Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Sunday, 19 July 2026 - 20:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi kader GP Ansor yang sudah melenting (Sumber: Gemini AI)

ilustrasi kader GP Ansor yang sudah melenting (Sumber: Gemini AI)

Frensia.id- Umpama sebuah bangunan yang mempunyai letak geografis dan titik koordinat, maka jalan yang tertera di peta bisa dibaca oleh siapapun. Mulai dari para kader, simpatisan hingga orang yang tidak sengaja lewat atau berpapasan. Sehingga ada jalan yang mengarahkan untuk lurus,  kemudian kapan beloknya ke kanan atau kiri hingga akhirnya sampai pada rumah besar para pemuda NU. Sampai di depan pintu besar keorganisasian kemudian masuk ke dalamnya hanya kader-kader yang telah lama mengambil jalan istiqomah untuk berkhidmat yang mampu merasakan suasana dan atmosfer organisasi.

Sebagai sebuah rumah besar bersama terdapat beragam persepsi dalam menafsirkan rumah yang terususun dari dinding-dinding, lantai, atap hingga jendela-jendelanya. Terdapat tafsir yang tidak bisa diperdebatkan seperti tujuan utama bangunan ini berdiri tidak alain adalah dalam rangka menjadi benteng di garda terdepan menjaga Islam Ahlussunnah wal jama’ah An-Nahdliyah dan kedaulatan NKRI.

Berkenaan dengan tafsir yang potensial berbeda dari persepsi masing-masing kader, mengingatkan penulis pada pendapat Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer. Ia menyebut dunia sebagai representasi daripada kehendak. Sederhananya begini, seorang siswa di sekolah dasar saat ujian menggunakan alat tulis berupa pensil dan penghapus untuk mengisi jawaban yang benar dan mengganti jawaban yang ternyata ia anggap keliru dengan cara dihapus dan diisi kembali pada jawaban lain yang ia anggap benar. Tidak berselang lama, seorang kawannya yang berjarak tiga meter di depannya membuat gaduh hingga pada akhirnya kosentrasinya pecah dan berantakan. Emosinya tersulut, secara spontan detenggarai oleh kemarahan maka ia melempar kawannya itu pakai penghapus.

Dengan penghapus yang sama, yang ia gunakan untuk membenarkan jawaban yang dianggap keliru dan terlanjur diukir di atas kertas oleh pensil, maka ia menghendaki penghapus tersebut layaknya batu untuk melempar kawannya yang menganggu tersebut. Dua tindakan yang berbeda dengan penghapus yang sama. Status penghapus dalam konteks siswa ini berbeda jauh, tergantung situasi dan kehendak dari si siswa. Apakah untuk menghapus sebagaimana yang alasan pabrik penghapus membuatnya atau sebagaimana layaknya batu karena tersulut emosi. Maka tergantung subjektifitas dari siswa.

Baca Juga :  Representasi Diri

Begitu pula dengan rumah besar sayap kepemudaan, GP Ansor. Disamping komitmen keagamaan dan kebangsaan yang tidak perlu lagi diperdebatkan, ternyata menyimpan kehendak lain sehingga mempunyai tafsir yang berbeda-beda terhadap Banom kepemudaan NU ini. Setidaknya, sebagaimana hemat penulis, mendapati empat wujud kehendak sesuai dengan realitanya dewasa ini dan dapat difahami dalam empat metafor berikut.

Pertama, rumah besar yang dipersepsi sebagai bengkel. Metafor pertama ini menjelaskan bahwa GP Ansor menjadi rumah bagi para kader-kadernya untuk berbenah diri. layaknya bengkel yang berusaha menghasilkan kondisi mesin untuk senantiasa tetap prima. Entah itu dengan cara ganti oli, sparepart atau hanya sekedar memberikan penjelasan kepada pemilik motor bahwa mesin-mesinnya semua masih aman akan tetapi harus berhati-hati dalam mengemudikannya. Banyak kader Ansor, sebagaimana testimony mereka, saat aktif mengikuti kegiatan organisasi lebih banyak menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan, secara pribadi mereka menyebutnya mendapatkan hidayah dengan menjadi kader.

Kedua, rumah besar yang dipersepsi sebagai bandara. Metafor kedua ini menjelaskan posisi kader Ansor yang terbang melejit ke udara menduduki kursi sebagai anggota legislatif, bupati, gubernur, komisaris BUMN, menteri atau sekedar untuk meningkatkan elektabilitas. Tanpa perlu menyebut nama, sudah banyak contohnya. Hanya saja perlu dibedakan mana yang mencoba tenar dengan menggunakan GP Ansor sebagai bandara sedangkan ia bukan kader organic dan mana yang memang sebenarnya ia merupakan kader organic, ditandai dengan keikutsertaanya berproses dari dasar hingga mencapai pucuk kepemimpinan karena kompetensinya. Pada akhirnya, entah yang kader organic atau yang bukan, ketika sudah mendapatkan jabatan yang dikehendaki saat sambutan akan sama-sama berkata “ini berkah Ansor”.

Baca Juga :  Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU

Ketiga, rumah besar yang dipersepsi sebagai pelabuhan. Metafor ketiga ini menjelaskan situasi dari kader Ansor yang mana ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Menjadi kader Ansor tidak berharap jabatan publik juga bukan karena jalan pertaubatannya di era lalu yang kelam. Sebagaimana kondisi di laut, tidak ada perempatan, pertigaan atau tikungan. Yang ada adalah jalan kebebasan memilih untuk sampai ke pelabuhan yang lain, dan terus untuk kembali melaut. Kader seperti ini sangat lah langka, ia menjadi rujukan para kader yang mau berkhidmat atau yang mau nyalon ketua.

Keempat, rumah besar yang dipersepsi sebagai stasiun. Metafor keempat ini menjelaskan keistiqomahan kader Ansor yang tanpa batas apapun. Ia tetap setia untuk menjalankan tugas dan kewajibannya di situasi apapun. Layaknya kereta, akan terus bergerak dari stasiun satu ke stasiun yang lain, tanpa peduli siapa penumpangnya dan di stasiun apa. Kader seperti ini menjadi counter bagi kader musiman, yang mana hanya aktif ketika menjadi ketua atau jabatan strategis lainnya, apabila tidak menjabat apapun ia sudah undur diri dari keorganisasian. Lebih paranya lagi ketika ada kader yang tidak aktif karena calon ketua yang ia dukung ternyata kalah saat pemilihan.

Pada akhirnya, dalam memahami rumah besar sesuai persepsinya masing-masing agar tidak lupa untuk memberi porsi dalam kesimpulannya untuk tetap memaknai sebagai bengkel, yang digunakan untuk berbenah diri. sehingga apapun posisinya saat diakui publik sebagai pemuda NU, agar senantiasa introspeksi diri sehingga menjadi lebih baik sebagai individu. Dengan begitu rumah besar akan menjadi lebih baik pula. Termasuk dan lebih-lebih yang sudah menjadi DPR atau komisaris atau jabatan apapun lainnya, dimana ketika mau berangkat menjabat bawa-bawa nama Ansor.     

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Sekolah Itu Taman, Bung!
Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU
Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia
Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti
Menyiramkan Air Keras ke Wajah Seseorang, itu Hanya Kenakalan?
Jalan Strategi: Pengakuan Tim Sukses Pilkades
Representasi Diri
Pengorbanan dalam Pilkades

Baca Lainnya

Sunday, 19 July 2026 - 20:26 WIB

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Thursday, 16 July 2026 - 10:40 WIB

Sekolah Itu Taman, Bung!

Monday, 29 June 2026 - 13:22 WIB

Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU

Monday, 8 June 2026 - 23:36 WIB

Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia

Monday, 1 June 2026 - 07:39 WIB

Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

TERBARU

ilustrasi kader GP Ansor yang sudah melenting (Sumber: Gemini AI)

Kolomiah

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Sunday, 19 Jul 2026 - 20:26 WIB

Gambar Mbappe Hampir Hatrick! Prancis Dipermalukan Inggris (Sumber: Fotmob)

Sportia

Mbappe Hampir Hatrick! Prancis Dipermalukan Inggris

Sunday, 19 Jul 2026 - 06:16 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading