FRENSIA.ID — Dan bernapaslah! Sepak bola kembali membuktikan diri sebagai panggung drama paling mendebarkan di muka bumi. Dalam sebuah pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia yang akan dikenang sepanjang masa, Inggris berhasil menumbangkan Prancis dengan skor hoki yang tak masuk akal, 6-4.
Laga yang berlangsung di Stadion Miami ini bukan sekadar pelipur lara bagi kedua tim yang patah hati di semifinal, melainkan sebuah pertunjukan epik yang mengakhiri era Didier Deschamps dengan senyuman pahit, sekaligus mengukuhkan posisi terbaik The Three Lions sejak kejayaan mereka di tahun 1966. Meski Kylian Mbappe tampil bak kesetanan dengan kontribusi krusial layaknya sebuah “hattrick”—mencetak dua gol luar biasa dan satu umpan berkelas—Prancis tetap harus menelan pil pahit dipermalukan oleh skuad asuhan Thomas Tuchel.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Inggris langsung mengambil alih kendali permainan dengan intensitas yang mengejutkan. Garis pertahanan tinggi yang diterapkan Prancis menjadi makanan empuk bagi lini serang Inggris yang dimotori oleh pemain-pemain berkecepatan tinggi.
Bencana bagi Les Bleus sudah dimulai pada menit ketiga ketika Declan Rice, sang kapten pengganti, memanfaatkan kesalahan umpan Desire Doue. Rice melepaskan tembakan melengkung mematikan dari luar kotak penalti yang sukses merobek sudut kanan gawang Mike Maignan.
Keunggulan ini kemudian digandakan pada menit ke-18 melalui sundulan Ezri Konsa yang dengan sempurna memanfaatkan sepak pojok brilian dari Rice.
Penderitaan Prancis di babak pertama ternyata belum berakhir. Kombinasi mematikan antara Marcus Rashford dan Bukayo Saka benar-benar mengobrak-abrik sisi pertahanan skuad Deschamps.
Pada menit ke-37, Rashford memberikan umpan matang yang diselesaikan dengan dingin oleh Saka. Tak cukup sampai di situ, tepat sebelum turun minum di masa tambahan waktu (45+1′), Saka kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat tembakan akurat ke sudut gawang, membuat Inggris unggul telak 4-0.
Superkomputer Opta mencatat, peluang Prancis untuk membalikkan keadaan saat itu hanya tersisa 0,7 persen. Ini adalah kali pertama dalam sejarah Prancis kebobolan empat gol di babak pertama Piala Dunia.
Namun, mental juara Prancis menolak untuk menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Memasuki babak kedua, Deschamps melakukan empat pergantian krusial sekaligus, dan efeknya langsung terasa. Kylian Mbappe mengambil alih panggung dan menunjukkan magisnya.
Pada menit ke-48, umpan akurat Michael Olise diselesaikan dengan sempurna oleh Mbappe untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 4-1. Sang kapten kemudian bertransformasi menjadi kreator handal pada menit ke-54, mengirimkan umpan terobosan cerdas yang dieksekusi dengan kecepatan penuh oleh Bradley Barcola.
Momentum sepenuhnya seakan berbalik ketika Mbappe kembali mencetak gol pada menit ke-66, lagi-lagi berkat kerja samanya yang luar biasa dengan Olise.
Gol ini tidak hanya mengubah skor menjadi 4-3 dan membuat seluruh pendukung Inggris menahan napas kebingungan, tetapi juga menahbiskan Mbappe sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam sejarah Piala Dunia dengan koleksi 22 gol.
Penampilannya malam itu—mengemas dua gol dan satu assist yang menginspirasi kebangkitan timnya—adalah sumbangsih absolut bernilai hattrick. Ia bertarung sendirian untuk mengangkat derajat timnya dari ambang kehancuran.
Ketika ketegangan mencapai titik didih dan Prancis terus menekan demi gol penyeimbang yang sensasional, drama berlanjut ke titik putih. Pelanggaran fatal Malo Gusto terhadap Djed Spence di area terlarang pada menit ke-87 berbuah penalti mutlak.
Bukayo Saka maju sebagai eksekutor dan sukses mencetak gol untuk mengamankan hat-trick sungguhan di laga ini, membawa Inggris kembali menjauh 5-3. Ousmane Dembele sempat memberikan secercah asa lewat gol tembakan kaki kirinya di masa injury time (90+6′), mengubah skor menjadi 5-4.
Namun, Jude Bellingham mematikan perlawanan Prancis pada menit ke-90+8 lewat aksi penyelesaian tenang untuk mengunci skor menjadi 6-4.
Pertandingan gila ini adalah klimaks yang sempurna. Bagi Thomas Tuchel, kemenangan ini adalah penebusan atas kritik taktik di semifinal, sekaligus pembuktian efektivitas serangan baliknya.
Sementara bagi Prancis dan Deschamps, ini adalah perpisahan emosional yang menyisakan trauma. Mbappe boleh saja bersinar terang dan merengkuh rekor individu yang fantastis dengan performa sekelas hattrick, tetapi pada akhirnya, Inggrislah yang sukses memaksa Les Bleus bertekuk lutut dalam laga paling bersejarah ini.






