Frensia.id – Pria berinisial H (34), warga Dusun Krajan, RT 02/RW 05, Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, Jember, ditemukan tewas oleh anaknya yang berusia 7 tahun, dalam kondisi tergantung di kamar, pada Minggu (30/8/2026) sore hari.
Merespon kabar tersebut, Kapolsek Sukorambi AKP Sudarsono menjelaskan bahwa korban ditemukan di kamar depan rumah, dengan posisi pintu terkunci dari dalam.
Anak korban mengetahui ayahnya dalam kondisi tergantung saat dirinya melihat ke arah jendela kamar.
“Anak perempuannya mengetahui almarhum berada di kamar sendirian dan pintunya terkunci dari dalam. Anak itu kemudian berteriak memanggil pamannya dan warga sekitar setelah mengintip korban dari kaca jendela rumah,” kata Sudarsono, pada Senin (31/8/2026).
Saat anak tersebut berteriak meminta pertolongan, warga sekitar langsung menghampiri rumah korban.
Setelah mengetahui kondisi tergantung, warga kemudian mendobrak pintu kamar rumah tersebut untuk segera menurunkan korban.
“Setelah mengetahui korban dalam kondisi tergantung, warga kemudian mendobrak pintu kamar yang terkunci dari dalam. Korban selanjutnya diturunkan dan diletakkan di lantai,” kata dia.
Menurut kepolisian, saat dilakukan pemeriksaan, pihaknya menemukan korban tergantung menggunakan tali rafia berwarna putih, yang terikat pada bagian reng atap rumah.
Meskipun dalam pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Namun, pihak kepolisan mendapati bekas jeratan tali rafia pada leher korban.
“Tidak sakit. Korban memang sehat-sehat dan masih bekerja, pekerjaannya serabutan atau freelance,” ucapnya.
Mengetahui insiden tersebut, tetangga korban, berinisial YL (50), merasa terkejut karena sebelum meninggal, korban masih sempat memesan air galon saat di hari Minggu (30/8/2026) pagi.
“Paginnya masih biasa saja, masih ngobrol dan pesan air galon. Tidak ada yang melihat ada tanda-tanda aneh,” tuturnya.
Lebih lanjut, YL berkata bahwa istri korban tidak sedang berada di rumah saat korban ditemukan meninggal.
“Saat kejadian, istrinya sedang di luar rumah. Katanya sedang bersiap untuk melihat karnaval di desa,” ucapnya.
Diketahui korban merupakan pekerja bangunan dan sempat merantau ke luar daerah, setelah itu kembali bersama keluarganya.
Namun, kata YL, korban dikenal sebagai sosok yang cenderung tidak mau berbaur dengan warga setempat.
Sementara itu, sejumlah warga ada juga yang menyebut, bahwa hubungan rumah tangga korban belakangan terdengar mengalami masalah.
“Kalau masalah rumah tangga memang ada kabar seperti itu, tetapi saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, sebelumnya korban masih biasa beraktivitas dan berkomunikasi dengan warga,” tegasnya. (***)







