FRENSIA.ID– Homoseksualitas pesantren merupakan fenomena yang cukup mencoreng. Hal ini diteliti oleh Lily Hidayati, seorang akademisi dari Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang. Penelitian ini terbit dalam Jurnal Syamil tahun ini, 2026. Melalui riset yang komprehensif, Lily membedah faktor-faktor pemicu serta merumuskan langkah-langkah strategis bagi pengasuh dan pengurus pesantren dalam menangani isu yang kerap dianggap tabu ini.
Dalam temuan jurnal tersebut, dijelaskan bahwa munculnya perilaku homoseksual di lingkungan pesantren sering kali bersifat situasional. Kondisi ini umumnya dipicu oleh lingkungan yang tersegregasi berdasarkan gender secara ketat. Di asrama, para santri yang tengah berada pada masa pubertas hidup jauh dari keluarga dan minim interaksi dengan lawan jenis. Selain itu, kurangnya edukasi seksual yang komprehensif serta pengawasan asrama yang longgar kerap menjadi celah berkembangnya perilaku tersebut di kalangan remaja.
Namun, penelitian ini tidak sekadar memaparkan masalah, melainkan juga menghadirkan “cara jitu” berupa solusi preventif dan kuratif yang dapat diterapkan langsung oleh lembaga pendidikan Islam. Berikut adalah beberapa langkah utama yang direkomendasikan:
- Penguatan Edukasi Seksual Berbasis Fikih: Edukasi ini dinilai sangat penting agar santri memahami batasan-batasan pergaulan, perubahan hormon saat pubertas, dan kesehatan reproduksi secara benar menurut kacamata syariat. Isu ini tidak boleh lagi sekadar dijadikan hal yang dihindari untuk dibicarakan.
- Pengetatan Manajemen Asrama: Riset ini merekomendasikan perlunya regulasi yang jelas dan tegas terkait tata cara tidur, pembagian kamar, dan aktivitas santri di luar jam pelajaran. Pengurus dituntut untuk lebih peka terhadap dinamika santri, termasuk menghindari penempatan santri senior dan junior dalam satu kamar tanpa pengawasan ketat.
- Pendekatan Konseling yang Humanis: Lily menekankan bahwa pendekatan hukuman fisik atau sanksi sosial yang mempermalukan (shaming) justru tidak efektif dan berdampak buruk bagi psikologis santri. Sebaliknya, pesantren perlu menyediakan layanan Bimbingan Konseling (BK) yang empatik. Santri memerlukan ruang aman untuk berdiskusi dan mendapatkan pendampingan psikologis tanpa merasa dihakimi.
Secara keseluruhan, riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Syamil ini memberikan pencerahan baru bagi dunia pendidikan Islam. Pesantren diharapkan tidak lagi sekadar menutup mata terhadap isu ini, melainkan meresponsnya dengan langkah edukatif dan pembinaan yang mengedepankan kasih sayang.
Dengan kolaborasi yang baik antara kiai, ustaz, dan orang tua, lingkungan pesantren yang aman dan kondusif bagi perkembangan psikologis anak dapat terus dipertahankan.







