Frensia.id- Setiap era pasti memiliki Alexander-nya, Jengis Khan-nya, Napoleon Bonapartenya, Sun Tzu-nya, Machiavelli-nya dan Miyamoto Musashi-nya. Hanya saja dalam skala zona, misi, ambisi dan pola taktik yang berbeda-beda. Sejak era Qabil iri kepada Habil, kemudian sejarah perseteruan pertama dibingkai oleh sejarah. Yang namanya politik perebutan kekuasaan dan strateginya tetap sama saja polanya. Oleh karena itu seorang ketua pemenangan Pilkades harus menetapkan jalan strategi (terminologi Miyamoto Mushasi) paling jitu. Jika berhasil dan menang, maka dapat diperkirakan Ketua Tim Pemenangan tersebut setidaknya dirasuki oleh salah satu atau lebih dari para ahli strategi diatas.
Maka komandan utama yang menjadi titik tumpu si calon bertanggung jawab atas takdirnya. Apakah si calon itu akan rungkad, serungkad-rungkadnya saat kalah dan mengalami sensasi traumatik ataukah melenting sebagai orang penting nomor wahid di desanya. Termasuk salah satu mantan ketua tim pemenangan Pilkades 2019 di salah satu sudut desa di pulau Jawa, yang telah berhasil mengantarkan tetangganya menjadi Kades. Untuk memudahkan mengenal identitasnya, sebut saja Mr. X.
Sejak awal sebelum menang, Mr.X ini mempunyai alasan sederhana mengapa ia mesti mendukung calon kades tetangganya ini. Menurutnya, apabila ia sakit perut maka orang pertama kali yang dimintai pertolongan tidak lain adalah tetangganya bukan orang jauh di lain dusun. Oleh karena itu, sebagai tetangga yang baik dan dalam rangka menjalin harmoni, secara rasional ia harus memilih dan mendukung tetangganya. Kalah atau menang.
Untuk memenangkan tetangganya menjadi kades, Mr.X harus memenangkan hati sekitar 7.700 orang yang menjadi pemilih waktu itu. karena untuk menguasai seluruhnya adalah tidak mungkin, maka setidaknya memegang angka pasti dari kemenangan, 4.000. sedangkan sisanya biar diambil lawan.
Sebelum ia bergerak turun ke bawah layaknya pedang Musashi dengan teknik melawan, menusuk yang harus menyesuaikan celah lawan. Ternyata si calon kades tetangganya ini sudah membentuk tim secara mandiri, tanpa campur tangan si Mr. X. Asumsi dasar yang dimiliki oleh si calon kades dalam mengartikan cara menang adalah bahwa titik aman untuk menang adalah 4.000, maka harus punya tim sukses sebanyak 2.000. dimana masing-masing dari satu orang, mampu mengajak satu orang, jadi jika dikalikan maka jelas menang.
Pandangan ini ditolak oleh si Mr.X. bahwa sebuah pasukan yang akan mengantarkan kemenangan bukan berasal dari bawah dan bersifat horizontal, tetapi harus terstruktur dari bawah ke atas. Setiap titik simpul mempunyai komitmennya masing-masing. Dalam hal ini, Mr.X yang telah dipercaya agar si calon kades tidak rungkad karena Pilkades, mengingat sudah jual sawah, maka menyusun Tim, mulai dari tingkat RT, RW, Dusun dan seluruhnya bermuara kepada dirinya.
Layaknya Kaisar Mongol, secara diam-diam Mr.X mempraktikan spionase. Di setiap gang rumah di tingkatan RT ia memasang orang untuk menggali informasi. Siapa saja orangnya disembunyikan, hanya dirinya dan setan-setan gang yang tahu. Mulai dari komitmen para Tim Sukses yang telah dibentuk serta bagaimana pergerakan lawan dalam mengkonsolidasikan pasukannya. Mr. X jelas sekali akan merasa asing dengan para Kaisar Mongol, mulai dari Jengis Khan hingga Kubilai Khan, yang selalu menerapkan praktik memata-matai negara yang hendak diinvasi. Mr.X juga dipastikan tidak akan membaca IlPrinciple karya Machiavelli, tetapi ia sadar betul bahwa dalam politik sangatlah rentan dengan pengkhianatan.
Walhasil, ia telah mengantisipasi kekalahan. Sebagaimana disampaikan oleh mata-mata yang ia pasang. Tim 2.000 yang dibentuk oleh si calon kades tetangganya itu ternyata mereka adalah serigala berbulu domba, musuh dalam selimut yang menggunting dalam lipatan. Orang-orang tersebut ketika digoda dan diajak oleh calon lain selalu berkata siap sedia untuk mendukung. Kakinya ada dimana-mana begitu juga dengan mulutnya.
Para pengkhianat itu tidak dibuang, hanya saja cukup tidak diberi keleluasaan dalam menangani pemenangan. Mereka tetap disebut sebagai bagian dari tim tetapi sebagai satu orang subtansi bukan potensi. Setelah berhasil menemukan para pengkhianat yang mengganggu pertumbuhan, layaknya rumput liar di sekitar pohon jagung yang siap tumbuh dan berkembang, maka rumput sudah diberi herbisida. Sehingga menyisakan tim yang kredibel (dalam arti yang kelabu) siap untuk tempur.
Selain itu, Mr. X juga membentuk satuan khusus dari kalangan anak muda yang mudah di suruh, untuk menjemput para lansia, yang sudah dipastikan mereka akan kesusahan, malas karena kondisi usia dan kesehatan yag sudah rentan. Mengingat bahwa dalam prosedur demokrasi tidak pernah dibedakan antara orang tua, sakit, profesor dan yang berijazah SD tidak tamat semuanya sama dihitung satu saat mencoblos. Oleh karena itu para lansia dijemput, sebelum memasuki bilik suara mereka di briefing dulu agar nyoblos tetangganya Mr. X, posisinya adalah orang yang berada di tengah surat suara, peci hitanmya miring kisaran 15 derajat.
Hasilnya? Tetangga Mr.X menang selisih dari calon lain sekitar jumlah orang dalam satu RW. Mr.X sendiri diberi tawaran sebagai Ketua RT tetapi menolak. Entah apa alasannya, barangkali ia merupakan seorang yang ingin menjalani hidup dengan bebas, layaknya Monkey D.Luffy yang menolak diberi tawaran sebagai Kapten aliansi bajak laut dengan anggota sejumlah 5.600 perompak.






