Sayembara Kecurangan Pilkada: Hadiah Menggiurkan, Keadilan Jadi Taruhan!

Saturday, 30 November 2024 - 20:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id- Dibalik gemuruh riuhnya pilkada, terdapat tim pemenangan paslon mempersiapkan hadiah jutaan rupiah bagi siapapun yang menemukan kecurangan dalam proses pilkada. Berupa money politic atau pemberian sembako di masa tenang maupun menjelang pencoblosan. Sayembara berhadiah ini cukup menggiurkan, meskipun terlihat janggal.

Bagaimana bisa, hadiah jutaan rupiah dibilang janggal. Bukanlah ini kesempatan bagi siapapun untuk mendapat segepok pendapatan yang datang Cuma-Cuma? Kelihatannya memang demikian, namun dibalik sayembara berhadiah ini, muncul pertanyaan mendasar? Pelaporan kecurangan itu sifatnya konstitusional, kewajiban siapapun untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang. Lalu kenapa disayembarakan?

Apakah langkah ini benar-benar untuk menegakkan keadilan, memberantas praktik kotor pilkada? Ataukah dibalik gemerlapnya jutaan hadiah hanya sebatas taruhan demi sensasi politik? Alih-alih keadilan pemilu dapat ditegakkan, sayembara ini mengundang kecurigaan terhadap tujuan sebenarnya.

Setidaknya ada empat kejanggalan fenomena sayembara kecurangan berhadiah jutaan rupiah ini. Pertama, Pergeseran tanggung jawab hukum ke Publik. Seharusnya secara aturan main ngera, penegakan keadilan pilkada menjadi domain lembaga resmi seperti Bawaslu dan KPU. Sayembara ini menggeser tanggung jawab tersebut ke masyarakat umum, terkesan lembaga yang punya kewenangan tidak mampu menjalankan tugasnya. Mencerminkan lemahnya sebuah pengawasan.

Baca Juga :  Fraksi PDIP Tegaskan Tak akan Geser Sikap soal Penolakan Rencana Pinjaman Rp786 M Pemkab Jember

Kedua, iming-iming jutaan rupiah membuka celah berubahnya semangat menegakkan pilkada berkeadilan menjadi sekedar ajang mengejar keuntungan materi. Pilkada yang awalnya dibangun dengan integritas dan moralitas, berubah saling berebut hadiah. Walaupun menemukan kecurangan, dengan adanya hadiah, kehendak baik mengungkap kecurangan tersebut bisa berganti mendapatkan cuan menguntungkan. Monetisasi dan komersialisasi keadilan tak dapat dihindarkan.

Ketiga, risiko manipulasi bukti. Jika kejanggalan rekayasa bukti terjadi, sungguh memilukan, sebab ini adalah ancaman serius bagi pilkada. Bukan tidak mungkin, sayembara berhadiah jutaan rupiah dapat memicu pengelabuan laporan atau bukti, tujuanya hanya demi keuntungan finansial. Bila ketakutan ini sampai terjadi, apakah justru tidak menciptakan masalah baru yang lebih njelimat daripada kecurangan itu sendiri.?

Baca Juga :  Gus Fawait Ungkap Alasan Ingin Jember Dikenal dengan Warna Pink

Kejanggalan selanjutnya, sayembara ini terkesan sebagai manuver politik untuk menarik perhatian opini publik. Bukankah sesuatu yang tidak mungkin, dalam situasi ‘panas’ pilkada ada pihak yang memanfaatkan menyerang kubu lawan politiknya dengan membangun narasi mosi ketidakpercayaan terhadap hasil pilkada. Apakah ajakan mengungkap kecurangan pilkada berhadiah ini benar-benar demi keadilan, atau bualan strategi politik? Masih janggal dan layak dipertanyakan.

Atas pembacaan kejanggalan sayembara jutaan rupiah, komitmen menegakkan pilkada sesuai nilai-nilai demokrasi  dipertaruhkan. Demi cuan jutaan rupiah, keadilan menjadi taruhan. Perlu kedewasaan bersama dalam berpolitik, masyarakat harus lebih kritis menyikapi fenomena menggiurkan ini. Jangan sampai hanya segepok uang, keadilan tergadaikan. Jika menemukan kecurangan, laporkan kepada pihak berwenang dengan niat dan itikad baik menegakkan keadilan pilkada.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Bupati Jember akan Renovasi Pasar Tanjung Senilai Rp250 Miliar dari Dana APBN
Penjelasan Ketua DPRD Jember terkait Persetujuan Anggaran Raperda Perubahan APBD Tahun 2026
Respons Gus Fawait soal Desas-Desus Proyeksi Maju di Pilgub Jatim 2029
Gus Fawait Pastikan Revitalisasi Sekolah di Jember Tahun 2026 Naik 100 Persen Dibanding 2025
Mantan Kepala Inspektorat Jember Akui Pernah Periksa Hisyam di Ruangannya
Mantan Kepala BKPSDM Jember Ngaku 2 Kali Surati Inspektorat Usut Polemik ASN 13 Hari Bolos Kerja
Mangkir Kerja 13 Hari Pejabat Pemkab Jember Dilaporkan ke BKN, Rupanya Bermasalah Sejak di Bawaslu
Bupati Jember Bagikan Makanan ke Warga saat Tinjau Antrean BBM di SPBU
Tag :

Baca Lainnya

Wednesday, 16 September 2026 - 19:26 WIB

Bupati Jember akan Renovasi Pasar Tanjung Senilai Rp250 Miliar dari Dana APBN

Monday, 14 September 2026 - 20:58 WIB

Penjelasan Ketua DPRD Jember terkait Persetujuan Anggaran Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

Monday, 14 September 2026 - 20:51 WIB

Respons Gus Fawait soal Desas-Desus Proyeksi Maju di Pilgub Jatim 2029

Monday, 14 September 2026 - 20:26 WIB

Gus Fawait Pastikan Revitalisasi Sekolah di Jember Tahun 2026 Naik 100 Persen Dibanding 2025

Monday, 14 September 2026 - 19:53 WIB

Mantan Kepala Inspektorat Jember Akui Pernah Periksa Hisyam di Ruangannya

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading