Genghis Khan, Sosok Buta Huruf tetapi Dipuja Bak Dewa, Apa Aset Kepemimpinannya?

Sunday, 16 June 2024 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi wajah Genghis Khan (Sumber: Pixabay)

Ilustrasi wajah Genghis Khan (Sumber: Pixabay)

Hari-hari ini apabila kita mendapati seorang pemimpin yang berwibawa dan namanya sampai menembus panggung internasional, pasti adalah dari kategori mereka yang cerdas dan terampil.

Hal tersebut mesti ditunjang dengan literasi yang kuat. Sebab orang cerdas lebih-lebih terampil memanifestasikan pikirannya, identik dengan kegemarannya membaca buku.

Sosok Bung Karno, yang namanya tidak sekedar menggelegar di tanah kelahirannya, tetapi juga bergema di perhelatan politik dunia kala itu. Sebagai sosok pemimpin berpengaruh dengan retorikanya yang sarat muatan-muatan ideologis, jelas ditunjang dengan konsumsi bacaan yang tidak minimalis.

Menurut sejarawan Bonni Triyana, bapak Proklamator Indonesia tersebut membaca buku-buku dari penulis mancanegara dengan menggunakan bahasa aslinya.

Jadi presiden pertama Indonesia tersebut, menguasai beragam bahasa, tidak sekedar bahasa Indonesia saja. Salah satu diantara buku favorit yang ia baca dalam bahasa Jerman adalah  Der Weg Zur Macht (Jalan Menuju Kekuasaan) karya seorang tokoh kiri Jerman, Karl Kautsky yang ditulis dalam font Gothic Jerman.   

Selain itu adapula dalam bahasa Belanda yaitu Geschiedenis van het Moderne Imperialisme yang ditulis Jan Steffen Bartstra dan ia membacanya di dalam pengasingan.

Tidak jadinya, apabila gagasan-gagasan yang ia sampaikan dalam pidato atau tulisan-tulisannya sangat berbobot juga menjadi alat analisis dalam mempertimbangkan sebuah persoalan di tengah-tengah kepemimpinannya.

Apakah kecerdasan dan kemampuan memimpin senantiasa berasal dari buku bacaan? Sosok Gengis Khan, pimpinan bangsa Mongol yang paling dielu-elukan memberikan jawaban tidak.

Baca Juga :  Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok

Pasalnya sosok yang dikenal kejam dalam sejarah hingga hari ini adalah seorang buta huruf. Akan tetapi ketidakmampuannya mengakses aksara ini justru berkebalikan dengan seluruh prestasi yang ia capai dalam kepemimpinannya, saat ia masih hidup atau setelah meninggal.

Kekuasaan bangsa Mongol, yang ia dirikan, mencapai 24 juta KM2 membentang dari benua Asia dan sebagian Eropa. Hegemoni kuat yang ia berikan kepada rakyatnya sangat membekas, hingga dirinya tampil setelah kematiannya, seolah-olah sebagai seorang dewa.

Jika sosok berpengaruh yang hidupnya dari balik tenda dan tidak bica membaca tulisan, maka aset kepemimpinan apa sebenarnya yang ia rawat dan wujudkan dalam membina kekuasaannya? Inilah persoalan menarik yang bisa dibandingkan dengan beberapa sosok pemimpin yang gagal berkuasa akan tetapi menyandang gelar akedemisi.

John Man, seorang sejarawan kelahiran Inggris yang mempunyai minat khusul meneliti bangsa China dan Mongol, dalam bukunya yang berjudul The Leadership Secrets of Genghis Khan membuat sebuah kesimpulan menarik mengenai karakter kepemimpinan Khan Agung Mongol tersebut.

Menurutnya, karakter yang ia tampilkan dalam memimpin merupakan sebuah kebalikan dari prinsip umum yang digunakan manusia, dimana seseorang mendapatkan promosi karena kemampuannya dan tidak lagi dipromosikan setelah dirinya diketahui tidak mampu.

Baca Juga :  Puting Beliung Terjang Purwoharjo Banyuwangi, 12 Rumah Rusak dan Pohon Tumbang Timpa Bangunan

Bagi Genghis Khan tidak demikian, setiap kali ia naik jenjang, makai ia akan mendapatkan kemampuan baru. Kemampuan utama inilah berpadu dengan kemampuan lain. Ia mengajukan pertanyaan baru, memikirkan jalan keluar dan terus melangkah maju.

Perbedaan tersebut sangat kentara, bahwa seorang Genghis Khan akan berupaya mengatasi ketidakmampuannya terhadap hal baru, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi dengan berbagai cara tanpa kenal lelah dan putus asa.

Ia selalu mempunyai keyakinan pada dirinya, bukan dirinya mampu tetapi harus mampu. Sehingga setiap jenjang akan digunakan untuk mengasah kemampuan baru, bukan lagi menggunakan kemampuan lama untuk tingkatan tersebut.

Karakter demikian, berpadu dengan situasi yang saling bertentangan serta kebaruan yang dialaminya. Ia hidup ditengah padang rumput Persekutuan yang berubah-ubah yang penuh bahaya.

Dimana kepercayaan dan pengkhianatan mempunyai nilai yang sama-sama penting, oleh karena itu ia harus mampu menggunakannya pada proporsi dan waktu yang tepat. Kapan waktunya mendapatkan kepercayaan atau kapan waktunya membenarkan pengkhianatan.

Dia akan berusaha mengetahui, strategi mana yang harus digunakan ketika dia membutuhkannya. Seorang Genghis Khan tidak akan berusaha untuk menjadi koheren, dia akan senantiasa hidup dengan berbagai kontradiksinya.

Sehingga ia mempunyai kecakapan social yang bagus dan rasa moral yang tinggi sekaligus fleksibel, bertautan dengan kepentingan yang ia jalani.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Akademisi Hukum UIN KHAS Sebut Program Homecare Pemkab Jember Mudahkan Akses Kesehatan Warga Kurang Mampu
Polije Gaet Kampus Korsel Gelar WFK-ICT 2026, Libatkan 10 Politeknik
KKN Posko 61 Lakukan Penyuluhan Pencegahan Pernikahan Dini di Kupang Curahdami Bondowoso
Tim URC Satreskrim Polresta Banyuwangi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster senilai ratusan juta
Siswi SLB Negeri Jember Raih Juara Nasional, Ortu Berharap Pemkab Beri Apresiasi
Luapan Sungai Gerus Plengsengan di Sempu Banyuwangi, Nyaris Hantam Bangunan Warga
Puting Beliung Terjang Purwoharjo Banyuwangi, 12 Rumah Rusak dan Pohon Tumbang Timpa Bangunan
Keren Mahasiswa S3 di Jember Kembangkan AI Pendeteksi Kematangan Durian

Baca Lainnya

Tuesday, 4 August 2026 - 23:40 WIB

Akademisi Hukum UIN KHAS Sebut Program Homecare Pemkab Jember Mudahkan Akses Kesehatan Warga Kurang Mampu

Monday, 3 August 2026 - 19:15 WIB

Polije Gaet Kampus Korsel Gelar WFK-ICT 2026, Libatkan 10 Politeknik

Thursday, 30 July 2026 - 17:19 WIB

KKN Posko 61 Lakukan Penyuluhan Pencegahan Pernikahan Dini di Kupang Curahdami Bondowoso

Thursday, 30 July 2026 - 14:28 WIB

Tim URC Satreskrim Polresta Banyuwangi Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster senilai ratusan juta

Tuesday, 28 July 2026 - 18:15 WIB

Siswi SLB Negeri Jember Raih Juara Nasional, Ortu Berharap Pemkab Beri Apresiasi

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading