Frensia.id- Karya yang memperoleh penghargaan nobel tidak sekedar menanadai sebuah gengsi dalam tataran dunia. Tetapi juga memiliki pengaruh mendalam terhadap perhelatan dan dinamika kehidupan umat manusia.
Secara terperinci terdapat beberapa kualifikasi sebuah karya dapat dianggap berprestasi sehingga berhak memperoleh apresiasi. Diantaranya adalah mendorong kemajuan dan inovasi, membawa dampak nyata bagi peradaban, memikat perhatian public, puncak prestasi global.
Setelah mempertimbangkan beberapa indikator tersebut sebuah karya bisa dianggap berhak memperoleh penghargaan yang didirikan oleh ilmuwan Swedia dan penemu dinamit, Alfred Nobel. Diantara bidang yang dapat memperoleh penghargaan bergengsi dunia adalah Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Satra dan Perdamaian.
Tidak semua karya yang memperoleh penghargaan nobel dapat diakses oleh para peminatnya. Alasan paling utama keterbatasan ini adalah pada sulitnya membaca teks saat masih dalam bentuk bahasa aslinya.
Berikut beberapa penulis yang telah memperoleh penghargaan nobel di bidang sastra dan adapun karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
- Han Kang.
Han Kang adalah penulis asal Korea selatan dan orang pertama yang mendapatkan nobel sastra di negaranya. Karya-karyanya menyoroti tema seputar kekerasan, trauma, kemanusiaan dan ingatan. Ia dikenal dengan penggunaan bahasa yang puitis dalam menggoreskan penanya. Bagaimana ia menulis dapat dilihat lewat tulisannya, yaitu: The vegetarian, Human Act, The White Book dan We Do Not Part. - Kazhuo Ishiguro.
Kazhuo Ishiguro adalah penulis Inggris kelahiran Jepang, dianugerahi nobel sastra pada tahun 2017. Karyanya mengulas seputar topik ingatan, kehilangan, penyesalan dan bagaimana manusia memahami masa lalunya. Diantara karyanya adalah Klara and The Sun, An Artist of the Floating World, The Burried Giant dan Never Let Me Go. - Orhan Pamuk.
Orhan Pamuk adalah penulis asal Turki. Lewat tulisannya ia mepertemukan sejarah, budaya timur dan barat, identitas serta pertentangan antara tradisi dan modernitas. Pandangannya dapat ditelusuri lewat karyanya My Name Is Red dan The Red-Haired Woman. Pamuk memperoleh nobel sastra pada tahun 2006. - Tom Morrison.
Tom Morrison merupakan sastrawan Amerika Serikat paling berpengaruh, lebih-lebih mengenai karyanya tentang masyarakat kulit hitam, sejarah, ras, trauma dan ingatan. Ia dianugerahi nobel sastra pada tahun 1993. Karya-karyanya adalah Beloved sebagai karya terpentingnya, Tak Terkatakan Tak Terucapkan, Memori Kreasi Fiksi, Perempuan Ras dan Ingatan. - Gabriel Garcia Marquez.
Marquez adalah salah satu tiokoh penting sastra Amerika Latin dan pelopor genre realism magis. Ia menerima penghargaan Nobel pada tahun 1982. Karya terpentingnya adalah One Hundred Years of Solititude. Diantara karya lainnya adalah Love in the Time of Cholera, The General in His Labyrinth, Of Love on Other Demon, Chronicle of A Death Foretold, Strange Pilgrims dan Until August. - Pablo Neruda.
Ia adalah seorang penyair asal Chili. Puisi-puisinya bertema cinta, kerinduan, alam, kehidupan hingga persoalan social dan politik. Memperoleh anugerah nobel pada tahun 1971. Diantara karyanya adalah Twenty Love Poems and a song of despair dan 100 love sonnets. - John Steinbeck.
Steinbeck adalah adalah penulis asal Amerika Serikat yang banyak mengangkat tema seputar kelas pekerja, kemiskinan, ketidakadilan dan perjuangan manusia menghadapi keadaan manusia yang sulit. Ia memperoleh nobel sastra pada tahun 1962. Diantara karyanya adalah The Grapes of Wrath dan Of Mice and Mine. - Sigrid Undset.
Sigrid Undset adalah penulis asal Skandinavia, ia memperoleh nobel sastra pada tahun 1928. Karyanya mengambil latar belakang masyarakat Skandinavia. Seperti yang dapat dibaca dlam trilogy Kristin Lavrandastter.







