FRENSIA.ID– Hubungan antara pemimpin negara dan awak media selalu menjadi sorotan yang menarik untuk diperbincangkan di panggung politik global maupun nasional. Dinamika kebebasan berekspresi, kritik publik, dan kekuasaan sering kali berbenturan, menghasilkan pandangan yang berbeda-beda dari setiap tokoh politik. Baru-baru ini, publik disuguhkan dengan dua sikap yang sangat kontras dari dua tokoh besar dunia terkait pandangan mereka terhadap profesi jurnalis dan elemen masyarakat sipil lainnya.
Di satu sisi, ada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang melontarkan kritik sangat tajam kepada sebagian pekerja media dan lembaga swadaya masyarakat.
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menunjukkan sikap yang berbeda dengan memberikan apresiasi dan penghormatan kepada para wartawan, sebuah pemandangan yang cukup langka mengingat rekam jejak hubungannya dengan pers selama ini.
Pernyataan keras dari Presiden Prabowo Subianto mencuat saat ia menghadiri acara Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (23/7).
Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan para kader partai dan tokoh politik lainnya, Prabowo menyentil keras eksistensi pihak-pihak yang ia anggap sering merongrong pemerintahan. Ia bahkan menggunakan istilah historis yang sangat kuat, yakni “Londo Ireng”.
Dalam catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, istilah Londo Ireng atau Belanda Hitam merujuk pada sebutan bagi kaum pribumi yang dianggap berkhianat karena memilih untuk membantu, berpihak, atau bekerja sebagai kaki tangan penjajah Belanda. Istilah ini sarat dengan makna pengkhianatan terhadap bangsa sendiri. Menurut Prabowo, mentalitas dan wujud dari Londo Ireng ini belum musnah ditelan zaman, melainkan berevolusi dan hidup di tengah-tengah masyarakat modern dengan atribut yang berbeda.
Ia menuding bahwa peran tersebut kini kerap dimainkan oleh beberapa profesi yang seharusnya menjadi pilar demokrasi. Dengan nada yang sangat tegas dan penuh tanda tanya mengenai independensi mereka, Prabowo menyampaikan kritiknya secara terbuka di atas mimbar.
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” kata Prabowo dalam pidatonya.
Pernyataan ini jelas menunjukkan ketidakpercayaan dan kecurigaan yang mendalam terhadap motif finansial dan agenda di balik kritik yang kerap dilontarkan oleh pers maupun aktivis.
Sementara itu, di belahan dunia yang lain, sebuah pemandangan yang sangat bertolak belakang justru terjadi pada acara Asosiasi Koresponden Gedung Putih (WHCA). Berdasarkan laporan dari media terkemuka @FoxNews, 25/07.
Donald Trump menyampaikan sambutan penutupnya di hadapan para jurnalis dan tokoh media. Trump, yang selama masa kepresidenannya di masa lalu dikenal memiliki hubungan yang sangat panas dan penuh konflik dengan media arus utama, kali ini memilih pendekatan yang jauh lebih menghargai.
Ia berbicara langsung kepada para wartawan tentang dinamika hubungannya dengan media dan secara mengejutkan mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada para peserta yang hadir di ruangan tersebut. Trump mengakui adanya gesekan, namun ia tetap menempatkan penghormatan pada profesi jurnalistik.
“Saya sangat menghormati orang-orang di ruangan ini. Terkadang saya merasa kalian tidak memperlakukan saya secara adil. Atau mungkin kalian memang begitu. Saya tidak tahu, saya tidak merasakan itu. Tapi terkadang kalian memperlakukan saya dengan sangat adil dan saya sangat menghormati profesi kalian. Profesi kalian luar biasa. Dan saya hanya ingin berterima kasih karena telah mengundang saya,” kata Trump.
Lebih lanjut, ia mengaitkan hubungan dengan media tersebut dengan visi besar politiknya untuk memajukan Amerika Serikat.
“Saya melakukan ini karena satu alasan. Untuk membuat Amerika hebat lagi. Dan itulah yang sedang terjadi tepat di depan mata kalian. Kami telah membuat Amerika hebat lagi. Ini akan menjadi jauh lebih hebat lagi,” ujarnya.






