FRENSIA.ID — Peringatan hari raya Idul Adha membawa pesan mendalam bagi umat Islam, tidak hanya ritual ibadah, melainkan sarat akan nilai filosofis kehidupan yang relevan hingga saat ini. Hal tersebut ditekankan oleh KH Abdullah Syamsul Arifin, atau yang akrab disapa Gus Aab, saat mengisi khotbah di Masjid Roudhotul Muchlisin, Jember, pada 27 Mei.
Dalam penyampaiannya, pengurus PBNU asal Jember ini menyoroti bagaimana esensi ibadah kurban dan haji merupakan bentuk kilas balik perjuangan agung keluarga Nabi Ibrahim AS.
“Termasuk seluruh hal yang berhubungan haji, adalah napak tilas Nabi Ibrahim,” ujar Gus Aab di hadapan para jemaah.
Lebih lanjut, kiai kharismatik ini merincikan dua rukun haji yang wajib dipahami maknanya oleh umat Islam, yakni ibadah Thowaf dan Sa’i. Ia menguraikan bahwa Thowaf menjadi simbol yang kuat akan dimensi ukhrawi dan hubungan vertikal seorang hamba dengan Sang Pencipta (hablumminallah).
Sementara itu, Sa’i merepresentasikan realitas kehidupan manusia yang lebih membumi.
“Sa’i mengandung dimensi unsur dunia dan hablum minannas,” jelasnya merujuk pada perpaduan seimbang antara usaha keras di dunia dan interaksi sosial.
Gus Aab kemudian menjabarkan bahwa Sa’i pada hakikatnya adalah gambaran nyata dari perjuangan keras Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika berlari bolak-balik mencari air demi menyambung kehidupan putranya.
Namun, ada satu hikmah tak terduga yang diungkapkan oleh sang kiai. Di balik upaya maksimal tersebut, usaha Siti Hajar berlari di antara bukit Shafa dan Marwah nyatanya tidak langsung membuahkan hasil di jalur lintasan tersebut.
Setelah hampir berada di ambang putus asa, pertolongan Tuhan justru datang melalui keajaiban mata air Zam-zam yang memancar jauh dari rute usahanya.
“Air zam-zam, ada di luar usahanya, bukan berada di jalur Sofa dan Marwah,” ungkapnya memberikan perenungan mendalam.
Dari rentetan kisah sejarah ini, Gus Aab memberikan suntikan spiritual yang sejuk bagi umat Islam di tengah hiruk-pikuk mencari penghidupan.
Falsafah Sa’i mengajarkan bahwa manusia dituntut untuk terus memeras keringat dan berikhtiar sekuat tenaga, namun harus secara mutlak menyadari bahwa hasil akhir bukanlah produk murni dari usaha keras mereka, melainkan anugerah dan ketetapan Tuhan.
“Kewajiban hanya berikhtiar, tapi hasil yang menetapkan adalah Allah SWT,” tandasnya.
Hal demikian mengukuhkan kembali prinsip akidah yang dipegang teguh oleh kalangan Ahlusunnah wal jama’ah dalam mazhab Asy’ariyah; bahwa kewajiban utama manusia adalah mengoptimalkan usaha, seraya menaruh kepasrahan dan tawakal yang total kepada Allah SWT.






