Frensia.id – Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Jember, meningkat sebanyak 2.893 kasus. Data tersebut tercatat hingga Minggu ke-37.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dr. Rita Wahyuningsih, menyampaikan bahwa data kasus ISPA tertinggi selama Minggu ke-37, di antaranya Puskesmas Jenggawah sebanyak 234 kasus.
Kemudian Puskesmas Mangli dengan sebanyak 359 kasus dan Puskesmas Sumbersari sebanyak 184 kasus.
Sedangkan wilayah yang mengalami peningkatan kasus ISPA secara signifikan terjadi pada Puskesmas Arjasa dan Mumbulsari.
Menurutnya, data kasus penyakit ISPA yang terus naik dari Minggu ke-34 hingga 37 masih berjalan stabil dan bertahap, bukan melonjak secara mendadak (outbreak ekstrem).
“Pola ini adalah karakteristik umum dari fluktuasi musiman (seasonal variation), yang kerap bertepatan dengan masa peralihan cuaca (pancaroba), udara kering, serta peningkatan partikel debu di lingkungan,” kata dia, pada Kamis (1/10/2026).
Kata Rita, tingginya kasus ISPA saat ini berdampak pada penggunaan tempat tidur di rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Jember.
“Data pada akhir September ini di Rumah Sakit terdapat 67 persen tempat tidur terpakai, dan di puskesmas, tercatat 87 persen tempat tidur terpakai di tengah tingginya kasus ISPA ini,” kata Rita.
Namun kata dia, hal ini berbeda dengan data klinik di mana tempat tidur kosong lebih banyak, daripada yang sudah terisi oleh pasien.
“Ini agak bertolak belakang isu tempat idur sulit didapatkan,” tuturnya.
Rita mengatakan bahwa meningkatnya kasus ISPA saat ini, disebabkan perubahan iklim dan pengaruh kemarau panjang serta peningkatan suhu, yang menyebabkan resiko dehidrasi dan menurunkan imunitas.
Selain itu, penyakit ini juga dipengaruhi oleh angin, debu dan proses pembakaran serta polusi udara.
Dia mengaku pihak Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Jember, selama ini masih belum mengecek kualitas udara di wilayah yang terdapat kasus ISPA tertinggi.
“Sejauh ini belum dilakukan pemeriksaan kualitas udara di lingkungan kasus tertinggi,” ucapnya.
Rita juga mengatakan hingga kini tidak ada laporan kematian akibat penyakit ISPA.
Untuk mengurangi peningkatan kasus ISPA tersebut, kata Rita pihak Dinkes Jember telah melakukan mitigasi, melalui penguatan surveilans, deteksi dini dan respons cepat, penguatan pelayanan kesehatan, pencegahan penularan, pengendalian faktor risiko, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas program dan sektor.***






