Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza

Saturday, 14 February 2026 - 01:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza (Sumber: Frensia Grafis)

Gambar Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza (Sumber: Frensia Grafis)

FRENSIA.ID- Riset terbaru dari Prof Joni Aasi, yang dalam konteks diskusi ini kita kenal dengan perspektifnya yang mendalam selayaknya seorang Direktur UNESCO, membuka mata dunia tentang sisi lain dari konflik di Gaza yang sering luput dari perhatian media arus utama.

Dalam tulisannya yang bertajuk Environmental Harm Resulting From Israeli Bombing of Gaza dan terbit di Arab Studies Quarterly pada musim dingin 2025, Aasi menyoroti sebuah entitas yang ia sebut sebagai “korban diam” atau silent victim, yaitu lingkungan hidup.

Lingkungan ini tidak hanya mencakup alam liar, tetapi juga lingkungan binaan tempat manusia bernaung. Fakta-fakta yang diungkapkan dalam riset ini sangat mengejutkan dan memaksa kita untuk memikirkan ulang definisi kehancuran dalam perang modern.

Salah satu poin paling mencolok yang diangkat adalah skala pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga pertengahan Desember 2023 saja, jumlah bom yang dijatuhkan di Gaza telah mencapai angka 29.000, sebuah jumlah yang melampaui total bom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Irak sepanjang tahun 2003.

Lebih mengerikan lagi, setengah dari amunisi tersebut adalah “bom bodoh” atau unguided bombs yang memiliki tingkat akurasi rendah dan dapat meleset hingga 100 meter dari target, serta bom fosfor putih yang penggunaannya di area padat penduduk jelas melanggar hukum humaniter internasional karena menyebabkan luka bakar parah dan kerusakan jangka panjang.

Baca Juga :  Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers

Kerusakan ini bukan sekadar dampak sampingan atau collateral damage, melainkan bagian dari strategi militer yang disebut Aasi sebagai “memotong rumput” (mowing the lawn). Strategi ini tidak bertujuan untuk mencari solusi politik, melainkan hanya untuk manajemen konflik dengan cara menghancurkan kemampuan lawan secara berkala untuk mencapai periode ketenangan sementara.

Namun, dalam pelaksanaannya di Gaza, strategi ini telah bermutasi menjadi apa yang disebut dalam istilah hukum sebagai genosida, yang di dalamnya mencakup ecocide atau pembunuhan terhadap ekosistem. Dampak dari strategi ini terlihat jelas pada kehancuran infrastruktur air dan sanitasi.

Aasi mencatat bahwa kerusakan jaringan limbah menyebabkan sekitar 50 juta meter kubik air limbah per tahun tidak terolah, dengan 10 persen di antaranya merembes dan mencemari akuifer air tanah, satu-satunya sumber air tawar di wilayah tersebut.

Pencemaran ini menciptakan kematian lambat bagi penduduk Gaza. Mereka tidak hanya terancam oleh ledakan langsung, tetapi juga oleh air, udara, dan tanah yang terkontaminasi. Kesaksian warga sipil menggambarkan bagaimana polusi ada di mana-mana—di air mandi, air minum, hingga makanan yang mereka konsumsi.

Selain itu, keanekaragaman hayati Gaza juga berada di ujung tanduk, dengan ancaman kepunahan bagi ratusan spesies burung, mamalia, dan reptil yang habitatnya hancur lebur akibat penggunaan berbagai jenis roket dan bahan peledak. Aasi menegaskan bahwa penghancuran lingkungan ini adalah metode perang yang disengaja untuk membuat Gaza menjadi wilayah yang “tidak dapat dihuni” (uninhabitable), sebuah taktik yang mengingatkan pada penggunaan Agen Oranye oleh AS di Vietnam untuk merusak vegetasi dan sumber penghidupan musuh.

Baca Juga :  4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Analisis Aasi juga membongkar kategori target militer Israel yang mencakup “target kekuatan” (power targets) seperti gedung tinggi dan universitas, serta “rumah keluarga”. Penghancuran target-target sipil ini diakui oleh sumber intelijen sebagai upaya untuk memberikan “tekanan sipil” kepada Hamas, sebuah logika yang menjadikan penderitaan masyarakat umum sebagai senjata perang.

Dalam perspektif hukum internasional, Aasi menekankan perlunya memperluas konsep genosida untuk mencakup ecocide, mengingat bahwa kelangsungan hidup manusia di area padat penduduk sangat bergantung pada akses terhadap sanitasi, air bersih, dan tanah yang layak.

Riset ini pada akhirnya menjadi dakwaan keras bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar perang asimetris, melainkan penghancuran sistematis terhadap syarat-syarat kehidupan itu sendiri, yang menuntut pertanggungjawaban hukum internasional yang lebih tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan dalam konflik bersenjata.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Axel Honeth, Sosiolog Jerman yang Mengeksplorasi Ide-Ide Jurgen Habermas
Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember
4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali
Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim
Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Gagasan Pendidikan Islam Berkarakter Ulil Albab dan Ulin Nuha
UIN KHAS Jember Luncurkan Program Unggulan Selama Bulan Ramadan 2026
Diteliti! Kelompok Perempuan Rentan Diabetnya Meningkat Saat Ramadhan
Gerbang SDN di Jember Disegel Ahli Waris Dini Hari

Baca Lainnya

Tuesday, 24 March 2026 - 21:35 WIB

Axel Honeth, Sosiolog Jerman yang Mengeksplorasi Ide-Ide Jurgen Habermas

Thursday, 19 March 2026 - 23:38 WIB

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Thursday, 12 March 2026 - 12:14 WIB

4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Saturday, 7 March 2026 - 20:00 WIB

Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim

Saturday, 28 February 2026 - 12:56 WIB

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Gagasan Pendidikan Islam Berkarakter Ulil Albab dan Ulin Nuha

TERBARU

Penampakan bayi laki-laki yang ditemukan di pinggir jalan, samping rumah warga Desa Patemon, Kecamatan Tanggul, Jember. (Foto: Tangkapan layar Instagram @infojember).

Criminalia

Kronologi Penemuan Bayi di Pinggir Jalan Rumah Warga Tanggul Jember

Thursday, 26 Mar 2026 - 14:14 WIB

Arah Demokrasi. Sumber: Pixabay

Kolomiah

Prosedur Mayoritarian

Tuesday, 24 Mar 2026 - 23:33 WIB