Frensia.id – Hamdanah Utsman, telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Jember (UIJ), di New Sari Utama Convention Hall, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, pada Rabu (12/8/2026).
Dalam pidato pengukuhannya, Prof Hamdanah menyoroti pentingnya keberanian membangun kembali kelembagaan pendidikan Islam berkeadilan gender di era kecerdasan buatan.
Dosen Manajemen Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Jember (UIJ) ini, membawakan pidato pengukuhan berjudul “Rekonstruksi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkarakter dan Berbasis Keadilan Gender di Era Artificial Intelligence”.
Saat pidato, dia mengawalinya dengan sebuah pertanyaan “Arti Pendidikan Bagi Masa Depan”. Kenapa Pendidikan Penting ?.
“Pendidikan masih dipercaya sebagai wahana yang paling strategis untuk mencetak generasi masa depan, dan menciptakan manusia-manusia yang unggul di masa depan,” kata dia, dalam naskah pidato yang diterima oleh Frensia.
Untuk mempertegasnya, Hamdanah mengutip firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 97.
“Sebagaimana dikemukakan, bahwa pendidikan bisa berfungsi sebagai sarana adaptasi,” tuturnya.
Meskipun begitu, menurut Hamdanah, dalam mencetak generasi masa depan, yang lebih matang dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru ternyata tidak mudah.
“Banyak perspektif yang muncul di kalangan para pemikir dan praktisi pendidikan. Oleh karena itu, perubahan konsep dan penyelenggaraan pendidikan Islam ini, perlu dipahami secara bersama-sama,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hamdanah meminjam argumen Syekh Muhammad al-Naquib al-Attas, yang menjelaskan bahwa istilah yang mencerminkan konsep dan aktivitas pendidikan Islam, bukanlah “tarbiyah” atau “ta’lim”, melainkan “ta’dib”.
“Karena ta’dib itu adalah mengutamakan pendidikan akhlak dan budi pekerti,” ujarnya.
Untuk membangun kembali kelembagaan, diperlukan kompetensi plus dan selalu proaktif dalam menyikapi perubahan dari waktu ke waktu.
Menurut Hamdanah, ada 3 alasan mengapa kompetensi plus itu penting.
Pertama, kelembagaan pendidikan Islam beragam, tidak perlu diseragamkan, karena masyarakat memiliki ekspektasi yang beragam, tapi berharap tetap berkualitas.
Kedua, Keragaman harus dijaga dan sama-sama dikembangkan.
Ketiga, perlunya menciptakan iklim kompetitif.
Dengan beragamnya pemikir dan praktisi pendidikan, dia menyarankan agar teori dan praktik manajemen yang berlaku di lembaga pendidikan Islam, untuk tidak secara otomatis bisa digunakan di lembaga formal.
“Karena memiliki sejarah, tujuan, kurikulum, dan orientasi yang berbeda. Meskipun, sama-sama sebagai penyelenggara pendidikan,” tuturnya.
Hamdanah juga mengaitkan pembahasan kelembagaan pendidikan Islam agar menerapkan nilai-nilai keadilan gender.
Menurutnya, peran strategis nyai atau ulama perempuan dalam tata kelola pesantren sebagai agent of change, peran spiritual, edukator, penggerak peradaban, fasilitator dan manajer.
“Sudah waktunya, jika kesempatan berprestasi dan berkhidmat diberikan, bukan karena hanya pertimbangan jenis kelamin, tapi kemampuan. Karena di banyak lembaga kami masih menyaksikan sebaliknya,” ucapnya.
Menutup pidato pengukuhannya, Hamdanah mengatakan bahwa era kecerdasan buatan bukan lagi sekadar masa depan yang dinanti, melainkan realitas yang sedang mentransformasi struktur dan keragaman karakteristik institusi pendidikan.
“Integrasi AI (Artificial Intelligence), seringkali dipandang dari sudut pandang efisiensi teknokratik semata. Namun, untuk menjaga martabat pendidikan Islam, kolaborasi antara manusia dan mesin harus dipadu oleh nilai-nilai profetik,” tegasnya. (***)






