Frensia.id – Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Jember, telah terdata mencapai sebanyak 2.893 kasus hingga minggu ke-37.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 566 pasien kini sedang menjalani perawatan inap di rumah sakit dan puskesmas yang tersebar di Kabupaten Jember.
Merespons hal itu, Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi Jember, dr. Wahyu Agung Purnomo, mengungkapkan bahwa penyebab dari maraknya kasus ISPA, diduga ada virus yang menyerang saluran pernapasan masyarakat.
Penyakit ini tergolong bersifat akut, karena menyerang saluran pernapasan secara mendadak.
“Nah penyebabnya untuk yang kali ini adalah virus. Nah virus yang disinyalir atau diduga menjadi penyebab adalah Influenza A,” kata Wahyu, saat ditemui di Poli Paru RSD dr. Soebandi, pada Kamis (1/10/2026), siang hari.
Menurut dia, jenis strain pada virus influenza A bermacam-macam sebagaimana dibagi berdasarkan Hemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N), yaitu H2N3 dan H1N1.
“Kalau report yang terakhir di tahun 2026, beberapa laporan yang meningkat adalah kasus yang H1N1,” tuturnya.
Kata Wahyu, strain influenza A H1N1 dulu pernah outbreak atau menjadi wabah di tahun 2009, yang sebelumnya dikenal dengan influenza A PDM09.
Dia menjelaskan bahwa virus influenza ini bersifat situasional, sehingga mudah tertular karena penularannya melalui udara.
“Jadi karena masuknya lewat saluran pernapasan dibawa melalui udara, maka gampang sekali terjadi penularan,” ucapnya.
Wahyu berkata bahwa gejala yang banyak dialami oleh pasien penyakit ISPA sering kali ditandai dengan batuk, demam, pusing atau nyeri kepala dan pilek.
Adapun untuk kelompok yang rentan diserang penyakit ISPA yaitu balita dan lansia.
“Karena kita tahu bahwa balita itu memiliki kekebalan atau daya tahan tubuh yang relatif belum optimal. Jadi umur balita dan lansia ini, menjadi salah satu faktor risiko, untuk terinfeksi salah satunya virus influenza,” ujarnya.
Menurut Wahyu, apabila beberapa kasus ISPA mengalami kondisi perburukan, hal itu bukan disebabkan virus influenza, melainkan karena pasien tersebut memiliki penyakit bawaan sebelum menderita ISPA.
“Misalnya dengan penyakit jantung, diabetes, stroke, atau penyakit asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) itu juga bisa terjadi hal yang perburukan karena suatu influenza. Tapi bukan berarti influenza menjadi penyebab dasar. Ya karena memang komorbid atau penyakit penyerta,” tuturnya.
Wahyu mengatakan untuk mencegah menularnya penyakit ISPA tersebut, masyarakat diimbau agar memakai masker dan mencuci tangan selama beraktivitas.
“Jika mengalami gejala-gejala yang sudah saya sebutkan tadi, ya segera memeriksakan diri,” ucapnya.
Meskipun kata Wahyu, sebenarnya tidak ada pengobatan spesifik untuk menyembuhkan penyakit ISPA, namun bisa sembuh dengan kekebalan tubuh manusia itu sendiri.
“Bisa menggunakan antivirus, tapi itu pun efektivitasnya hanya didapatkan saat kondisi akut antara 1 sampai 3 hari, ketika dia mulai untuk bergejala. Setelah itu yang bekerja adalah kekebalan tubuh kita sendiri,” tuturnya.
Dia juga menyampaikan masyarakat tidak perlu khawatir, karena virus Influenza A ini tidak seperti virus COVID-19 yang berpotensi membahayakan jiwa manusia.






