Frensia Institute: Di Pilbup Jember, Bangsalsari Golput Terbesar, Hampir Separuh Masyarakat Tak Mencoblos

Sunday, 8 December 2024 - 08:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Frensia Institute: Di Pilbub Jember, Bangsalsari Golput Terbesar, Hampir Separuh Masyarakat Tak Mencoblos (Sumber: Frensia Institute)

Gambar Frensia Institute: Di Pilbub Jember, Bangsalsari Golput Terbesar, Hampir Separuh Masyarakat Tak Mencoblos (Sumber: Frensia Institute)

Frensia.id – Fenomena golongan putih atau golput dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Jember menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Berdasarkan analisis Frensia Institute, rata-rata angka golput di Kabupaten Jember mencapai 42,60 persen.

Fakta ini menunjukkan bahwa hampir separuh masyarakat Jember tidak menggunakan hak pilihnya, sebuah kondisi yang mencerminkan tingkat apatisme politik yang cukup tinggi.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa kecamatan tercatat memiliki angka golput di atas rata-rata tersebut, dengan Bangsalsari memegang rekor tertinggi. Dari total 95.330 pemilih yang terdaftar di kecamatan ini, sebanyak 47.223 orang atau 49,54 persen tidak hadir di TPS untuk mencoblos. Hal ini menjadikan Bangsalsari sebagai daerah dengan angka golput terbesar di Jember.

Menyusul Bangsalsari, Kecamatan Puger mencatat angka golput sebesar 48,52 persen, dengan 45.303 dari 93.372 pemilih terdaftar tidak menggunakan hak pilihnya. Sementara itu, Kecamatan Balung berada di posisi ketiga dengan angka golput 48,32 persen, di mana 30.574 dari 63.270 pemilih tidak hadir di TPS. Kecamatan Mumbulsari juga mencatat angka yang cukup tinggi, yakni 47,18 persen, dengan 24.831 dari 52.628 pemilih tidak memberikan suaranya.

Di sisi lain, Kecamatan Sukowono menjadi daerah dengan angka golput terendah, yakni 35,15 persen. Dari 46.977 pemilih terdaftar di Sukowono, hanya 16.511 orang yang tidak menggunakan hak pilihnya, jauh di bawah rata-rata kabupaten.

Mashur Imam, perwakilan dari Frensia Institute, menjelaskan bahwa analisis ini dilakukan berdasarkan data terakhir hasil Pilbub Jember. Ia menyebutkan bahwa tingginya angka golput ini mengindikasikan adanya masalah mendasar dalam kesadaran politik masyarakat di tingkat kecamatan.

Baca Juga :  Terduga Pelaku Pencabulan Anak di Muncar Nyaris Diamuk Massa

“Angka golput yang tinggi di beberapa kecamatan menunjukkan lemahnya tingkat kesadaran politik masyarakat. Ini menjadi tantangan besar bagi semua pihak, baik pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, maupun para kandidat,” ungkap Imam pada Frensia,08/12/2024.

Ia menambahkan bahwa penyebab tingginya angka golput perlu dianalisis lebih lanjut. Beberapa kemungkinan yang diidentifikasi antara lain adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilu dan kurangnya daya tarik atau kepercayaan terhadap calon-calon yang bertarung dalam Pilbub.

“Faktor-faktornya banyak. Bisa jadi karena efektivitas penyelenggara pemilu yang dirasa kurang maksimal atau karena para kandidat belum mampu menarik kepercayaan masyarakat. Semua ini memerlukan penelitian lebih mendalam agar bisa ditemukan solusi yang tepat,” jelasnya.

Tingginya angka golput di Jember bukan hanya menjadi cerminan apatisme politik, tetapi juga menjadi peringatan akan potensi perlemahan demokrasi di tingkat lokal. Mashur menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek pelaksanaan pemilu, mulai dari proses kampanye hingga hari pemungutan suara.

“Partisipasi masyarakat dalam pemilu adalah indikator utama kesehatan demokrasi. Jika angka golput terus meningkat, kita harus mulai bertanya: apa yang salah? Apakah ada masalah dalam penyelenggaraan, ataukah ini soal kepercayaan publik yang terus menurun terhadap sistem dan aktor politik?” tambahnya.

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi para pemangku kebijakan di Jember untuk mencari solusi yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu mendatang. Mashur menyarankan agar upaya penyadaran politik lebih digencarkan, terutama di kecamatan-kecamatan dengan angka golput tinggi.

Baca Juga :  Dihadiri LPPM UIN KHAS, Griya Moderasi Agama KUA Kaliwates Jember Bahas Problema Implementasi Eco-theologi

“Pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, hingga para kandidat perlu bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Edukasi pemilih harus menjadi fokus utama agar masyarakat memahami pentingnya partisipasi mereka dalam menentukan masa depan daerah,” katanya.

Selain itu, Mashur juga menyebutkan bahwa partisipasi politik tidak hanya soal kehadiran di TPS, tetapi juga mencerminkan sejauh mana masyarakat merasa terwakili oleh para kandidat. Ia menekankan bahwa para calon pemimpin daerah harus mampu menghadirkan program kerja yang relevan dan solutif terhadap permasalahan masyarakat.

“Para kandidat harus bisa membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat. Program kerja mereka harus nyata, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Jika masyarakat merasa percaya dan terwakili, tentu partisipasi mereka akan meningkat,” pungkasnya.

Angka golput yang tinggi di Jember menjadi refleksi tantangan besar dalam memperkuat demokrasi lokal. Frensia Institute berharap data dan analisis ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak terkait untuk memastikan bahwa pada pemilu-pemilu berikutnya, tingkat partisipasi masyarakat dapat meningkat secara signifikan.

Tantangan yang dihadapi oleh Kabupaten Jember ini menjadi gambaran nyata bahwa partisipasi politik tidak bisa dianggap sepele. Edukasi politik yang berkelanjutan dan pembangunan kepercayaan publik terhadap penyelenggara dan kandidat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Residivis Spesialis Bobol Rumah Kosong di Banyuwangi Dibekuk Tim URC Macan Blambangan
Gus Fawait Wujudkan Asta Cita ke 4 dan 6 Presiden Prabowo melalui Program Homecare
Pemkab Jember Siapkan Renovasi Pembangunan TPA Senilai Rp 2 Triliun
DPRD Jember Larang Wartawan Liput Rapat KUA-PPAS APBD 2027, Widarto: Sesuai Tatib !
Gus Fawait Sosialisasikan Program Homecare saat Bunga Desaku di Tanggul
Gus Fawait Beri BPJS Kesehatan dan Beasiswa Jalur Khusus bagi Anak Kader Posyandu dan Ketua RT/RW
Pavingisasi di Jember Gunakan Material Beralamat SNI Dibekukan, DPRD Jatim Minta Proyek Diberhentikan
Petani di Songgon Ditemukan Meninggal di Gubuk Kandang Sapi

Baca Lainnya

Thursday, 30 July 2026 - 18:52 WIB

Residivis Spesialis Bobol Rumah Kosong di Banyuwangi Dibekuk Tim URC Macan Blambangan

Wednesday, 29 July 2026 - 23:18 WIB

Gus Fawait Wujudkan Asta Cita ke 4 dan 6 Presiden Prabowo melalui Program Homecare

Wednesday, 29 July 2026 - 22:06 WIB

Pemkab Jember Siapkan Renovasi Pembangunan TPA Senilai Rp 2 Triliun

Wednesday, 29 July 2026 - 22:00 WIB

DPRD Jember Larang Wartawan Liput Rapat KUA-PPAS APBD 2027, Widarto: Sesuai Tatib !

Tuesday, 28 July 2026 - 23:25 WIB

Gus Fawait Sosialisasikan Program Homecare saat Bunga Desaku di Tanggul

TERBARU

Dinkes Jember saat melakukan rontgen paru-paru warga di salah satu Kantor Desa (Foto: Dinkes Jember)

Healthia

Dinkes Jember Temukan 271 Orang Terdiagnosa TBC per Juni 2026

Friday, 31 Jul 2026 - 19:42 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading