FRENSIA.ID- Berita duka menyelimuti civitas akademika Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember. Salah satu akademisi terbaik sekaligus pakar ilmu dakwah dan komunikasi Islam, Dr. Minan Jauhari, dikabarkan wafat pada pagi hari ini, 02/02.
Kepergian sosok yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam ini menyisakan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar kampus, tetapi juga bagi dunia literasi Islam di Indonesia.
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai intelektual yang sangat produktif dan konsisten menelurkan gagasan-gagasan bernas melalui berbagai platform, mulai dari buku, jurnal bereputasi, hingga artikel lepas di berbagai media massa.
Jejak intelektual almarhum terukir jelas dalam sederet karya tulis yang menjadi rujukan akademis penting. Pemikirannya yang tajam mengenai dunia digital dan keislaman tertuang dalam karya-karya seperti Cyber Public Relations: Membangun Kepercayaan Publik Melalui Media Siber, Digital Preaching Activity, Jurnalisme Pesantren dan Media Cyber, hingga Movement of Dakwah Cyber.
Salah satu warisan intelektualnya yang dianggap paling fenomenal adalah buku hasil riset seriusnya yang berjudul Dialektika Khilafah & Politik Kebangsaan. Produktivitas dan kedalaman ilmunya inilah yang membuat Rektor UIN KHAS Jember memberikan penghormatan setinggi-tingginya.
Prof. Hepni, Rektor UIN KHAS menegaskan betapa berharganya sosok almarhum bagi institusi.
“Beliau adalah putra terbaik UIN KHAS. Banyak karya, tulisan dan prestasi,” ujarnya mengenang dedikasi almarhum.
Wafatnya Minan Jauhari terasa sangat mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya ia dikabarkan dalam kondisi sehat dan tidak mengidap penyakit serius. Kabar duka yang datang tiba-tiba ini membuat rekan sejawatnya, Dr. Ahmad Winarno, sempat merasa tidak percaya.
Bagi Winarno, almarhum bukan sekadar rekan kerja, melainkan mentor yang hangat dan mengayomi.
“Saya masih belum percaya kalau beliau meninggal dunia. Karena kabar lelayu datang begitu cepat. Kami semua kehilangan Cak Minan. Sosok teladan, senior, orang tua, dan guru bagi kami,” ungkap Winarno, haru.
Lebih lanjut, Winarno mengenang sifat almarhum yang selalu membimbing dosen-dosen muda dengan penuh kesabaran.
“Cak Minan selalu ngemong kami yang masih seumur jagung di dunia Akademik. Saya yakin beliau Husnul Hotimah, ratusan orang hari ini datang untuk mengantarkan dan mendoakan beliau. Selamat jalan Cak Minan, selamat berjumpa dengan kekasih Allah, Rasulullah SAW,” pungkasnya.
Kehadiran ratusan pelayat yang memadati rumah duka dan mensholatinya hari ini jadi bukti bahwa Minan Jauhari adalah sosok yang dicintai dan dihormati. Semoga jejak baik dan ilmunya terus mengalir.







