Oleh: Mashur Imam*
FRENSIA.ID- Berita tentang perseteruan Amerika dan Iran cukup mengganggu keasyikan ibadah puasa Ramadan ini. Ultimatum Trump pada Iran tampak tak main-main. Sepuluh hingga lima belas hari, jika Iran tidak mengindahkannya, negara yang 100 persen Islam ini, katanya, akan dihajar habis-habisan.
Orang awam yang jauh dari urusan global tentu perasaannya campur aduk. Di satu sisi, presiden kita berada di pihak Amerika. Di sisi lain, kita sebagai orang muslim punya kesadaran dan ajaran ukhuwah Islamiyah. Tentu bingung, mana yang akan ditanggalkan: kesadaran bernegara atau persaudaraan Islam?
Tulisan ini sebenarnya tidak penting untuk dibaca, sebab bukan untuk menanggapi konflik elit global yang berat untuk dipikirkan. Sebagai orang Indonesia yang tak pernah pelesiran ke luar negeri, kita tentu memiliki pandangan sendiri yang belum tentu benar dalam menilai kedua negara yang berseteru itu. Namun, sebagai warga Indonesia yang kebetulan muslim, berita itu cukup mengganggu pikiran kita. Untuk itu, tulisan ini hanya dikhususkan bagi orang awam seperti penulis, yang selevel dalam strata sosial.
Kabar ultimatum Amerika pada Iran saat ini tersebar ke seluruh pelosok. Akibat persebaran teknologi informasi yang tak pandang bulu—orang-orang desa—baik dewasa bahkan anak-anak, baik pekerja kantoran maupun petani, telah mendengar kabar bahwa Amerika sedang siap-siap berperang di Timur Tengah. Mereka yang sebenarnya tak memiliki kapasitas untuk memahami gejolak elit global, dipaksa memikirkan hal itu.
Akhirnya, obrolan-obrolan rumah di desa-desa pun sama menegangkannya dengan diskusi para aktivis dan pengamat gejolak politik Timur Tengah. Hanya saja perbedaannya, mereka tidak banyak memakai data sejarah, sosial, apalagi politik. Sehingga, diskusi dan kajiannya berhenti pada rasa saling khawatir dan curiga.
Setidaknya penulis membagi tema obrolan mereka menjadi dua bagian besar. Pertama, ada masyarakat awam yang menganggap tindakan Amerika benar dalam mengultimatum Iran. Alasannya tentu tidak sama dengan alasan kelompok elit sekutu Amerika. Jadi, bukan karena proyek nuklir Iran yang katanya mengancam umat manusia. Masyarakat awam tidak tahu-menahu tentang akibat nuklir.
Jikapun tahu, pasti yang mereka ingat adalah bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan menjadi sebab Indonesia merdeka. Artinya, bom nuklir dalam imajinasi orang Indonesia cukup baik karena telah membantu mengalahkan penjajah Jepang.
Alasan masyarakat awam mendukung Amerika setidaknya memiliki dasar utama bahwa Iran adalah negara dengan mayoritas warga Syiah dan Prabowo sebagai presiden kita saat ini. Mayoritas masyarakat muslim pedesaan berpaham Ahlussunnah wal Jamaah. Di beberapa daerah, utamanya di desa tempat penulis lahir, warganya begitu sensitif pada paham lain, di antaranya paham Syiah.
Jadi, saat mereka tahu kalau Iran memuliakan paham ini, sebagian dari mereka antipati untuk membela negara yang mengelu-elukan Ayatullah Khomeini ini. Apalagi ditambah Prabowo saat ini yang belakangan dikabarkan lengket dan dekat dengan Trump, mereka jadi tambah yakin pada langkah Amerika.
Pertanyaan mendasar yang melemahkan pendirian orang awam pembela Amerika ini tentu cukup banyak. Salah satunya berkaitan dengan kesadaran ukhuwah Islamiyah mereka. Jika mereka memandang sinis Iran karena warganya berpaham Syiah, bukankah paham tersebut juga masuk sebagai kelompok Islam? Perdebatan pasti memanas dan mencekam ketika mereka ditanya, “Apakah Syiah lebih buruk dari non-Islam dan ateis? Kenapa lebih menarik membela orang kafir daripada umat muslim sendiri?”
Kedua, masyarakat awam yang membela Iran. Mereka adalah warga yang merasa yakin bahwa Amerika selama ini terus menjadi hantu bagi umat muslim. Amerika bagi mereka adalah negara liberal dan rumah Yahudi yang benci pada Islam. Walaupun merupakan negara adidaya yang berkuasa secara ekonomi, mereka pantang dan sangat menolak kalau Indonesia bersekutu dan membela Amerika.
Keraguan mendasar pada pendapat masyarakat awam pembela Iran ini tidak banyak. Paling memungkinkan, mereka dianggap sebagai orang yang pro-Syiah dan tidak paham soal kesejahteraan ekonomi Indonesia. Mungkin juga, mereka dianggap tidak memiliki kapasitas karena presiden saja sudah pro-Amerika, “Masak mereka berbeda dengan presidennya?”
Perdebatan masyarakat awam semacam ini sebenarnya sama sekali tidak memengaruhi konflik global yang sedang terjadi. Hanya saja, hal ini tentu tetap penting untuk dipertimbangkan secara saksama. Pasalnya, jika berkembang tanpa arah malah akan merusak tata sosial lokal itu sendiri. Masyarakat muslim pedesaan cenderung terkotak-kotak atas identitas paham dan politik.
Konflik Amerika-Iran dalam benak mereka selalu dihubungkan dengan identitas paham agama dan sikap politik bernegara. Artinya, jikapun dianggap tak memiliki pengaruh pada gejolak global, isu ini cukup berpotensi menjadi instrumen permainan politik di tingkat lokal.
Permainan konflik identitas demikian, pada suatu saat bisa saja meledak menjadi alat dagang politik. Akan ada lokalisasi isu global yang serta-merta mengakar di masyarakat desa. Apalagi jika kondisi ekonomi mereka selama kepemimpinan Prabowo tidak baik-baik saja. Kemungkinan isu Prabowo sebagai antek Barat akan jadi kampanye paling asyik yang dimainkan sebagai politik identitas. Dan kebencian atas dasar perbedaan paham pun terus dipupuk untuk menjadi pelengkap konflik politik yang terjadi.
Jika terjadi, korbannya tentu tetap masyarakat desa sendiri. Disintegrasi lima tahunan terus berlanjut. Mereka yang membela Amerika maupun Iran akan terus didera kekhawatiran. Dalam kondisi ini, dapat dikatakan bahwa arus informasi global saat ini sebenarnya hanya memupuk dan menanamkan kekhawatiran masyarakat awam. Semuanya hanya tertuju pada perkembangbiakan imajinasi politik masyarakat desa yang suatu waktu dapat terus dimainkan.
Untuk itu, satu hal yang masuk akal bagi masyarakat desa adalah memosisikan konflik Amerika-Iran saat ini secara bijaksana. Segenting apa pun konflik global yang dikabarkan, perlu disadari bahwa kepentingan lokal lebih mendesak untuk dikedepankan. Masyarakat awam hanya perlu menjaga dan dijaga imajinasi politik dan semangat ekonominya. Alasannya satu, sehiruk apa pun usaha penyelesaian masalah dan penguatan kesejahteraan global, hal itu tidak lebih penting dan tidak terpisah dari upaya kesejahteraan lokal.
*Penulis adalah Founder Dar Al Falasifah, Sekretearis Lakpesdam PCNU Jember, Dosen STAICI Situbondo dan Penyuluh Agama Islam KUA Kaliwates
*Artikel ini merupakan pendapat pribadi dari penulis opini, Redaksi Frensia.id tidak bertanggungjawab atas komplain apapun dari tulisan ini







