Frensia.id- Malam itu, langit Jember terasa lebih sunyi dari biasanya. Di sebuah sudut kota, doa-doa mengalir pelan, mengiringi kepergian seorang guru, seorang pemimpin, sekaligus seorang santri: Prof. Dr. H. Hepni Zain. Ia berpulang pada malam Jumat, sekitar pukul 12.30, saat menjalani perawatan di RS dr. Soebandi Jember. Namun bagi mereka yang mengenalnya, kepergian itu bukan sekadar kehilangan seorang rektor. Ia adalah kehilangan sebuah akhlak
Di malam tahlilan terakhir, suara KH. Hamid Hasbullah memecah keheningan. Tidak meledak-ledak, tapi justru di situlah letak kekuatannya: tenang, jernih, dan mengandung ingatan panjang tentang seorang murid yang tak pernah selesai menjadi santri.
“Saudara saya ini, Prof. Hefni, pernah mondok di pondok saya,” tuturnya pelan.
Cerita itu mengalir seperti sungai kecil yang menemukan jalannya sendiri. Prof. Hefni, kata beliau, sebelumnya menempuh Pendidikan di pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep hingga tingkat MA. Baru saat kuliah, ia dipertemukan dengan KH. Hamid, yang kala itu menjadi asisten dari Kiai Shodiq Mahmud dalam bidang tafsir al-Maraghi yang berkaitan dengan pendidikan.
Dari sanalah, hubungan (wasilah) itu bermula. Bukan sekadar relasi akademik, tapi hubungan khas pesantren: antara guru dan murid, antara yang membimbing dan yang mengabdi.
“Beliau minta izin untuk mondok di tempat saya. Dan ia, mondok sekitar tiga tahun. Ngaji tafsir Jalalain. Tapi sebenarnya, saat itu beliau sudah pintar,” kenangnya.
Kalimat itu sederhana, tapi mengandung pengakuan yang dalam. Bahwa kecerdasan Prof. Hefni bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sudah tumbuh sejak dini. Namun yang membuatnya berbeda bukanlah kecerdasannya. Melainkan sikapnya terhadap ilmu dan terhadap orang lain.
“Ia tidak hanya mondok, tapi juga khidmah. Bahkan ikut momong (nganjhuh) anak saya,” lanjut KH. Hamid.
Di titik ini, cerita berubah menjadi refleksi. Tentang sesuatu yang kini terasa langka: tawadhu.
Bagi KH. Hamid, Prof. Hefni bukan hanya seorang akademisi, bukan hanya seorang profesor, dan bukan pula sekadar pimpinan perguruan tinggi Islam. Ia adalah representasi akhlak yang hidup—akhlak yang tidak ditampilkan, tapi dijalani.
“Prof. Hefni itu tawadhu. Dan ini bukan hanya saya yang merasakan. Banyak kiai juga menyampaikan hal yang sama,” ujarnya.
Salah satu yang disebut adalah KH. Muhammad Ali Iqbal Ridwan, Imam Besar Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, yang juga menegaskan hal serupa setelah menyalatkan jenazahnya.
Tawadhu. Kata yang sering diucapkan, tapi jarang dipraktikkan.
KH. Hamid bahkan mengulanginya tiga kali, seolah ingin memastikan bahwa jamaah benar-benar mendengar dan merenunginya: “Tawadhu itu sangat sulit. Sangat sulit. Sangat sulit.”
Lalu ia memberi contoh yang konkret, nyaris sepele, tapi justru di situlah letak keagungannya.
“Setiap ketemu saya, beliau pasti turun dari kendaraan. Lalu bersalaman (acabis) dengan saya. Padahal beliau itu profesor, doktor, dan pimpinan perguruan tinggi. Tapi tetap turun, tetap menyapa.”
Ada satu kisah lain yang memperjelas watak itu. KH. Hamid menuturkan, dalam beberapa kesempatan justru Prof. Hefni yang lebih dulu datang menemuinya. “Ketika saya butuh kepada Prof. Hefni, justru beliau yang menghadap ke saya,” kenangnya. Bukan karena jarak yang dekat, tapi karena adab yang dijaga. Ia memilih untuk tetap menjadi murid, bahkan ketika gelar dan jabatan telah menempatkannya di posisi tinggi.
Di tengah budaya yang semakin mengagungkan jabatan, kisah itu terasa seperti ironi. Banyak orang naik pangkat, tapi kehilangan sikap. Banyak yang mengejar gelar, tapi lupa cara menghormati.
Prof. Hefni justru sebaliknya. Ia sudah berada dipuncak, tapi tetap membumi.
Dalam tradisi Islam, tawadhu bukan sekadar sikap rendah hati. Ia adalah puncak akhlak. Bahkan, seperti yang disampaikan KH. Hamid, ia adalah salah satu sifat yang paling dekat dengan Rasulullah.
“Tawadhu itu merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain, walaupun punya kedudukan tinggi,” katanya.
Dan mungkin, di situlah letak warisan terbesar Prof. Hefni. Bukan pada jabatan yang pernah ia sandang. Bukan pula pada institusi yang ia pimpin. Tapi pada cara ia memperlakukan orang lain—dengan hormat, dengan rendah hati, dengan kesadaran bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan baru.
Malam itu, doa-doa terus mengalir. Tapi di antara lantunan tahlil, ada satu pelajaran yang diam-diam tinggal: bahwa menjadi besar tidak harus terlihat besar. Bahwa menjadi tinggi tidak harus berdiri di atas orang lain.
Dan bahwa kadang, kemuliaan justru tampak paling jelas-ketika seseorang memilih untuk bersik. Di situlah Prof. Hefni menemukan maknanya: seorang rektor yang tawadhu, yang tidak hanya tinggi dalam gelar, tetapi juga membumi dalam laku.*






