan yang menargetkan perempuan berdasarkan jenis kelamin atau gender mereka, sering kali terjadi sebagai puncak dari kekerasan berbasis gender yang telah berlangsung sebelumnya. Tindakan ini sering jadi atensi Komnas Perempuan.
Dari saking banyak kejadiannya, Mereka juga merekomendasikan agar pemerintah mendirikan femisida watch. Yang demikian merupakan sebuah mekanisme untuk mengidentifikasi kasus, serta mengembangkan langkah-langkah pencegahan, penanganan, dan pemulihan bagi keluarga korban.
Memang di Indonesia telah banyak kasus femisida yang memilukan. Terutama, akhir-akhir ini. Setidaknya, di bulan September saja, telah ada tiga kasus korban Femisida yang memilukan. Mayoritas pelakunya adalah lelaki.
Siswi Pelambang Korban 4 Anak Laki-laki
Perempuan beriniasil AA (13), seorang siswi asal Palembang, Sumatra Selatan, ditemukan tewas. Jenazahnya ditemukan di area pemakaman umum Talang Krikil, Palembang, 01/09/2024.
Ada empat tersangka dalam kasus ini. Kepolisian Sumatra Selatan sebelumnya mengungkapkan bahwa tindakan mereka didorong oleh pengaruh buruk dari kebiasaan mengonsumsi film tak senonoh atau konten dewasa.
Para pelaku diketahui terpapar konten yang memicu perilaku yang tidak sesuai dan melanggar hukum. Yang menarik, menurut Komisioner KPAI, Dian Sasmita, tiga dari para pelaku yang masih berusia anak dan saat ini ditempatkan di panti sosial, menyadari bahwa tindakan mereka salah. Mereka bahkan beberapa kali menangis sebagai tanda penyesalan atas perbuatan yang telah mereka lakukan.
Gadis Penjual Gorengan Korban Residivis
Seminggu kemudian, giliran seorang gadis tekun penjual gorengan yang jadi korban. Inisialnya NKS, ia ditemukan meninggal dan dikubur 2 hari setelah dinyatakan hilang.
Pihak kepolisian berhasil menangkap IS (26), seorang residivis yang sebelumnya juga melakukan kasus serupa dan narkoba. Kapolda Sumatera Barat, Irjen Suharyono, mengungkapkan bahwa peristiwa ini bermula ketika tersangka, bersama tiga rekannya, membeli gorengan dari korban.
Saat itulah muncul niat buruk dari tersangka yang berujung pada tindakan tragis tersebut. Polisi juga telah menjelaskan kronologi lengkap kejadian ini.
Mirisnya, NKS merupakan tulang punggung keluarga dan gadis memiliki cita-cita tinggi menempuh pendidikan yang layak. Tentu begitu menyayat hati, dirinya ditemukan terekubur di tanah dan tanpa memakai sehelai benang pun.
Korban KDRT Di Bandung
Beberapa hari kemudian, Femisida memakan korban kembali. Kali ini seorang wanita berinisial SO (21), asal Ciwastra, Bandung. Ia meninggal dengan sejumlah luka yang mengerikan.
Pelakunya, DJ (31), telah ditetapkan sebagai tersangka kekerasan dalam rumah tangga. Sebenarnya, tidakan tersebut bermula dengan konflik yang sangat sederhana. Kejadian bermula dari pertengkaran DJ dan SO cek cok. DJ menuduh SO selingkuh. Karena gelap mata, ia memukul dan menusuk kekasihnya 7 kali dengan pisau.