FRENSIA.ID-Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menunjukkan komitmen yang amat serius dalam menguatkan kualitas sumber daya pendidiknya. Hal ini dibuktikan secara nyata melalui penyelenggaraan short course metodologi penelitian berbasis Participatory Action Research (PAR) yang berlangsung intensif selama beberapa hari di kawasan Kongsi Tengah, Jember,14/08.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk ikhtiar berkelanjutan dari pihak fakultas untuk terus memacu kompetensi para dosen, utamanya dalam bidang riset pengabdian kepada masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, demi memastikan kualitas luaran yang maksimal, pelatihan ini secara khusus menghadirkan pakar yang memang telah teruji kompetensinya, yakni Rahadi, yang merupakan Ketua Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Surakarta.
Kehadiran pemateri sekelas Rahadi memberikan angin segar sekaligus tantangan baru bagi nyaris puluhan dosen Fakultas Dakwah yang menjadi peserta. Selama kegiatan berlangsung, mereka tidak hanya digembleng melalui pemaparan teori di dalam ruangan, tetapi juga didorong untuk turun gelanggang secara praksis melakukan riset langsung di tengah masyarakat sekitar.
Pendekatan lapangan ini dinilai sangat efektif karena mengharuskan para akademisi untuk melebur, memetakan masalah dari akar rumput, dan berkolaborasi mencari solusi bersama warga. Antusiasme yang terbangun tidak hanya dirasakan oleh para dosen, tetapi juga disambut dengan tangan terbuka oleh warga lokal.
Pengurus Perkebunan Sentool, Kongsi Tengah, Sukamto, mengaku sangat senang daerahnya dijadikan pusat riset oleh para akademisi kampus Islam negeri tersebut. Ia melihat dampak positif dari interaksi yang terjalin erat antara dosen dan masyarakat setempat.
“Kami sangat bahagia dan kegiatan ini sangat bermanfaat,” ucapnya.
Merespons keberhasilan kegiatan ini, Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS, menjelaskan bahwa pendampingan dari pemateri yang andal telah berhasil membuka wawasan fundamental bagi para tenaga pendidik. Menurutnya, melalui praktik turun ke lapangan, dosen-dosen dakwah kini semakin memahami esensi sejati dari sebuah pengabdian.
“PAR mendorong lahirnya penelitian yang manusiawi, tidak saja menjadi instrumen,” ujarnya.
Ke depannya, Fakultas Dakwah berkomitmen untuk tidak berhenti pada tahap seremonial pelatihan semata. Mereka akan terus mengembangkan dan mengawal hasil dari proses praktik lapangan tersebut.
Guna memastikan keberlanjutan program hingga perumusan rencana penelitian selanjutnya, pendampingan akan terus dilakukan secara berkesinambungan.
“Nanti, Pak Rahadi akan diundang kembali secara online untuk mendampingi penyusunan riset-riset pengabdian kita,” tandasnya.






