Konferensi Akademik di UGM Bahas Masa Depan Demokrasi, Soroti Relasi Polisi, Militer, dan Gerakan Sosial

Wednesday, 4 February 2026 - 21:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana saat Konferensi Akademik, di UGM, Yogyakarta. (Foto: Riyadi/Frensia).

Suasana saat Konferensi Akademik, di UGM, Yogyakarta. (Foto: Riyadi/Frensia).

Yogyakarta, Frensia.id– Masa depan demokrasi Indonesia dinilai sangat ditentukan oleh arah reformasi institusi keamanan serta kekuatan gerakan sosial sipil.

Isu tersebut mengemuka dalam Konferensi Akademik & Launching Akademik Republikan, yang diselenggarakan oleh Social Movement Institute bersama DPP UGM, di Auditorium FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Selasa, 4 Februari 2026.

Mengangkat tema “Masa Depan Demokrasi: Polisi, Militer, dan Gerakan Sosial”, konferensi ini menghadirkan pengamat politik Rocky Gerung sebagai keynote speaker, serta empat narasumber utama: akademisi UNJ Robertus Robet, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, Brigjen Pol. Dr. Indarto, Karotekkom DIV TIK Polri, dan Guru Besar Fakultas Hukum UGM Zainal Arifin Mochtar.

Dalam paparannya, Robertus Robet menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap institusi kepolisian.

Menurut dia, polisi tidak boleh dipahami sekadar sebagai institusi yang bekerja taken for granted, melainkan perlu dibaca melalui kerangka konseptual yang kritis.

Ia membedakan dua paradigma besar dalam memahami kepolisian: paradigma normatif yang melihat polisi sebagai agen moral negara, serta paradigma kritis yang memandang polisi sebagai instrumen kekuasaan dan kapitalisme.

Baca Juga :  Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Bagikan 3 Kunci Jadi 'Orang Besar' di Depan Maba

Akademisi UNJ ini mendorong pergeseran paradigma dari keamanan negara (state security) ke keamanan manusia (human security).

“Enggak ada misi yang lebih besar dalam relasi polisi dan negara demokratis selain menginjeksikan perubahan paradigma dari state security ke human security,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keamanan seharusnya menjadi hasil kokreasi antara negara dan warga, bukan monopoli aparat.

Bivitri Susanti menyoroti posisi polisi dan militer sebagai alat negara sebagaimana diatur dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945.

Sebagai alat, kata dia, institusi keamanan tidak boleh mengambil keputusan politik dan tidak boleh tunduk pada kepentingan kekuasaan tertentu.

“Makna dari alat negara adalah dia tidak mengambil keputusan politik,” tegasnya.

Aktor film Dirty Vote ini juga menyinggung masih kuatnya residu budaya militerisme pasca-pemisahan TNI dan Polri.

Reformasi kepolisian, menurut Bivitri, harus dibangun di atas perspektif HAM, konstitusionalisme, meritokrasi, serta tata kelola demokratis yang akuntabel dan bebas nepotisme.

Sementara itu, Zainal Arifin Mochtar mengkritik rivalitas antara TNI dan Polri yang dinilainya belum menyentuh akar persoalan.

Baca Juga :  Respons Wakil Ketua Penjaringan Rektor terkait Guru Besar di UIN KHAS: 20 Potensi Nyalon, 9 Diskualifikasi, 4 Segera Dikukuhkan

Menurutnya fenomena the rise of Polri pascareformasi, yang kemudian diimbangi dengan upaya menguatkan kembali peran militer di ruang sipil.

Pria yang akrab disapa Uceng pun mengibaratkan situasi tersebut seperti memelihara kobra di dalam rumah untuk mengusir tikus.

“Apakah kobra bisa memakan tikus? Bisa. Apakah kobra bisa mengontrol tikus? Bisa. Tapi siapa bilang kobra tidak berbahaya bagi penghuni rumah?” ujarnya.

Bagi Uceng, masalah Polri dan TNI harus dilihat dari akar masalah bukan pada gejalanya semata. Melihat sejarah warisan kolonial, persaingan kelembagaan, dan lemahnya budaya republikan.

Sehingga ia mendorong pengikisan kewenangan administratif kepolisian, penarikan militer dari urusan sipil, serta penguatan pendidikan humanis bagi aparat keamanan.

Konferensi ini sekaligus menandai peluncuran Akademik Republikan, sebuah inisiatif intelektual yang bertujuan menghidupkan kembali etos republikanisme, yakni politik yang berpijak pada kemaslahatan umum, kebebasan warga, dan pembatasan kekuasaan—di tengah tantangan demokrasi Indonesia ke depan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

UIN KHAS Jember Borong 7 Medali di Ajang PORSI JAWARA II 2026
UIN KHAS Jember Kirim Surat Keberatan dan Dugaan Kecurangan Panitia PORSI JAWARA II 2026
Penanggung Jawab UIN KHAS Jember Minta Lomba LKTI Diulang, Pengumuman Pemenang Catut Logo Kampus
4 Guru Besar UIN KHAS Resmi Ambil Berkas Pendaftaran Bakal Calon Rektor, 1 Masuk Pendaftar
Kapolda Jatim Pimpin Aksi Tanam Pohon dan Bersih-bersih Pantai di Banyuwangi
Peringati Maulid Nabi & HUT RI ke-80, SDN Patemon 02 Gelar Pawai Parade Ancak
Xenia Terguling di Ladang Cabai Usai Hantam Drainase di Kalibaru Banyuwangi
BEM PTMAI Zona V Geruduk DPRD Jatim, Sampaikan Kritik Isu Tambang hingga MBG

Baca Lainnya

Saturday, 12 September 2026 - 21:12 WIB

UIN KHAS Jember Borong 7 Medali di Ajang PORSI JAWARA II 2026

Saturday, 12 September 2026 - 16:26 WIB

UIN KHAS Jember Kirim Surat Keberatan dan Dugaan Kecurangan Panitia PORSI JAWARA II 2026

Saturday, 12 September 2026 - 14:18 WIB

Penanggung Jawab UIN KHAS Jember Minta Lomba LKTI Diulang, Pengumuman Pemenang Catut Logo Kampus

Friday, 11 September 2026 - 17:10 WIB

4 Guru Besar UIN KHAS Resmi Ambil Berkas Pendaftaran Bakal Calon Rektor, 1 Masuk Pendaftar

Thursday, 10 September 2026 - 23:14 WIB

Kapolda Jatim Pimpin Aksi Tanam Pohon dan Bersih-bersih Pantai di Banyuwangi

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading