FRENSIA.ID – Prinsip demokrasi terus dijunjung tinggi di lingkungan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Demi menegakkan prinsip keterbukaan dalam penyelenggaraan perguruan tinggi, perwakilan mahasiswa secara khusus diundang untuk menghadiri agenda krusial: pemaparan visi dan misi para calon Rektor UIN KHAS Jember, (19/10).
Tak hanya hadir sebagai penonton, para mahasiswa mengambil langkah proaktif. Pasca-acara, mereka menyatakan kesiapannya untuk memberikan masukan serta pertimbangan resmi kepada Menteri terkait rekam jejak, kelayakan figur, hingga kualitas gagasan dari masing-masing calon.
Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KHAS Jember, Bahrul Umum, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UIN KHAS, Prof. Sahiron, atas langkah inklusif tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Plt. Rektor, Prof. Sahiron. Terima kasih telah menegakkan prinsip demokrasi di kampus kami,” tegas Bahrul.
Bahrul membeberkan, keterlibatan mahasiswa tidak berhenti hanya di ruang pemaparan. Seluruh perwakilan mahasiswa yang hadir langsung bergerak melakukan kajian mendalam terhadap gagasan yang ditawarkan para kandidat.
“Kita kumpul, dan mengkaji visi misi para calon,” ujarnya.
Dari hasil diskusi tersebut, DEMA UIN KHAS menyusun kerangka penilaian terhadap para figur, bahkan melakukan pemeringkatan kelayakan visi misi. Indikator utamanya adalah relevansi program kerja dengan realitas kebutuhan kampus dan solusi atas permasalahan riil yang dihadapi mahasiswa saat ini.
“Hasil kajian dan bahkan nama calon dengan visi misi yang layak serta progresif dari perspektif mahasiswa akan kami kirimkan kepada menteri,” tambahnya optimis.
Langkah taktis mahasiswa ini mendapat dukungan penuh dari kalangan akademisi kampus. Dr. H. Fauzan S.Pd., M.Si, selaku Dosen Pembina DEMA UIN KHAS, turut bersyukur atas pelibatan mahasiswa dalam momen penting transisi kepemimpinan kampus ini.
“Terus terang, saya sepakat jika mahasiswa juga dapat mendengarkan visi dan misi calon rektornya,” ungkap Dr. Fauzan.
Ia menggarisbawahi bahwa secara regulasi administratif, mahasiswa memang tidak memiliki hak suara dalam pemilihan. Namun, pelibatan mereka merupakan wujud nyata dari asas keterbukaan dan marwah keilmiahan sebuah perguruan tinggi yang sangat sehat.
“Walaupun tidak punya hak suara, ada aspek moralitas yang perlu diperhatikan,” imbuhnya.
Menurut Dr. Fauzan, Rektor UIN KHAS Jember yang terpilih nantinya tidak hanya mengabdi untuk menteri atau jajaran pejabat rektorat semata. Mahasiswa adalah user utama yang akan merasakan langsung dampak dari arah kebijakan sang pemimpin baru.
“Rektor yang terpilih itu, juga rektor bagi mahasiswa,” tutupnya






