Frensia.Id– Pendamping hukum SL (siswi SMP korban kekerasan seksual oleh ayah tirinya), Silva Dwi Lestari, menegaskan bahwa penanganan kasus ini tidak boleh berhenti pada proses hukum semata.
Fokus utama saat ini, pemulihan psikologis dan pemenuhan hak pendidikan korban yang kini tengah terguncang.
Sebagai siswi kelas akhir, SL berada di masa krusial untuk melanjutkan pendidikan. Namun, trauma mendalam membuatnya enggan untuk kembali ke sekolah.
“Kami terus memberikan pendampingan intensif. Jangan sampai peristiwa kelam ini merampas hak-hak korban. Dia masih anak-anak, masa depannya masih sangat panjang. Kami tidak ingin ia patah semangat,” kata Silva, Sabtu (17/1/2026).
Silva dan timnya berupaya keras memulihkan mental SL yang saat ini sangat rapuh. Kondisi ini diperparah oleh adanya pihak dari lingkaran terdekat yang justru menyalahkan korban atas musibah yang menimpanya.
“Sangat miris, di saat ia butuh dukungan, ada orang terdekat yang justru menyalahkannya. Beruntung masih ada tantenya yang peduli dan terus mendampingi,” ujarnya.
Dalam sesi pendampingan, SL sempat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi dokter. Namun, rasa malu akibat perundungan atau stigma dari lingkungan sekolah menghambat langkahnya.
SL mengaku bersedia melanjutkan sekolah asalkan lokasinya jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Menanggapi hal itu, Silva berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan SL.
“Korban masih trauma. Ia ingin sekolah, tapi harus jauh dari lingkungan sekarang karena merasa malu dengan teman-temannya yang mulai mengetahui kasus tersebut,” paparnya.
“Jika memang diperlukan, kami akan upayakan korban bersekolah di lokasi yang jauh dari jangkauan teman-teman lamanya demi menghilangkan trauma dan memberikan rasa aman,” tambahnya.
Lebih jauh, Silva menyoroti fenomena kekerasan seksual terhadap anak di Jember yang dinilai cukup tinggi. Dia meminta agar pemerintah daerah untuk lebih proaktif melakukan intervensi nyata alias dengan membuat rumah aman bagi korban asusila.
“Kami berharap pemerintah hadir memberikan intervensi nyata. Kami sangat membutuhkan adanya Rumah Aman (Safe House) yang representatif bagi korban asusila seperti SL,” ungkapnya.
Menurut Silva, kehadiran pemerintah sangat diperlukan untuk menjamin perlindungan bagi anak-anak korban kekerasan. Terutama tempat perlindungan untuk memulihkan kondisi psikologis mereka.
“Saya yakin di luar sana masih banyak anak yang bernasib serupa dengan SL. Mereka butuh tempat perlindungan yang aman untuk memulihkan jiwa mereka,” tandasnya.







