Pengukuhan Guru Besar Prof Hamdanah Soroti Urgensi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkeadilan Gender

Wednesday, 12 August 2026 - 16:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Hamdanah Utsman, Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Jember saat pidato pengukuhan guru besar  (Foto: Humas UIJ).

Prof. Hamdanah Utsman, Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Jember saat pidato pengukuhan guru besar (Foto: Humas UIJ).

Frensia.id – Hamdanah Utsman, telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Jember (UIJ), di New Sari Utama Convention Hall, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, pada Rabu (12/8/2026).

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Hamdanah menyoroti pentingnya keberanian membangun kembali kelembagaan pendidikan Islam berkeadilan gender di era kecerdasan buatan.

Dosen Manajemen Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Jember (UIJ) ini, membawakan pidato pengukuhan berjudul “Rekonstruksi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkarakter dan Berbasis Keadilan Gender di Era Artificial Intelligence”.

Saat pidato, dia mengawalinya dengan sebuah pertanyaan “Arti Pendidikan Bagi Masa Depan”. Kenapa Pendidikan Penting ?.

“Pendidikan masih dipercaya sebagai wahana yang paling strategis untuk mencetak generasi masa depan, dan menciptakan manusia-manusia yang unggul di masa depan,” kata dia, dalam naskah pidato yang diterima oleh Frensia.

Untuk mempertegasnya, Hamdanah mengutip firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 97.

“Sebagaimana dikemukakan, bahwa pendidikan bisa berfungsi sebagai sarana adaptasi,” tuturnya.

Meskipun begitu, menurut Hamdanah, dalam mencetak generasi masa depan, yang lebih matang dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru ternyata tidak mudah.

Baca Juga :  UIN KHAS Jember Kukuhkan 4 Guru Besar

“Banyak perspektif yang muncul di kalangan para pemikir dan praktisi pendidikan. Oleh karena itu, perubahan konsep dan penyelenggaraan pendidikan Islam ini, perlu dipahami secara bersama-sama,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hamdanah meminjam argumen Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, yang menjelaskan bahwa istilah yang mencerminkan konsep dan aktivitas pendidikan Islam, bukanlah “tarbiyah” atau “ta’lim”, melainkan “ta’dib”.

“Karena ta’dib itu adalah mengutamakan pendidikan akhlak dan budi pekerti,” ujarnya.

Untuk membangun kembali kelembagaan, diperlukan kompetensi plus dan selalu proaktif dalam menyikapi perubahan dari waktu ke waktu.

Menurut Hamdanah, ada 3 alasan mengapa kompetensi plus itu penting.

Pertama, kelembagaan pendidikan Islam beragam, tidak perlu diseragamkan, karena masyarakat memiliki ekspektasi yang beragam, tapi berharap tetap berkualitas.

Kedua, Keragaman harus dijaga dan sama-sama dikembangkan.

Ketiga, perlunya menciptakan iklim kompetitif.

Dengan beragamnya pemikir dan praktisi pendidikan, dia menyarankan agar teori dan praktik manajemen yang berlaku di lembaga pendidikan Islam, untuk tidak secara otomatis bisa digunakan di lembaga formal.

Baca Juga :  Ketua IKA UIN KHAS Jember Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar

“Karena memiliki sejarah, tujuan, kurikulum, dan orientasi yang berbeda. Meskipun, sama-sama sebagai penyelenggara pendidikan,” tuturnya.

Hamdanah juga mengaitkan pembahasan kelembagaan pendidikan Islam agar menerapkan nilai-nilai keadilan gender.

Menurutnya, peran strategis nyai atau ulama perempuan dalam tata kelola pesantren sebagai agent of change, peran spiritual, edukator, penggerak peradaban, fasilitator dan manajer.

“Sudah waktunya, jika kesempatan berprestasi dan berkhidmat diberikan, bukan karena hanya pertimbangan jenis kelamin, tapi kemampuan. Karena di banyak lembaga kami masih menyaksikan sebaliknya,” ucapnya.

Menutup pidato pengukuhannya, Hamdanah mengatakan bahwa era kecerdasan buatan bukan lagi sekadar masa depan yang dinanti, melainkan realitas yang sedang mentransformasi struktur dan keragaman karakteristik institusi pendidikan.

“Integrasi AI (Artificial Intelligence), seringkali dipandang dari sudut pandang efisiensi teknokratik semata. Namun, untuk menjaga martabat pendidikan Islam, kolaborasi antara manusia dan mesin harus dipadu oleh nilai-nilai profetik,” tegasnya. (***)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Festival Budaya dan Pameran UMKM Bakal Digelar di Banyuwangi
Satgas MBG Jember Sidak SPPG Jatiagung Sebabkan Puluhan Siswa Keracunan
Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Arahkan Mahasiswa Manfaatkan Media Sosial untuk Berkarya
Prof Busriyanti Usul Ada Percepatan Karier Guru Besar Perempuan di UIN KHAS Jember
28 Siswa MI di Jember Keracunan Makanan Gratis, Susu Kedelai Diduga Jadi Pemicu
Puluhan Siswa MI di Jember Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis
Kasus 2 WNA Rusia Pemakai Ganja di Pantai Plengkung Banyuwangi Dilimpahkan ke Kejaksaan
Prof Busriyanti Angkat Maqasid Al-Usrah sebagai Paradigma Pembentukan Keluarga Islam dalam Orasi Ilmiah Guru Besar

Baca Lainnya

Friday, 25 September 2026 - 14:12 WIB

Festival Budaya dan Pameran UMKM Bakal Digelar di Banyuwangi

Thursday, 24 September 2026 - 15:32 WIB

Satgas MBG Jember Sidak SPPG Jatiagung Sebabkan Puluhan Siswa Keracunan

Thursday, 24 September 2026 - 10:03 WIB

Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Arahkan Mahasiswa Manfaatkan Media Sosial untuk Berkarya

Wednesday, 23 September 2026 - 10:22 WIB

Prof Busriyanti Usul Ada Percepatan Karier Guru Besar Perempuan di UIN KHAS Jember

Wednesday, 23 September 2026 - 01:12 WIB

28 Siswa MI di Jember Keracunan Makanan Gratis, Susu Kedelai Diduga Jadi Pemicu

TERBARU

Gambar Festival Budaya dan Pameran UMKM Bakal Digelar di Banyuwangi (Sumber: Istimewa)

Educatia

Festival Budaya dan Pameran UMKM Bakal Digelar di Banyuwangi

Friday, 25 Sep 2026 - 14:12 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading