Kematian Agama dan Panggung Derita Buruh

Thursday, 1 May 2025 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya,” sabda Nabi yang sederhana, tetapi terusir dari meja kebijakan. Dalam sabda itu, terkandung etika ekonomi Islam yang menolak eksploitasi. Tapi mari jujur: sabda ini sunyi di tengah bisingnya pertumbuhan ekonomi. Buruh tak hanya kehilangan upah, tapi juga kehilangan martabat. Hak-haknya dirampas secara sistemik oleh kekuasaan yang lebih mencintai angka ketimbang nyawa.

Jurnal berjudul “Kontekstualisasi Hadis Hak Buruh Perspektif Hermeneutika Hassan Hanafi” yang ditulis oleh Tri Mulyani, Hartati, dan Lukman Zain MS (Jurnal Studi Hadis Nusantara, Vol. 3 No. 2, 2021), menyuguhkan cara pandang segar atas hadis tersebut. Dengan pendekatan hermeneutika Hassan Hanafi, hadis tidak diposisikan sebagai teks beku yang tinggal disalin, tetapi sebagai teks hidup yang harus ditafsirkan dalam denyut realitas sosial.

Pendekatan Hanafi menempatkan tiga pijakan penting: kritik historis, kritik eidetis, dan kritik praksis. Kritik historis mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan hanya menyampaikan hadis itu, tetapi pernah menjadi pekerja upahan di bawah Sayyidah Khadijah. Hadis ini tidak lahir dari langit kekuasaan, tetapi dari bumi pengalaman. Ini bukan sabda elitis, melainkan suara pekerja.

Baca Juga :  Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

Kritik eidetis mengurai bahwa kata ajr dalam hadis bukan semata “upah”, tetapi juga mencakup ganjaran, penghargaan, bahkan kehormatan. Pekerja adalah manusia yang layak diakui kontribusinya, bukan sekadar alat produksi. Pembayaran upah, dalam terang ini, bukan semata transaksi ekonomi, tetapi peneguhan nilai keadilan.

Puncaknya adalah kritik praksis. Di sinilah tafsir agama menjelma aksi sosial. Hadis tidak berhenti di mimbar, tetapi bergerak ke meja kebijakan, ke regulasi, bahkan ke jalan-jalan tempat buruh meneriakkan haknya. Hermeneutika Hanafi mendorong teks untuk berpihak. Dalam kasus buruh, berpihak berarti menolak eksploitasi yang disahkan oleh negara.

Sayangnya, negara justru memilih jalan sebaliknya. UU Cipta Kerja yang lahir tahun 2020 adalah bukti bahwa negara lebih tunduk pada logika investasi ketimbang etika keadilan. Pemangkasan pesangon, fleksibilitas kontrak, pelemahan serikat pekerja, hingga penghapusan cuti-cuti sosial menunjukkan betapa buruh dijadikan ongkos pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga :  Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Melalui kerangka Hassan Hanafi, dapat ditegaskan bahwa hadis tidak bisa dibaca tanpa konteks struktur sosial yang timpang. Ketika buruh ditindas secara sistemik, maka membaca hadis tanpa berpihak adalah pengkhianatan terhadap semangat Nabi. Agama tidak hadir untuk menenangkan yang tertindas agar sabar, tetapi untuk membangkitkan mereka agar menuntut hak.

Buruh adalah wajah manusia biasa yang menghadapi sistem tidak biasa. Maka pembacaan hadis tentang buruh harus melampaui literalitas. Ia harus menjadi panggilan moral bagi pengambil kebijakan, para pemilik modal, dan juga kalangan agamawan. Jika tidak, jangan salahkan bila hadis itu tinggal jadi hiasan, sementara keringat buruh terus mengering tanpa dibayar.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran
Sekolah Itu Taman, Bung!
Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU
Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia
Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti
Menyiramkan Air Keras ke Wajah Seseorang, itu Hanya Kenakalan?
Jalan Strategi: Pengakuan Tim Sukses Pilkades
Representasi Diri
Tag :

Baca Lainnya

Sunday, 19 July 2026 - 20:26 WIB

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Thursday, 16 July 2026 - 10:40 WIB

Sekolah Itu Taman, Bung!

Monday, 29 June 2026 - 13:22 WIB

Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU

Monday, 8 June 2026 - 23:36 WIB

Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia

Monday, 1 June 2026 - 07:39 WIB

Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading