Metode Mengkritik Penguasa Menurut Gus Baha’, Diteliti Sejumlah Akademisi UNUJA

Sunday, 15 December 2024 - 11:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Metode Mengkritik Penguasa Menurut Gus Baha', Diteliti Sejumlah Akademisi UNUJA (Sumber: Grafis/Frensia)

Gambar Metode Mengkritik Penguasa Menurut Gus Baha', Diteliti Sejumlah Akademisi UNUJA (Sumber: Grafis/Frensia)

Frensia.id – Metode mengkritik penguasa ternyata memiliki cara dan adab tersendiri. Hal ini menjadi perhatian sejumlah akademisi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang meneliti pemikiran KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha’.

Penelitian ini dipimpin oleh Ach. Zayyadi bersama tim akademisi dan hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Ulunnuha edisi 2024.

Penelitian ini mengungkap bagaimana Gus Baha’ menawarkan pendekatan yang santun dan konstruktif dalam menyampaikan kritik kepada penguasa. Inspirasi pemikiran ini diambil dari kisah Nabi Musa dan Fir’aun yang tertuang dalam QS. Thaha [20]: 44.

Ayat tersebut memerintahkan Nabi Musa untuk menyampaikan peringatan kepada Fir’aun dengan qaulan layyinan atau perkataan yang lembut. Gus Baha’ menekankan bahwa sikap kritis terhadap penguasa harus dilakukan dengan cara yang tepat agar tujuan dari kritik dapat tercapai tanpa menimbulkan konflik yang lebih besar.

Baca Juga :  Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Menurut Gus Baha’, cara yang kurang bijak dalam mengkritik penguasa justru dapat membuat situasi menjadi lebih buruk. Misalnya, kritik yang dilontarkan secara terbuka dan kasar bisa memicu perasaan malu atau gengsi pada pihak yang dikritik.

Hal ini dapat membuat penguasa bersikap defensif dan menutup diri dari masukan yang sebenarnya bermanfaat. Dalam sejarah, fenomena ini pernah terjadi di zaman Harun Al-Rasyid, di mana kritik keras yang disampaikan secara terbuka malah memicu ketegangan antara penguasa dan pihak yang mengkritik.

Dari penelitian tersebut, Gus Baha’ menawarkan empat formulasi utama dalam mengkritik penguasa agar kritik dapat diterima dengan baik dan berdampak positif.

Pertama, hindari mengkritik penguasa di depan umum. Kritik yang disampaikan secara terbuka dan disaksikan banyak orang sering kali justru menimbulkan rasa gengsi dan perlawanan dari pihak yang dikritik.

Baca Juga :  Kepala KUA Tanggul Jember Sampaikan Fokus Transformasi Pelayanan di 100 Hari Kerja

Kedua, gunakan bahasa yang efektif, sopan, dan tepat sasaran. Kritik dengan bahasa yang lembut namun tegas dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

Ketiga, kritik harus disampaikan secara bertahap. Gus Baha’ berpendapat bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara instan. Menyampaikan kritik secara bertahap memberikan ruang bagi penguasa untuk mencerna dan merespons masukan dengan lebih bijak.

Terakhir, kritik harus bersifat konstruktif. Kritik yang hanya berisi celaan atau serangan pribadi tidak akan membawa perubahan apa pun. Sebaliknya, kritik harus disertai dengan solusi atau saran yang membangun.

Metode ini dinilai relevan dalam konteks kekinian, di mana dinamika sosial dan politik sering kali diwarnai oleh polarisasi dan ketegangan.

Gus Baha’ memberikan teladan bahwa kritik adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, namun harus dilakukan dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kepala KUA Tanggul Jember Sampaikan Fokus Transformasi Pelayanan di 100 Hari Kerja
Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Peran MUI di Pembukaan Musda ke-XI
Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib
Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal
Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir
Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat
Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan
Tag :

Baca Lainnya

Saturday, 18 April 2026 - 22:00 WIB

Kepala KUA Tanggul Jember Sampaikan Fokus Transformasi Pelayanan di 100 Hari Kerja

Saturday, 4 April 2026 - 15:05 WIB

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Peran MUI di Pembukaan Musda ke-XI

Saturday, 21 March 2026 - 14:54 WIB

Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib

Thursday, 19 March 2026 - 07:58 WIB

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Sunday, 8 March 2026 - 14:28 WIB

Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

TERBARU

Suasana FGD yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia (UI) di Fakultas Hukum UI, Jakarta (Foto: Istimewa).

Educatia

IMMH UI Dorong RUU Sisdiknas Hadirkan Keadilan Pendidikan

Saturday, 25 Apr 2026 - 23:27 WIB