Frensia.id – Adanya Program UHC (Universal Health Coverage) Prioritas bagi warga Kabupaten Jember ternyata tidak hanya datang dari kebijakan politis, melainkan muncul dari amanat besar dari sosok ibu kepala daerah.
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan Bupati Jember, Muhammad Fawait, saat acara peresmian layanan homecare di Puskesmas Sumberbaru, pada Jum’at (24/7/2026).
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu bercerita bahwa dulu sewaktu kecil dirinya hidup di sebuah desa pelosok yang jumlah penduduknya banyak terkendala biaya berobat ke rumah sakit.
“Saya banyak melihat pengalaman itu di waktu kecil,” tuturnya.
Dia menyampaikan pesan dari mendiang ayahnya yang menitipkan rasa belas kasih terhadap warga miskin.
“Almarhum abah saya selalu bilang kepada kami, adik saya bersama kakak. Beliau bilang: titip rakyat tidak mampu, masyarakat miskin,” kata dia.
Menurutnya, pesan itu ternyata sesuai dengan misi Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto.
“Beliau selalu berbicara terkait masalah kemiskinan-kemiskinan hak warga tidak mampu,” kata dia.
Dia mengatakan bahwa dirinya rela memutuskan untuk melepaskan jabatan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur ketiga kalinya sebelum dilantik, dan kemudian maju menconkan diri sebagai bupati demi mensejahterakan masyarakat miskin.
“Kemiskinan di Jember hari ini saudara-saudara sudah berefek ke banyak hal, termasuk kepada sektor kesehatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Fawait menyampaikan pesan ibunya ketika dirinya sudah resmi menjabat sebagai bupati.
“Umi saya bilang kalau ada ibu hamil melahirkan tidak di tempatnya dan sampai kenapa-kenapa yang bersalah yang dosa adalah bupatinya,” tuturnya.
Pesan itu kemudian membawanya hingga mengelurkan kebijakan berupa program UHC Prioritas bagi Warga Jember pada 1 April 2025.
“Dengan segala kondisi, kami bisa membayari BPJS masyarakat Kabupaten Jember, sehingga dalam waktu 1 bulan semenjak dilantik menjadi Bupati Jember,” ucapnya.
Meskipun demikian, kata dia kini setelah berjalannya program UHC Prioritas tersebut, Pemkab Jember kemudian mengevaluasinya, ternyata ada masyarakat yang tetap tidak bisa berangkat ke rumah sakit.
“Maka dari situlah kami berpikir. Muncullah ide untuk mengadakan program homecare,” tegasnya.






