Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

Monday, 1 June 2026 - 07:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi dunia politik (Sumber: Gemini AI)

ilustrasi dunia politik (Sumber: Gemini AI)

Frensia.id- Menurut beberapa pendapat yang masih diragukan, profesi tertua di dunia adalah tenaga medis spesialis bedah. Dasar argumentasi dari pandangan ini tidak lain adalah karena asal-muasal manusia berawal dari Adam dan Hawa, sedangkan Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Siapa lagi yang membedah tulang rusuk Adam kalau bukan seorang spesialis bedah. Ada pula yang berpendapat bahwa profesi pertama itu adalah prostitusi. Pandangan ini dikuatkan dengan argumentasi bahwa nafsu liar manusia secara naluriah selalu mendahului pikirannya sendiri. Adapun simbol dari nafsu bisa digambarkan dengan jelas oleh adanya rumah bordil.

Ada pula yang menganggap bahwa profesi tertua adalah ekonomi. Relasi antara dua individu atau lebih dengan dalih adanya self interesting kemdian menjalin kontrak. Seperti halnya ada orang beli nasi goreng jam satu malam. Jangan diasumsikan bahwa penjual adalah orang baik menurut pembeli, karena saat ia lapar malam hari ada saja orang yang mau memenuhi kebutuhannya. Bukan pula pembeli adalah orang baik, mengingat bahwa pada jam satu malam ada saja yang mau beli dagangannya. Pembeli mau beli jam satu karena ia lapar. Penjual masih buka pada jam satu karena memang jam kerjanya, dimana kompetitornya menjadi minim pada saat itu.

Begitu pula dengan tenaga medis spesialis bedah, mereka mau mengambil profesi tersebut karena tahu secara pasti akan ada orang yang membutuhkannya, sehingga dirinya berpotensi meraup pundi-pundi rupiah dari orang yang berkepentingan. Para pelacur juga demikian, mereka tahu pasti banyak orang yang pikirannya tidak bisa mengendalikan nafsunya dan imannya juga tidak bisa merawat moralnya, sehingga tetap butuh pelampiasan. Para pelacur itu hadir dalam rangka sebagai biro jasa memfasilitasi nafsu laki-laki hidung belang. Pada akhirnya mereka memasang tarif. Oleh karena itu semua profesi yang tertua hingga yang terkini selalu mempunyai modus ekonomi.

Tetapi ada yang luput, ternyata di dunia ini tidak selamanya bermodus ekonomi. Seperti halnya kekuasaan. Memang benar beberapa gelintir orang memaksakan dirinya untuk duduk di parlemen karena ada modus ekonomi, berupa bisnis akan lebih mulus apabila difasilitasi oleh kekuasaan. Yang lain, masih dengan modus yang sama, para konglomerat tidak terjun langsung sebagai atlit pesilat politik tetapi mendanai pemenangan salah satu calon. Supaya bisnisnya tidak diganggu dan supaya mempunyai peluang menangani proyek pemerintah. Itu semua karena dasar ekonomi.

Baca Juga :  Pengorbanan dalam Pilkades

Ada pula yang bukan berdasarkan modus ekonomi, sebagaimana sejarah umat manusia. Bahwa saat Tuhan menciptakan Adam, Iblis merasa terganggu. Surga yang merupakan kekuasaan teritorialnya dengan hadirnya Adam, akan memperoleh rival. Sebagai sama-sama hamba Allah Iblis merasa lebih baik dari Adam. Dirinya (Iblis) dan surga adalah harga mati. Ternyata ketamakan yang berbalut kesombongan justru menjadikannya terlempar dari surga dan menjadi makhluk yang terkutuk.

Peristiwa tersebut, yakni Iblis yang merasa berkuasa dengan memonopoli predikat kehambaan dan surga, terjadi sebelum diciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Sebelum syahwat manusia membutuhkan pelampiasan yang illegal dengan terbentuknya sistem prostitusi. Jauh sebelum manusia mempunyai modus yang mendasari dalam bertransaksi di tengah relasi sosial. Sesuai argumentasi semacam ini, maka bisa disebut bahwa berkuasa adalah profesi pertama dan paling purba.

Berkuasa juga merupakan profesi yang tidak jelas dan tidak mempunyai kepastian. Layaknya seseorang yang sedang menanti kepastian secara tulus akan sebuah cinta dari perempuan, tetapi justru hanya dibuat menanti. Ia sendiri tidak peka bahwasannya perempuan tersebut hanya menjaga komunikasi karena ia tidak sampai hati untuk memutus relasi. Padahal sedikitpun tidak pernah dilirik. Hari ini juga banyak kondisi demikian, seseorang yang kalah nyaleg kemudian karena dana masih banyak beralih nyalon bupati, mengingat elektabilitas yang cacat selalu saja bisa ditentukan oleh pamor individu berdasarkan kekayaan bukan integritas personal. Kemudian kalah lagi, pindah dapil, nyaleg lagi. Terus sampai dana habis tanpa sadar bahwa dirinya tidak memliki skill pesilat. Apabila sudah sampai pada ambang batas keputusasaan baru jadi perenung yang bijak bestari. Apabila menang, maka dengan bangga mendeklarasikan ini adalah perjuangan. Padahal kondisi yang seperti itu sangat sulit untuk dibedakan antara perjuangan dan ambisi buta yang tidak jelas.

Profesi berkuasa juga menemukan momentum ketidakpastiannya berdasarkan pembahasannya. Seperti hari-hari ini, menjelang Pilkades kurang dua tahun. Semuanya dibilang tidak pasti karena pendukung calon selalu saja mendahului takdir bahkan melampauinya. Orang-orang tersebut biasanya banyak yang bangun paginya setelah terik matahari kira-kira setinggi satu tombak. Dengan kelopak mata bengkak dan retina merah karena semalam berbincang membahas seperti si calon anu sekarang sudah gerilya di gang buntu, ia sudah pasang satu orang disana. Si calon anu sudah jual sawah, awalnya minta dua ratus juta tetapi pembeli mintanya dua petak langsung dengan harga tiga ratus juta. Si calon anu jadi imam baca yasin saat tahlilan. Si calon anu ikut istighosah, kemudian mengeluh kakinya kesemutan. Si calon anu kemarin memaksakan diri gali kuburan padahal tidak pernah, anehnya ia tidak mau nyumbang meskipun sekardus air padahal semua penggali kubur waktu itu diajak untuk mendukungnya. Si calon anu waktu ngopi di warungnya Mbok Saritem nggak bawa rokok sendiri. Si calon anu bagi-bagi kupon undian sepdah motor, kalau dirinya menang maka akan ada undian secara cuma-cuma. Terus saja begitu yang dibahas tiap malam hingga corong masjid berbunyi rekaman mengaji, menandai bahwa Subuh hampir tiba. Besoknya apa yang dibahas kemarin diulang lagi, tetapi dengan tambahan info-info terbaru dari kelucuan sikap si calon.

Baca Juga :  Kiprah Politik sang Gladiator

Demikian lah pembahasan tentang keberkuasaan, tidak ada habisnya. Anggap saja 2026 dan 2027 intensitas pembahasan fokus ke Pilkades. 2025 mengenang Pilkada. 2024 disamping mengenang Pemilu, juga membahas strategi dan elektabilitas calon saat Pilkada. 2022 dan 2023 membahas perhitungan dan strategi dari para caleg. 2021 membahas persiapan caleg di tahun 2024 khususnya bagi yang telah berambisi sebagai pendatang baru atau yang kalah di tahun 2019 tetapi masih siap bertanding. 2020 bahas Pilkada. 2019 Pemilu. Terus begitu.

Hari ini sepetinya politik sudah direduksi sekedar wahana berkuasa bukan jalan ijtihad untuk memproduksi keadilan. Semisal keadilan bagi peternak kambing yang menertawai kambingnya sendiri karena harganya anjlok habis-habisan mekipun hari raya Idul Adha. Jika begitu berkuasa tidak sekedar menjadi profesi paling purba. Ia kadang kala merupakan warisan resmi dari Iblis yang kecewa.      

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Menyiramkan Air Keras ke Wajah Seseorang, itu Hanya Kenakalan?
Jalan Strategi: Pengakuan Tim Sukses Pilkades
Representasi Diri
Pengorbanan dalam Pilkades
Modal Pilkades
Kiprah Politik sang Gladiator
Gelagat Menjelang Pilkades
PR Presiden! Catatan Jahat “Oknum” TNI 2 Tahun Terakhir

Baca Lainnya

Monday, 1 June 2026 - 07:39 WIB

Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

Thursday, 28 May 2026 - 20:20 WIB

Menyiramkan Air Keras ke Wajah Seseorang, itu Hanya Kenakalan?

Thursday, 28 May 2026 - 15:13 WIB

Jalan Strategi: Pengakuan Tim Sukses Pilkades

Monday, 25 May 2026 - 06:19 WIB

Representasi Diri

Friday, 22 May 2026 - 12:55 WIB

Pengorbanan dalam Pilkades

TERBARU

ilustrasi dunia politik (Sumber: Gemini AI)

Kolomiah

Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

Monday, 1 Jun 2026 - 07:39 WIB

Camat Semboro, Kabupaten Jember, Ahmad Fauzi saat ditemui di kantor kecamatan (Foto: Sigit/Frensia).

Politia

Ini Hasil Sidak-Supervisi Satgas MBG Jember di Kecamatan Semboro

Saturday, 30 May 2026 - 00:16 WIB