Frensia.id- Puthut EA kembali menuliskan pikiran-pikiran dari Politikus senior PDIP Bambang Wuryanto dalam buku keduanya yang berjudul “Mentalitet Korea Makin Terbanting, Makin Melenting”, terbit pertama kali pada Mei 2026.
Setelah sebelumnya meraup sukses dengan buku pertamanya yang berjudul “Mentalitet Korea Jalan Ksatria” yang pertama kali terbit pada tahun 2024. Serta menjadi buku terlaris selama dua tahun secara berturut-turut versi penerbit Buku Mojok.
Buku kedua ini merupakan kelanjutan dari buku pertama yang belum digungkap oleh Bambang Wuryanto atau yang lebih akrab dan familiar dikenal oleh kalangan anak muda dengan panggilan Bambang Pacul tentang mentalitet korea.
Penerbit Buku Mojok dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa upaya kodifikasi pemikiran Bambang Pacul adalah menjadi bagian penting akan kelahiran sebuah ajaran “ke-korea-an” itu sendiri.
“Dalam konteks ini, “korea” atau “mentalitet korea” ala Bambang Pacul menunjukkan karakter yang sepadan. Ia bukan sekedar pemikiran lepas, melainkan telah berfungsi sebagai kerangka makna, pedoman sikap, tata nilai dan orientasi tindakan (panduan laku/praksis).” Ungkap penerbit dalam kata pengantarnya.
Penulis pikiran Bambang Pacul, Puthut EA dalam pengantarnya, memberikan batasan terhadap subtansi buku keduanya ini. Ia membatasi pada persoalan ilmu kehidupan, sekalipun sebagaimana dalam pernyataannya wawasan Komandan Korea ini sangat luas, meliputi manejemen perusahaan, politik internasional dan ekonomi.
Ada dua pertimbangan yang menjadi alasan untuk memberikan batasan isi atas bukunya ini. pertama, kesibukan Bambang Pacul selaku satu-satunya informan. Kedua, teman yang cenderung digandrungi anak muda tidak lebih adalah “ilmu kehidupan”, oleh karena itu Puthut EA merasa tidak yakin apabila tema-tema lain dicantumkan akan menarik perhatian.
Pada buku kedua ini, terdapat tujuh bab yang dicantumkan. Diantaranya adalah, Korea itu Seperti Pion, Korea Harus Berani Bermimpi, Tri Fokus dan Tri Mental Korea, Madukara dan Ilmu Ndolop, Disiplin Melayani Galah, Mentalitet Rotan dan Protokol Perang Kembang dan Melenting Kultural.
Dari seluruh tema yang dipaparkan merupakan konstruksi tambahan dari tema-tema yang telah diungkap pada buku sebelumnya. Dengan demikian buku kedua ini tidak lain adalah pelengkap dalam menggambarkan bangunan ilmu kehidupan dari perspektif Korea ala Bambang Pacul.
Ajaran Korea ala Bambang Pacul bisa dipadankan dalam tradisi Jawa dengan ajaran Ki Ageng Suryomentaram dan Sosrokartono. Oleh karena itu, maka dalam satu strata khusus sosok Bambang Pacul tidak hanya sekedar sebagai seorang ahli strategi, pemikir politik, perenung kehidupan tetapi juga sebagai seorang Filsuf Jawa, sebagaimana sebut penerbit Mojok.






